Ancaman Iran untuk menghentikan ekspor minyak dan gas melalui Selat Hormuz memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi internasional. Pernyataan itu muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyerang pusat komando operasi khusus Amerika Serikat di pangkalan al-Tanf, Suriah.
IRGC menyatakan Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz selama serangan baru Amerika Serikat ke wilayah Iran masih berlangsung. Jalur laut tersebut merupakan rute strategis bagi distribusi energi dunia, sehingga gangguan di kawasan itu dapat memengaruhi arus ekspor minyak dan gas.
Menurut pernyataan Garda Revolusi Iran yang dikutip Al Jazeera, “Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak ada minyak atau gas yang akan diekspor melalui jalur air tersebut selama serangan baru AS terus berlanjut.” Pernyataan itu disampaikan di tengah rangkaian operasi udara militer AS yang dilaporkan menyasar wilayah Iran.
Serangan Menjangkau Sejumlah Negara
Serangan Iran tidak hanya diarahkan ke pangkalan al-Tanf di Suriah. Angkatan Bersenjata Iran juga melancarkan serangan terhadap markas militer AS di Kuwait dan Bahrain, yang mendorong negara-negara Teluk meningkatkan kesiagaan pertahanan udara.
| Wilayah | Sasaran atau Insiden | Informasi yang Dilaporkan |
|---|---|---|
| Suriah | Pangkalan al-Tanf | Pusat komando operasi khusus AS menjadi sasaran IRGC |
| Kuwait dan Bahrain | Markas militer AS | Menjadi sasaran rentetan serangan Iran |
| Yordania | Rudal menuju wilayah negara itu | Pertahanan udara menjatuhkan tiga rudal Iran |
Di Yordania, militer menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil merontokkan tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayah negara tersebut. Korps Teknik Kerajaan Yordania kemudian dikerahkan untuk menangani serpihan rudal yang jatuh di lapangan.
Angkatan darat Yordania memastikan tidak ada korban jiwa di kalangan warga akibat insiden tersebut. Namun, jatuhnya serpihan rudal memperlihatkan bahwa dampak ketegangan telah menjalar ke negara-negara di sekitar arena konflik.
Kementerian Dalam Negeri Qatar juga melaporkan seorang anak terluka akibat serpihan puing yang jatuh. Insiden itu terjadi saat pasukan Qatar mencegat beberapa serangan udara dari Iran.
Balasan atas Kematian Tentara Iran
Serangan terhadap al-Tanf disebut dipicu oleh kematian sejumlah tentara Iran di Iranshahr. Suara.com melaporkan serangan balasan itu memperlihatkan eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat yang tidak lagi terbatas pada satu lokasi.
Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menuntaskan serangan malam keenam secara berturut-turut ke wilayah Iran. Operasi tersebut dilaporkan menimbulkan korban sipil di Iran.
Kantor berita Fars melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan AS di jembatan Bandar-e Khamir, Provinsi Hormozgan, meningkat menjadi tujuh orang. Laporan korban itu menambah tekanan terhadap situasi yang berkembang menjadi aksi saling balas lintas wilayah.
Tekanan Politik Menyertai Eskalasi
Ketegangan militer turut diikuti dinamika politik di Amerika Serikat mengenai negosiasi dengan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance membantah tuduhan bahwa Jared Kushner dan Steve Witkoff berupaya memperoleh keuntungan finansial dari peran mereka dalam negosiasi tersebut.
Perkembangan di Suriah, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania menunjukkan luasnya jangkauan risiko konflik saat ini. Nasib ekspor energi melalui Selat Hormuz akan menjadi salah satu perkembangan penting yang menentukan dampak lanjutan ketegangan regional.
