70 Juta Barel Melaju ke Asia, Kelonggaran AS yang Cepat Berakhir

Iran dilaporkan mengirim sekitar 70 juta barel minyak mentah ke pasar Asia ketika kelonggaran sanksi Amerika Serikat masih terbuka. Nilai pengiriman besar itu diperkirakan mencapai US$5 miliar hingga US$6 miliar dalam periode yang terbatas.

Skala ekspor tersebut memperlihatkan seberapa besar ruang yang dapat dimanfaatkan Teheran saat pembatasan terhadap sektor minyaknya dilonggarkan. Namun, ruang itu kembali menyempit setelah Departemen Keuangan AS mencabut lisensi umum lebih awal.

Nilai Pengiriman Menembus Rp108,2 Triliun

Dengan kurs tengah Rp18.041 per US$1 pada 17 Juli, nilai ekspor itu setara sekitar Rp90,2 triliun sampai Rp108,2 triliun. Rentang tersebut menunjukkan besarnya nilai minyak yang dapat dikirim Iran selama kebijakan kelonggaran masih berlaku.

Perkiraan Nilai EksporNilai Setara RupiahKurs Acuan
US$5 miliarSekitar Rp90,2 triliunRp18.041 per US$1
US$6 miliarSekitar Rp108,2 triliunRp18.041 per US$1

Asia menjadi tujuan utama bagi pengiriman minyak tersebut. Arah pelayaran ini menempatkan kawasan Asia sebagai pasar penting bagi ekspor minyak Iran selama masa kelonggaran berlangsung.

The Wall Street Journal yang dikutip Fars News melaporkan sekitar 20 kapal tanker Iran berlayar menuju Asia. MediaIndonesia.com menyebut pelayaran itu berlangsung dari pertengahan Juni hingga pertengahan Juli.

Lisensi Dibuka, Lalu Dicabut Sebelum Tenggat

Pemerintah AS menerbitkan lisensi umum pada 22 Juni yang mengizinkan produksi, pasokan, serta penjualan minyak dan produk minyak Iran. Kebijakan ini menjadi dasar bagi pengiriman minyak yang berlangsung di tengah periode kelonggaran sanksi.

Pada awalnya, lisensi tersebut direncanakan berlaku hingga 21 Agustus. Departemen Keuangan AS kemudian mencabut izin itu pada 7 Juli, lebih cepat dari jadwal semula.

Pencabutan tersebut mengakhiri kelonggaran yang sempat membuka akses lebih luas bagi perdagangan minyak Iran. Perubahan kebijakan itu juga mengembalikan sektor minyak Iran ke dalam pembatasan yang lebih ketat.

Keberatan dari Teheran

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keputusan Washington untuk mencabut kelonggaran sanksi terhadap ekspor minyaknya. Teheran menilai langkah itu melanggar nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding yang disebut telah disepakati kedua negara.

Iran juga menyatakan AS akan memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari pelanggaran kesepakatan tersebut. Pernyataan itu menegaskan penolakan Teheran terhadap perubahan kebijakan sebelum masa lisensi berakhir.

Pengiriman 70 juta barel minyak menjadi gambaran dampak nyata dari jeda kebijakan tersebut. Dalam waktu singkat, Iran disebut mampu mengalirkan minyak dalam volume besar ke pasar Asia sebelum izin umum dicabut.

Rangkaian penerbitan lisensi, pelayaran tanker, dan pencabutannya terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Situasi ini menempatkan ekspor minyak sebagai salah satu titik penting dalam hubungan Iran dan AS selama masa gencatan senjata singkat.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait