Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tetap siap menghadapi semua skenario meski sudah menyepakati naskah memorandum dengan Amerika Serikat. Sikap waspada itu disampaikan saat kedua negara bersiap menandatangani dokumen tersebut secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Pezeshkian, kesepakatan itu memang menjadi langkah penting untuk meredakan ketegangan, tetapi belum menutup seluruh proses pembahasan. Iran masih memandang tahap berikutnya sebagai ruang negosiasi lanjutan yang bisa menentukan arah hubungan Teheran dan Washington.
Masih Ada Jalan Panjang Setelah Memorandum Disusun
Iran dan AS telah mengonfirmasi bahwa naskah memorandum rampung pada Senin malam, 15 Juni 2026. Dokumen itu disebut sebagai fondasi awal untuk menghentikan konflik, namun belum menjadi kesepakatan final yang menyelesaikan semua isu.
Dalam tahap berikutnya, program nuklir Iran akan menjadi salah satu pembahasan utama. Selain itu, sanksi Amerika Serikat terhadap Iran juga masih masuk dalam daftar persoalan yang harus dibicarakan lebih jauh.
Pezeshkian menilai memorandum tersebut lebih tepat dipahami sebagai pintu masuk menuju dialog yang lebih luas. Karena itu, pemerintah Iran memilih tetap menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan selama proses diplomatik masih berjalan.
Kesiapan Teheran Tidak Bergantung pada Hasil Akhir
Pezeshkian menekankan bahwa pelayanan kepada masyarakat dan stabilitas negara tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari apakah kesepakatan akhir tercapai atau tidak. Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif agar roda pemerintahan tetap berjalan jika situasi berubah.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak menaruh seluruh harapan pada hasil perundingan dengan AS. Di saat yang sama, Teheran ingin mempertahankan ruang manuver agar tetap siap menghadapi dinamika yang mungkin muncul setelah penandatanganan dilakukan.
Pezeshkian juga menyebut kesiapan menghadapi semua opsi sebagai bagian dari tanggung jawab negara. Dengan pendekatan itu, kebutuhan rakyat tetap dipenuhi tanpa menunggu kepastian penuh dari proses negosiasi.
Peran Khamenei dalam Arah Kesepakatan
Dalam pernyataannya, Pezeshkian turut menyoroti peran Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam penyusunan memorandum dengan Amerika Serikat. Ia menyebut arahan Khamenei menjadi faktor penting yang membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan awal.
Presiden Iran itu mengatakan sejumlah klausul dalam memorandum dirancang untuk melindungi kepentingan nasional Iran pada setiap tahap kesepakatan. Ia juga menyampaikan terima kasih atas peran kepemimpinan tertinggi dalam proses tersebut.
“Komando Pemimpin Tertinggi yang terhormat memiliki peran terbesar dalam memasukkan klausul untuk melindungi kepentingan nasional Iran dan kami berterima kasih kepadanya,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa diplomasi Iran dengan Washington tetap berada dalam kerangka kebijakan strategis negara. Dengan demikian, kesepakatan awal tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti garis besar kepentingan nasional yang lebih luas.
Menuju Penandatanganan di Swiss
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyampaikan bahwa memorandum antara Washington dan Teheran pada dasarnya sudah mencapai tahap final dan siap diberlakukan. Meski begitu, Iran tetap menegaskan bahwa kesiapan menghadapi semua skenario tetap diperlukan sampai seluruh proses benar-benar tuntas.
Berdasarkan informasi dari pihak Iran, isi memorandum mencakup penghentian aksi militer di seluruh lini yang terkait konflik, termasuk situasi yang berkembang di Lebanon. Kesepakatan itu dipandang sebagai langkah awal untuk menciptakan stabilitas yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dengan penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss, perhatian kini tertuju pada bagaimana kedua negara mengelola fase lanjutan setelah dokumen resmi diteken. Iran sendiri memberi sinyal jelas bahwa sikap hati-hati akan tetap dipertahankan selama negosiasi belum benar-benar selesai.
