IRGC Sebut Kebakaran di Pangkalan AS di Kuwait, Serangan Balasan Masuk Gelombang Ke-12

Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan gelombang serangan balasan ke-12 telah memicu kebakaran hebat di dalam pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Operasi itu disebut dilancarkan Pasukan Dirgantara IRGC pada Jumat, 17 Juli 2026.

Klaim tersebut memperluas jangkauan konflik ke Kuwait, negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Namun, IRGC belum merinci tingkat kerusakan maupun dampak kebakaran terhadap fasilitas yang mereka sebut sebagai sasaran.

Aset pertahanan dan persenjataan disebut menjadi target

Menurut pernyataan IRGC, operasi itu menyasar fasilitas yang dianggap penting bagi kemampuan militer AS. Kantor berita semi-resmi Mehr turut melaporkan daftar sasaran yang disebut oleh pihak Iran.

Sasaran yang disebut IRGCRincian
Radar pertahanan rudalFasilitas deteksi dan identifikasi
Depot senjataLokasi penyimpanan persenjataan
Sistem HIMARSDua peluncur roket artileri mobilitas tinggi beserta rudalnya

Radar deteksi dan identifikasi pertahanan rudal masuk dalam daftar target yang diumumkan IRGC. Depot senjata juga disebut menjadi sasaran dalam gelombang serangan terbaru itu.

Selain itu, IRGC menyebut dua sistem HIMARS beserta rudal di dalamnya turut menjadi target. Pernyataan tersebut tidak memuat keterangan terperinci mengenai kondisi setiap aset setelah serangan.

Serangan terjadi setelah operasi AS selama enam malam

Pengumuman dari Iran muncul sehari setelah Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan baru. Centcom menyampaikan operasi ofensif terhadap aset-aset militer Iran itu berlangsung selama enam malam berturut-turut.

Rangkaian operasi dari kedua pihak menunjukkan eskalasi berlangsung melampaui satu lokasi dan satu jenis sasaran. Iran serta AS sama-sama mengaitkan tindakan militer mereka dengan serangan yang lebih dahulu dilakukan pihak lawan.

Klaim kebakaran di pangkalan militer AS di Kuwait menambah tekanan terhadap keamanan kawasan Selat Hormuz. Ketegangan itu kembali menguat meski Iran dan AS disebut sempat menandatangani nota kesepahaman damai pada bulan sebelumnya.

Teheran kaitkan operasi dengan keberadaan aset AS di Teluk

Iran memandang serangan ke Kuwait sebagai bagian dari kampanye terhadap negara-negara Teluk yang menampung serta memfasilitasi aset militer Amerika Serikat. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai Teheran sebagai bagian dari tekanan Washington di kawasan.

IRGC menegaskan operasi terbaru merupakan respons langsung terhadap serangan berulang oleh militer AS. Pihak Iran menuding serangan-serangan tersebut menyasar fasilitas sipil dan infrastruktur telekomunikasi.

Tuduhan Iran juga mencakup pekerja kereta api serta kendaraan sipil yang disebut terdampak serangan AS. Meski demikian, pernyataan yang tersedia tidak menguraikan jumlah korban ataupun lokasi spesifik dari sasaran sipil itu.

Eskalasi berlanjut sejak serangan Februari

Konflik Iran-AS disebut berakar sejak Februari, ketika AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan berskala besar ke Iran. Sejak saat itu, Teheran terus membalas dengan mengirim rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi markas pasukan AS.

Serangan gelombang ke-12 menempatkan Kuwait dalam rangkaian konflik yang sebelumnya telah menjalar ke sejumlah negara Teluk. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons atas klaim IRGC mengenai kebakaran serta sasaran di instalasi militer tersebut.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait