Kabar kematian Izz al-Din al-Haddad langsung menjadi sorotan karena sosok itu disebut Hamas sebagai panglima tertinggi Brigade Izz ad-Din al-Qassam. Serangan Israel yang terjadi pada Jumat malam itu bukan hanya menewaskan al-Haddad, tetapi juga disebut merenggut nyawa istri dan putrinya.
Hamas kemudian mengonfirmasi kematian al-Haddad melalui pernyataan resmi pada Sabtu. Konfirmasi itu memperkuat laporan awal yang lebih dulu beredar dari sumber-sumber lokal, sementara tentara Israel juga sebelumnya mengklaim telah membunuhnya dalam serangan di Kota Gaza.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyampaikan duka atas kematian al-Haddad dalam pernyataan yang direkam. Ia menyebut al-Haddad sebagai salah satu pejuang terbesar rakyat Palestina dan panglima tertinggi Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas.
Dalam pernyataan yang sama, Hamas menggunakan nama Abu Suhaib untuk merujuk al-Haddad. Kelompok itu menggambarkan kematian sang komandan sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan melawan pendudukan.
Pemakaman al-Haddad, bersama istri dan putrinya, disebut berlangsung di Kota Gaza. Saudara perempuan al-Haddad juga turut mengonfirmasi kematiannya kepada wartawan, sehingga kabar itu menguat dari lebih dari satu jalur.
Bagi Hamas, kehilangan al-Haddad bukan semata soal figur militer, tetapi juga simbol tekanan yang terus dihadapi kelompok itu di Jalur Gaza. Hamas menilai Israel berusaha memaksakan kondisi politik dan lapangan melalui kekerasan, sekaligus memberi tekanan kepada kepemimpinan perlawanan agar mengubah posisi politiknya.
Meski begitu, Hamas menegaskan bahwa kematian al-Haddad tidak akan menghentikan gerakan mereka. Kelompok itu bahkan menyebutnya sebagai pilar gerakan perlawanan di Jalur Gaza dan menegaskan perjuangan akan terus berlanjut.
Dampak konflik itu juga terasa kuat di lingkungan keluarga al-Haddad. Dalam perang melawan Israel, ia disebut telah kehilangan dua putranya, Suhaib dan Mu’min, serta menantunya, Mahmoud Abu Hasira.
Kematian al-Haddad terjadi di tengah situasi gencatan senjata di Jalur Gaza yang mulai berlaku pada Oktober 2025. Namun tentara Israel masih disebut melakukan pelanggaran harian terhadap kesepakatan itu, sementara perang selama dua tahun sebelumnya telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 lainnya.
Di tengah angka korban yang terus membayangi Gaza, Hamas meminta komunitas internasional dan negara-negara mediator perjanjian untuk bertindak. Mereka menilai ada tanggung jawab politik, hukum, dan moral untuk menekan Israel agar mematuhi ketentuan perjanjian dan menghentikan serangan terhadap warga sipil.
Source: www.viva.co.id






