Puasa Asyura pada 10 Muharram 1448 H jatuh pada Jumat, 26 Juni 2026. Penetapan ini mengacu pada kalender hijriah Indonesia yang dirilis Kementerian Agama RI.
Karena waktunya sudah dapat dipastikan, umat Islam yang ingin menunaikannya bisa menyiapkan diri sejak awal. Puasa sunah ini menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam bulan Muharram.
Keutamaan yang menonjol
Puasa Asyura disebut memiliki keutamaan besar dan sering ditempatkan sebagai puasa sunah paling utama setelah Ramadan. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram.”
Keistimewaan lain yang dilekatkan pada puasa ini adalah harapan mendapatkan ampunan dosa setahun yang lalu. Masih dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa puasa Asyura dapat “melebur dosa setahun yang telah lewat.”
Riwayat lain juga menggambarkan nilai ibadahnya yang besar. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Asyura seperti berpuasa 30 hari, dan setiap pintu surga dibuka untuknya.”
Bacaan niat puasa Asyura
Niat puasa Asyura dibaca pada malam hari sebelum berpuasa. Lafalnya adalah: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاء لِلّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Swt.”
Setelah niat dibaca, puasa dijalankan seperti puasa sunah pada umumnya. Umat Islam perlu menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga magrib.
Hal yang perlu diperhatikan
Puasa Asyura selalu terkait dengan 10 Muharram, sehingga acuan kalender hijriah menjadi penting agar tanggalnya tidak keliru. Dalam praktiknya, kalender hijriah Indonesia dapat menjadi rujukan yang memudahkan masyarakat menandai waktu pelaksanaannya.
Di bulan Muharram, puasa ini juga kerap menjadi bagian dari upaya memperbanyak amal saleh. Dengan mengetahui jadwal dan bacaan niatnya, umat Islam dapat mempersiapkan ibadah ini dengan lebih tertib dan terarah.
