Di kawasan pegunungan, jalan yang tampak berliku justru dibuat untuk menjaga kendaraan tetap aman saat menghadapi tanjakan dan turunan yang berat. Bentuk jalur seperti ini bukan dibuat agar rute terasa lebih panjang, melainkan untuk menekan kemiringan yang berbahaya.
Jika jalan dipaksa lurus mengikuti medan yang curam, kemiringannya bisa menjadi terlalu ekstrem. Kondisi itu dapat menyulitkan kendaraan saat menanjak maupun menurun, terutama karena tenaga mesin, pengereman, dan kestabilan kendaraan ikut terpengaruh.
Dosen Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Asri Nurdiana, menjelaskan bahwa kelandaian menjadi salah satu alasan utama jalur pegunungan dibuat berkelok. Dengan lintasan yang lebih panjang, perbedaan ketinggian bisa dipatahkan bertahap sehingga kemiringan jalan tetap terkendali.
Prinsip ini sangat penting untuk kendaraan besar seperti truk. Saat melewati jalur yang terlalu curam, beban kerja kendaraan meningkat dan risiko saat menuruni jalan juga ikut naik.
Karena itu, kelokan di jalan pegunungan tidak bisa dilihat hanya sebagai bentuk yang memutar jarak. Dalam rekayasa jalan, desain semacam ini dipilih supaya kendaraan tetap dapat melintas dengan aman di medan berbukit atau bergunung.
Topografi menjadi faktor utama dalam penentuan trase jalan di wilayah seperti ini. Kontur tanah yang curam membuat jalur lurus tidak selalu menjadi pilihan terbaik, meski secara kasat mata terlihat lebih singkat.
Jalan juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghubungkan dua titik. Jalur tersebut harus tetap aman digunakan oleh berbagai jenis kendaraan, termasuk saat berpapasan, membawa muatan, atau melintasi turunan panjang.
Perdebatan soal jalan pegunungan kembali ramai setelah sebuah unggahan di media sosial mempertanyakan mengapa jalan tidak dibuat lurus saja. Dalam unggahan itu, terlihat garis merah lurus yang seolah menunjukkan rute lebih pendek dibandingkan jalur berkelok di lapangan.
Unggahan dari akun Facebook Romansa Sopir Truck pada Rabu (12/8/2020) itu ikut memancing beragam komentar. Hingga unggahan tersebut diturunkan, responsnya sudah disukai lebih dari 200 kali, dan banyak warganet menilai jalan lurus di area pegunungan justru akan membahayakan pengguna jalan.
Pandangan itu sejalan dengan penjelasan teknik sipil yang menempatkan keselamatan sebagai dasar utama desain jalan. Dari udara atau dari peta, kelokan jalan pegunungan memang bisa terlihat tidak efisien, tetapi efisiensi jalan tidak hanya diukur dari garis lurus.
Dalam perencanaan infrastruktur, kemampuan jalur menjaga kendaraan tetap aman saat melewati medan berat menjadi pertimbangan yang jauh lebih penting. Itulah sebabnya jalan pegunungan dibuat berkelok agar tanjakan dan turunan tidak terlalu tajam, sekaligus mengikuti alam tanpa mengorbankan keselamatan pengguna jalan.







