Jawa Tengah Gaspol Benahi Pelabuhan, Berebut Peluang Relokasi Industri Vietnam

Author: Redaksi Android62

Jawa Tengah bergerak cepat memperkuat pelabuhan dan jaringan distribusi untuk menangkap peluang relokasi industri padat karya dari Vietnam. Langkah ini dinilai penting karena kesiapan logistik akan menentukan apakah investor benar-benar masuk atau hanya berhenti pada tahap minat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut ada investor yang sedang menyiapkan pemindahan sejumlah industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah. Kondisi Vietnam yang disebut mulai penuh membuka ruang baru bagi provinsi ini untuk menarik investasi sekaligus memperluas lapangan kerja.

Pelabuhan menjadi penentu daya saing

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan penguatan logistik sebagai agenda yang harus bergerak secepat promosi investasi. Ahmad Luthfi menyampaikan kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta per tahun, dan sekitar 7 juta kontainer di antaranya berasal dari Jawa Tengah.

Namun, arus kontainer dari Jawa Tengah masih banyak bergantung pada pelabuhan di luar provinsi. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang saat ini baru melayani sekitar 30 persen kebutuhan kontainer, sedangkan sisanya masih mengalir lewat pelabuhan di Jawa Timur dan Jakarta.

Aspek Data Keterangan
Kebutuhan kontainer nasional 10 juta per tahun Jumlah kebutuhan logistik kontainer nasional
Kontainer dari Jawa Tengah 7 juta per tahun Bagian yang disebut berasal dari Jawa Tengah
Pelayanan Tanjung Emas 30 persen Porsi kebutuhan kontainer yang dilayani saat ini

Karena itu, Pemprov mendorong percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas agar kapasitas layanan logistik meningkat. Jika pengembangan pelabuhan baru diperlukan, opsi di Kendal, Batang, Rembang, dan Cilacap juga disiapkan untuk memperkuat jaringan distribusi.

Dry port disiapkan sambil menunggu infrastruktur utama

Bila pembangunan pelabuhan baru belum memungkinkan, pemerintah daerah menyiapkan dry port di Kendal dan Batang. Skema ini dipandang bisa menopang rantai distribusi sambil menunggu infrastruktur pelabuhan utama berkembang.

Penguatan pelabuhan dan distribusi diperkirakan langsung berdampak pada daya saing kawasan industri. Infrastruktur logistik yang efisien dapat menekan biaya distribusi dan membuat Jawa Tengah lebih menarik di mata investor yang tengah mencari lokasi baru.

Investasi tumbuh, tenaga kerja ikut terserap

Peluang relokasi dari Vietnam datang ketika investasi di Jawa Tengah masih menunjukkan pertumbuhan. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di provinsi ini mencapai Rp23 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja.

Sepanjang 2025, investasi di Jawa Tengah tercatat Rp110 triliun. Modal itu menjadi penting saat daerah ini bersaing dengan wilayah lain untuk merebut industri padat karya di tengah keterbatasan fiskal dan dinamika geopolitik global.

Akses pasar luar negeri ikut dikejar

Selain infrastruktur logistik, Pemprov Jawa Tengah juga meminta dukungan Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI untuk memperluas akses pasar internasional. Jejaring diplomasi parlemen dinilai dapat membantu memperkenalkan potensi investasi Jawa Tengah ke berbagai negara.

Wakil Ketua BKSAP DPR RI Muhammad Husein Fadlulloh menilai peluang ekspor Jawa Tengah akan semakin terbuka. Ia menyinggung perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa yang diproyeksikan berlaku efektif pada 2027 dan diyakini dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa tanpa hambatan tarif yang signifikan.

“Ini menjadi potensi baru bagi Jawa Tengah untuk membuka pasar ke Eropa. Banyak produk Indonesia nantinya sudah tidak lagi terkendala tarif ketika masuk ke pasar Uni Eropa,” ujarnya.

Source: rri.co.id
Berita Terbaru