Jawa Tengah kembali mendorong pintu investasi dari Tiongkok dengan membawa tawaran yang cukup spesifik: proyek energi baru terbarukan dan pengolahan sampah menjadi listrik. Di hadapan puluhan pengusaha Tiongkok, Ahmad Luthfi menempatkan dua sektor itu sebagai peluang besar yang siap digarap di provinsi yang dipimpinnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Jawa Tengah tidak hanya ingin menerima modal, tetapi juga mengarahkan investasi ke sektor yang dianggap strategis. Pemerintah provinsi memosisikan energi bersih dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari agenda pembangunan yang selaras dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Dorongan investasi dibawa ke forum bisnis
Promosi itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menghadiri Pertukaran Tokoh Politik dan Bisnis Tiongkok-Indonesia dalam rangka Program DBA Entrepreneur Scholar Cheung Kong Graduate School of Business Angkatan 12 di Grand Hyatt, Jakarta, Jumat malam. Forum tersebut mempertemukan investor dan pimpinan perusahaan besar asal Tiongkok yang selama ini sudah menanamkan modal di Indonesia.
Dalam forum itu, Luthfi menegaskan bahwa Jawa Tengah terus membuka diri terhadap investasi dari berbagai negara, termasuk Tiongkok. Ia juga menyebut provinsi tersebut punya posisi strategis dan berpotensi menjadi hub ekonomi.
Peta investasi Jawa Tengah ikut ditunjukkan
Untuk memberi gambaran kepada para investor, Luthfi memaparkan capaian investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 yang mencapai Rp 110,02 triliun. Nilai itu terdiri dari PMA Rp 50,86 triliun, PMDN Rp 37,64 triliun, dan UMKM Rp 21,52 triliun.
Pada triwulan I 2026, investasi di Jawa Tengah telah menembus Rp 23,02 triliun. Di periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,89 persen.
Kawasan industri jadi andalan
Selain menawarkan peluang baru, Luthfi juga menyoroti kesiapan infrastruktur penunjang investasi di daerahnya. Saat ini ada tujuh kawasan industri dan ekonomi khusus yang sudah berjalan, sementara 12 daerah lain tengah menyiapkan kawasan baru.
Kondisi itu, menurutnya, menjadi modal penting agar investasi bisa menyebar lebih merata. Jawa Tengah ingin tampil sebagai tujuan investasi global, dengan dukungan lokasi yang strategis, kawasan industri yang siap, dan laju ekonomi yang terus bergerak.
Energi bersih dan sampah jadi listrik jadi daya tarik utama
Di hadapan calon investor Tiongkok, Luthfi menawarkan sedikitnya tujuh proyek energi baru terbarukan. Proyek itu meliputi PLTS, mikrohidro, biogas, biomassa, gas rawa, waste to energy, dan panas bumi atau geothermal.
Pemprov Jawa Tengah disebut serius mengembangkan energi ramah lingkungan sekaligus menjawab persoalan sampah melalui teknologi pengolahan modern. Karena itu, peluang investasi pengolahan sampah juga dibuka lebar, sebab sektor ini dipandang bisa mendukung penyediaan energi terbarukan.
Tiongkok sudah punya jejak investasi di Jateng
Luthfi menyebut Tiongkok telah menjadi salah satu negara asal investasi terbesar di Jawa Tengah. Nilai investasinya disebut mencapai sekitar Rp 10,13 triliun.
Kehadiran pengusaha Tiongkok dalam forum tersebut juga memperlihatkan minat lintas sektor yang cukup luas. CEO PT WOOK Global Technology, Cu Longhua, mengatakan pertemuan itu mempertemukan banyak pelaku usaha dengan peluang kerja sama besar antara Indonesia dan Tiongkok.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang hadir memiliki keunggulan di bidang perlindungan lingkungan, pengolahan limbah padat, energi baru, teknologi digital, manufaktur berteknologi tinggi, hingga pertanian modern. Kondisi itu membuat tawaran proyek energi hijau dan sampah jadi listrik dari Jawa Tengah berpeluang menemukan mitra yang sesuai.
