Di Meghalaya, India, ada jembatan yang tidak dibangun dari semen, baja, atau kayu tebal, melainkan tumbuh dari akar pohon hidup. Struktur ini dikenal sebagai Jingkieng Jri dan justru semakin kuat ketika usianya bertambah.
Keistimewaan itu membuatnya berbeda dari jembatan konvensional yang umumnya melemah seiring waktu. Pada jembatan akar hidup, akar-akar yang dijalin dapat menyatu secara alami dan membentuk struktur yang makin kokoh dari tahun ke tahun.
Akar yang Menyatu Jadi Penopang
Rahasia utama Jingkieng Jri terletak pada proses penyatuan akar atau inosculation. Saat akar yang masih muda saling bergesekan, bagian-bagian itu dapat menyatu dan membuat diameter akar terus menebal.
Proses alami tersebut menghasilkan ikatan yang makin masif dan mampu menahan beban besar. Jembatan akar yang sudah matang bahkan disebut dapat menahan hingga 50 orang dewasa sekaligus.
Dipilih dari Pohon yang Tepat
Masyarakat adat Khasi memanfaatkan pohon beringin karet atau Ficus elastica karena jenis ini menghasilkan banyak akar udara. Akar-akar itu lentur, kenyal, dan mudah diarahkan ketika masih muda.
Untuk membentuk jembatan, akar ditarik, dijalin, lalu diarahkan menyeberangi sungai dengan bantuan bambu atau batang pinang yang dilubangi. Cara ini memandu akar agar tumbuh ke sisi seberang hingga mencengkeram tanah dengan kuat.
Butuh Bertahun-tahun Sebelum Bisa Dipakai
Pembuatan jembatan akar hidup tidak bisa disamakan dengan pembangunan jembatan biasa. Proses mengarahkan akar dari satu tebing ke tebing lain rata-rata memakan waktu 10 hingga 15 tahun.
Selama masa itu, akar terus memanjang sampai menembus tanah di seberang sungai. Setelah strukturnya dianggap stabil, barulah jembatan dapat digunakan oleh manusia.
Tahan di Wilayah yang Sangat Basah
Meghalaya memiliki wilayah seperti Cherrapunji dan Mawsynram yang dikenal sebagai tempat paling basah di Bumi dengan curah hujan tahunan yang ekstrem. Dalam kondisi seperti itu, material biasa mudah rusak karena pembusukan atau karat.
Jingkieng Jri tetap bertahan karena strukturnya hidup secara biologis. Aliran air dan nutrisi di dalam xilem dan floem tetap berjalan, sehingga jembatan memiliki daya tahan alami terhadap hujan yang terus mengguyur.
Warisan yang Bisa Bertahan Sangat Lama
Sifat hidup membuat jembatan ini memiliki kemampuan memperbarui sel yang rusak secara mandiri atau self-healing. Karena itu, umur fungsionalnya bisa sangat panjang selama dirawat oleh komunitas adat.
Melansir laman resmi Meghalaya, sejumlah jembatan akar hidup yang terkenal, termasuk Double Decker Root Bridge di Umshiang, diperkirakan berusia lebih dari 180 tahun dan masih berfungsi baik. Fakta itu menunjukkan bagaimana bio-arsitektur dapat menjadi solusi jangka panjang yang menyatu dengan hutan sekitar.
Source: www.idntimes.com






