Nama Jetour T1 dan T2 PHEV sudah muncul lebih dulu dalam data Nilai Jual Kendaraan Bermotor DKI Jakarta untuk tahun produksi 2026. Kemunculan ini membuat arah ekspansi Jetour di Indonesia terlihat makin jelas, terutama karena dua model tersebut belum lama ini menjadi pembicaraan di tengah pasar SUV yang terus berkembang.
Bagi pasar Indonesia, kemunculan data NJKB biasanya menjadi penanda awal sebelum sebuah model masuk tahap pengenalan yang lebih luas. Dalam kasus Jetour, sinyal itu terasa semakin kuat karena merek asal Tiongkok ini tidak hanya menyiapkan satu varian baru, tetapi beberapa opsi sekaligus dengan karakter berbeda.
Jetour menyiapkan lini yang lebih lengkap
Berdasarkan data Badan Pendapatan Daerah DKI Jakarta, Jetour mendaftarkan setidaknya lima varian baru. Daftar itu mencakup pilihan penggerak 4×2, 4×4, serta model dengan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV.
Susunan varian tersebut menunjukkan strategi yang bertingkat. Jetour tampak ingin menyasar konsumen yang butuh SUV harian, SUV dengan karakter petualangan, sampai model hybrid yang lebih efisien.
T1 hadir sebagai SUV serbaguna
Jetour T1 diposisikan untuk pengguna yang membutuhkan mobil fleksibel. Model ini dirancang tetap nyaman dipakai di kota, tetapi masih sanggup menghadapi kondisi jalan yang kurang bersahabat.
Secara tampilan, T1 mengusung konsep Travel+ dengan bodi boxy yang tegas. Siluetnya kaku, namun tetap memberi kesan elegan, sementara sudut-sudut tajam membuatnya terlihat dinamis.
Untuk varian non-PHEV, T1 memakai mesin 2.0 liter turbocharged yang dipadukan dengan transmisi otomatis delapan percepatan. Tenaganya mencapai 254 PS dengan torsi maksimum 390 Nm.
Jetour juga menyematkan tujuh mode berkendara pada T1. Salah satunya adalah mode khusus jalur pegunungan, yang membantu pengemudi menyesuaikan karakter mobil dengan kondisi jalan.
T2 PHEV dibangun untuk efisiensi
Berbeda dengan T1, Jetour T2 i-DM atau PHEV hadir dengan fokus utama pada efisiensi. Model ini memakai teknologi hybrid generasi kelima dengan mesin 1.5TGDI.
Mesin tersebut diklaim memiliki efisiensi termal 44,5 persen. Tenaganya disalurkan melalui transmisi DHT 3-percepatan yang dirancang untuk memberi perpindahan daya lebih mulus.
Sistem i-DM menggabungkan motor listrik dan mesin bensin. Kombinasi ini diklaim membuat mobil bisa bergerak senyap di awal perjalanan, lalu memberi dorongan torsi besar saat dibutuhkan.
Identitas petualangan tetap dipertahankan
Walau sudah memakai teknologi hybrid, karakter petualangan pada T2 PHEV tidak dihapus. Jetour menyebut mobil ini tetap menawarkan pengendalian presisi dan minim body roll, termasuk saat bermanuver tajam di kecepatan tinggi.
Karakter itu penting karena segmen SUV bergaya off-road masih punya daya tarik besar di Indonesia. Kehadiran versi PHEV memberi pilihan baru bagi konsumen yang ingin SUV dengan tampilan dan rasa petualangan, tetapi tetap melirik efisiensi.
Arah peluncuran makin terbaca
Munculnya T1 dan T2 PHEV di daftar NJKB membuat dugaan soal langkah Jetour berikutnya semakin kuat. Panggung GIIAS yang akan digelar akhir Juli mendatang dipandang sebagai ajang yang paling mungkin untuk memperkenalkan model-model tersebut.
Jetour sendiri berdiri sejak 2018 dan dikenal agresif mengembangkan lini SUV petualangan. Jika rencana yang terlihat dari data ini berlanjut, pasar Indonesia berpeluang mendapat tambahan opsi baru di segmen SUV petualangan ringan dan elektrifikasi.
Source: carvaganza.com






