Jusuf Kalla menolak bertemu Rismon Sianipar maupun Roy Suryo terkait buku Gibran EndGame. Penolakan itu dia sampaikan dengan alasan ingin tetap netral dan tidak ikut terseret lebih jauh dalam polemik yang memanas.
Untuk memperkuat sikapnya, JK juga memperlihatkan bukti percakapan WhatsApp kepada awak media di kediamannya, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Pesan itu ditunjukkan untuk menegaskan bahwa sejak awal tidak pernah ada persetujuan atas rencana pertemuan tersebut.
Sikap netral di tengah polemik
JK menyebut dirinya sengaja menjaga jarak dari polemik yang melibatkan buku itu. Ia menilai tidak perlu masuk ke urusan yang bukan bidangnya dan memilih menolak ajakan bertemu yang datang kepadanya.
Dalam penjelasannya, Rismon disebut ingin datang bersama tujuh orang untuk menyerahkan buku tersebut secara langsung. Namun, permintaan itu langsung ditolak karena JK tidak ingin posisinya ikut masuk dalam perdebatan yang sudah melebar.
“Si Rismon mau ketemu saya dengan tujuh orang. Saya tidak terima, mana lihatin,” kata JK saat menjelaskan penolakannya kepada wartawan. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa penolakan tersebut bukan dilakukan secara setengah hati, melainkan sebagai bentuk sikap yang sudah dipikirkan.
JK juga menegaskan hal serupa berlaku untuk permintaan yang datang dari Roy Suryo. Ajakan itu ditolak dengan alasan yang sama, yakni menjaga sikap agar tetap netral.
“Roy Suryo mau ketemu, saya tolak. Demi saya mau netral,” ujar JK. Ia menekankan bahwa keputusan itu diambil supaya dirinya tidak terseret lebih jauh dalam isu yang terus berkembang di publik.
WhatsApp ditunjukkan sebagai bukti
Dalam kesempatan itu, JK tidak hanya berbicara soal penolakannya. Ia juga memperlihatkan pesan WhatsApp yang menurutnya menjadi bukti bahwa dirinya tidak pernah memberi lampu hijau untuk pertemuan tersebut.
Bagi JK, pesan itu penting agar publik memahami bahwa dirinya tidak memiliki keterkaitan dengan rencana yang diajukan pihak terkait. Ia menolak anggapan seolah-olah pertemuan itu sempat disetujui atau dibiarkan berjalan.
Penjelasan itu juga digunakan JK untuk menepis kesan bahwa ia berubah sikap di tengah jalan. Menurutnya, sejak awal sudah ada penolakan, dan bukti percakapan itu dianggap cukup untuk memperjelas posisinya.
Isu yang dinilai sudah meluas
JK melihat polemik seputar buku Gibran EndGame tidak lagi terbatas pada satu nama atau satu tuduhan. Ia menyebut pembicaraan yang muncul justru sudah menyeret banyak tokoh lain ke dalam sorotan.
Menurut JK, bukan hanya dirinya yang ikut disebut, tetapi juga nama-nama seperti Puan dan SBY. Ia menilai arah pembicaraan publik sudah bergeser dari isu awal dan cenderung melebar ke mana-mana.
“Tapi ini soal Rismon itu sudah melibatkan semua orang. Dituduh lah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja,” ucap JK. Dari pernyataan tersebut, JK tampak ingin menegaskan bahwa perdebatan yang muncul sudah keluar dari konteks semula.
Baginya, kondisi seperti itu perlu dibatasi agar tidak semakin banyak pihak yang ikut terseret. JK melihat menjaga jarak justru menjadi langkah yang tepat ketika isu sudah berkembang terlalu luas.
Bantahan atas tuduhan dana Rp5 miliar
Selain menolak pertemuan, JK juga membantah tuduhan bahwa dirinya memberi dukungan dana Rp5 miliar kepada pihak tertentu. Ia menilai tuduhan itu tidak berdasar dan tidak sesuai fakta.
JK bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal sosok-sosok yang dikaitkan dengan tuduhan tersebut. Karena itu, ia dengan tegas menolak narasi yang mengarah pada adanya transaksi atau dukungan dana darinya.
“Mana saya kasih Rp5 M? Ketemu saja tidak tahu saya. Kenal pun tidak. Ini buktinya. WA-nya,” kata JK. Ia kembali menunjuk pesan WhatsApp sebagai penjelasan bahwa sikapnya sejak awal memang menolak, bukan menyetujui.
Dalam rangkaian pernyataannya, JK berulang kali menegaskan bahwa keputusan untuk menolak pertemuan bukan reaksi sesaat. Sikap itu, menurut dia, diambil agar dirinya tetap berada di jalur netral dan tidak menambah panas polemik yang sudah berkembang di ruang publik.
Source: www.suara.com






