Kasus Balogun Memicu Retak UEFA dan FIFA, Ceferin Boikot Final Piala Dunia 2026

Author: Redaksi Android62

Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di New Jersey. Ketidakhadiran itu dipandang sebagai protes atas cara FIFA menangani sejumlah persoalan selama turnamen.

Keputusan FIFA membatalkan larangan bermain satu pertandingan untuk Folarin Balogun menjadi pemicu utama ketegangan tersebut. UEFA menilai pencabutan sanksi bagi penyerang Amerika Serikat itu sebagai tindakan yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan.

Sanksi Balogun Memperuncing Konflik

Balogun sebelumnya menerima kartu merah dalam turnamen dan dijatuhi hukuman larangan tampil satu laga. Komite Disiplin FIFA kemudian membatalkan hukuman itu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Gianni Infantino meninjau kembali kartu merah tersebut.

UEFA menyebut FIFA telah melewati garis merah dalam penanganan perkara tersebut. Bola.kompas.com melaporkan, peristiwa itu menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan pengaruh politik dalam keputusan disiplin FIFA.

Persoalan Peristiwa Sikap UEFA
Kasus Balogun Larangan satu pertandingan dibatalkan Mengecam keputusan disiplin FIFA
Wasit Omar Artan Dipulangkan otoritas AS sebelum turnamen Ditunjuk memimpin final Piala Super UEFA
Timnas Iran Persyaratan perjalanan lebih ketat Menyoroti perlakuan terhadap peserta

Perbedaan Meluas ke Aturan Laga

Pertentangan UEFA dan FIFA tidak berhenti pada urusan disiplin. UEFA juga menolak sejumlah kebijakan teknis yang diterapkan selama Piala Dunia 2026.

Salah satunya adalah jeda hidrasi yang dinilai membuat pertandingan terasa terbagi menjadi empat kuarter. Kebijakan itu juga membuka ruang iklan tambahan bagi penyiar selama pertandingan berlangsung.

UEFA turut menyoroti jeda babak pertama final yang mencapai 27 menit. Durasi tersebut melampaui batas maksimal 15 menit yang tercantum dalam Laws of the Game.

Organisasi sepak bola Eropa itu juga tidak akan mengadopsi interpretasi baru protokol VAR mengenai mistaken identity. Penerapan aturan itu sebelumnya berujung kartu merah bagi penyerang Swiss Breel Embolo saat perempat final melawan Argentina.

UEFA menolak ketentuan yang memungkinkan pemain dihukum karena menutupi mulut ketika berbicara dengan lawan. Sikap itu menunjukkan perselisihan kini menyentuh tata kelola pertandingan, bukan hanya keputusan satu kasus.

Isu Wasit dan Perjalanan Iran

Ketegangan lain muncul ketika otoritas Amerika Serikat memulangkan wasit Somalia Omar Artan sebelum turnamen dimulai. FIFA dinilai tidak mampu mencegah kejadian tersebut.

UEFA kemudian menunjuk Artan sebagai wasit final Piala Super UEFA bulan depan. Penunjukan itu menjadi respons penting di tengah sorotan terhadap perlindungan FIFA kepada perangkat pertandingan.

Tim nasional Iran juga disebut menghadapi persyaratan masuk dan keluar Amerika Serikat yang lebih ketat dibandingkan 47 peserta lain. Pelatih Iran Amir Ghalenoei bahkan menyebut timnya sebagai “tim paling tertindas” di Piala Dunia.

Kontroversi bertambah setelah Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Markwayne Mullin mengatakan dirinya “menari kegirangan” ketika Iran tersingkir. Peristiwa itu memperbesar perhatian UEFA terhadap perlakuan kepada peserta turnamen.

Perbedaan Pendekatan Penjualan Tiket

Ceferin sebelumnya juga mengkritik strategi penjualan tiket FIFA. UEFA memilih pendekatan berbeda untuk Euro 2028 dengan menjanjikan sekitar 40 persen tiket berada pada kategori harga paling terjangkau, sekitar 30 hingga 60 pound sterling.

UEFA memastikan tidak akan menggunakan sistem harga dinamis untuk Euro 2028. Meski memboikot final, Ceferin sempat menghadiri laga pembuka Piala Dunia 2026 di Mexico City pada 11 Juni.

Final di New Jersey berakhir dengan kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina yang dimotori Lionel Messi. Gol Ferran Torres pada menit ke-106 membawa Spanyol meraih gelar juara dunia keduanya.

Source: bola.kompas.com
Berita Terbaru