Handoko dan Erna menjadikan kebun seluas 2.000 meter persegi sebagai penopang kebutuhan pangan keluarga setelah memilih menetap di Dusun Pakejen, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Lahan di kaki selatan Gunung Slamet itu tidak diarahkan untuk mengejar panen komersial, melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara bertahap.
Keputusan tersebut menandai perubahan besar bagi Handoko yang sebelumnya bekerja lebih dari 30 tahun di bidang perawatan pesawat. Pengalamannya mencakup pengurusan mesin, roda pendaratan, hingga tugas sebagai auditor pesawat di PT GMF AeroAsia.
Kebun rumah itu ditata dengan pendekatan kebun permakultur yang memadukan tanaman herbal, buah, dan sayuran perenial. Handoko dan Erna menanam kebutuhan pangan sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia serta pestisida sintetis.
Bagian lahan yang menerima sinar matahari penuh digunakan untuk membudidayakan bayam Brazil, cabai, tomat, dan daun bawang. Sisa potongan tanaman dipangkas lalu ditancapkan kembali ke tanah agar dapat berkembang biak secara mandiri.
Beragam tanaman lain turut dikembangkan, termasuk beberapa jenis yang tidak banyak dikenal masyarakat. Sebagian bibit didatangkan dari luar daerah untuk memperkaya tanaman pangan sekaligus membangun ekosistem di pekarangan.
| Tanaman | Karakter | Pemanfaatan |
|---|---|---|
| Pohpohan, buas-buas, pegagan, daun adas | Tanaman pangan dan herbal | Konsumsi keluarga |
| Krokot | Kaya omega-3 dan menarik lebah madu | Diperbanyak di kebun |
| Parijoto | Didatangkan dari Gunung Muria, kaya antioksidan | Dimakan saat berwarna hitam dan manis |
| Rosella merah | Daun, tangkai, dan bunga dapat dimanfaatkan | Diolah menjadi minuman kaya vitamin C |
Pengelolaan lahan secara organik juga membawa perubahan pada lingkungan sekitar rumah. Burung liar, kupu-kupu, tonggeret, dan lebah mulai hadir di area kebun sehingga suasana pekarangan menjadi lebih hidup.
Bagi pasangan ini, keberhasilan berkebun tidak semata diukur dari banyaknya hasil yang dipetik. Tanaman yang lambat tumbuh atau pohon buah yang belum berproduksi menjadi bagian dari latihan kesabaran dalam menjalani hidup yang lebih pelan.
Penghematan dan Pola Hidup Secukupnya
Pola hidup di desa membuat Handoko dan Erna menekan pembelian barang sekunder, seperti pakaian, sepatu, serta makanan impor. Pepaya dan sayuran dari pekarangan dapat memenuhi sebagian kebutuhan makan tanpa selalu bergantung pada pasar.
Menurut blitarkawentar.jawapos.com, Erna pernah menukar cabai yang melimpah dengan beras dan telur di warung tetangga. Praktik barter tersebut memperlihatkan bahwa hasil pekarangan dapat memberi pilihan lain dalam mengelola kebutuhan rumah tangga.
Erna lebih dahulu tinggal di Pakejen setelah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai konsultan sekolah alam di Bandung pada awal pandemi 2020. Sebagai penyintas kanker tiroid, ia perlu membatasi perjalanan luar kota dan memberi perhatian lebih pada asupan makanan harian.
Setelah itu, Handoko menyusul untuk membangun kehidupan pensiun bersama di desa. Keduanya memandang kesiapan hidup secukupnya sebagai modal penting, bukan sekadar menunggu tabungan besar sebelum meninggalkan kota.
Mengajar dan Berbagi Bibit
Aktivitas pasangan ini tidak berhenti di kebun karena mereka juga mengajar secara sukarela di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat milik Griya Petualang Indonesia. Kegiatan tersebut ditujukan bagi program Paket B dan Paket C untuk warga putus sekolah, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu di desa.
Mereka melihat masih ada warga usia produktif yang merantau ke kota besar dan mengandalkan tenaga fisik sebagai buruh bangunan dengan upah minim. Kelas kejar paket diharapkan dapat memperluas pandangan mengenai pendidikan dan masa depan anak-anak.
Handoko dan Erna turut membagikan bibit serta mengenalkan manfaat sayuran yang belum populer kepada warga sekitar. Kehadiran mereka di Pakejen diterima baik karena mampu berbaur tanpa membedakan latar belakang sosial.
