Kasus Hantavirus Di Indonesia Masih Sporadis, IDAI Sebut Risiko Ke Publik Rendah

Author: Redaksi Android62

Temuan hantavirus di Indonesia tidak muncul sebagai kejutan besar bagi kalangan medis. Kementerian Kesehatan mencatat sudah ada 23 kasus sejak 2015 di sembilan provinsi, dan pola itu membuat risiko ke masyarakat umum dinilai tetap rendah selama paparan sumber utamanya bisa dikendalikan.

Di tengah sorotan publik yang kembali mengarah ke virus ini, IDAI meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan. Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga, dr Dominicus Husada, menilai hantavirus memang perlu diwaspadai, tetapi tidak semestinya memicu kepanikan seperti yang sering muncul dari gambar atau informasi di media sosial.

Sumber penularan tetap terkait tikus

Hantavirus dikenal dalam dunia medis sebagai virus yang berkaitan dengan hewan pengerat, terutama tikus. Penularannya terjadi ketika partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus terhirup manusia, terutama di ruang tertutup yang sudah terkontaminasi.

Dominicus menjelaskan bahwa virus ini bisa bertahan lama pada hewan pengerat tanpa menimbulkan gejala. Namun, hewan tersebut tetap dapat menjadi sumber penularan bila manusia terpapar langsung di lingkungan yang tercemar.

Kasus di Indonesia tidak menunjukkan penyebaran luas

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus yang ditemukan di Indonesia tersebar di sembilan provinsi. Jakarta dan Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus, disusul wilayah lain seperti Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Dominicus menilai pola itu memperlihatkan hantavirus sudah lama ada di Indonesia, tetapi tidak menyebar luas. Ia melihat karakter kasusnya lebih sporadis dibanding penyakit pernapasan menular yang mudah berpindah antarmanusia.

Paparan juga pernah terdeteksi di kota besar

Selain catatan kasus resmi, penelitian AFIRE pada 2013–2016 menemukan paparan hantavirus di beberapa kota besar. Dari 327 sampel yang diuji, 38 sampel atau 11,6 persen menunjukkan hasil positif.

Angka tertinggi tercatat di Denpasar sebesar 16,3 persen. Setelah itu, hasil positif muncul di Surabaya 13,6 persen, Makassar 13,5 persen, dan Semarang 13,4 persen.

Paparan juga ditemukan di Jakarta sebesar 11,1 persen, Bandung 6,7 persen, dan Yogyakarta 3,2 persen. Data tersebut menegaskan bahwa hantavirus memang pernah terdeteksi di wilayah perkotaan Indonesia.

Kelompok dewasa dan laki-laki lebih banyak terpapar

Penelitian yang sama menunjukkan perbedaan paparan berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin. Pada kelompok dewasa, tingkat positivitas tercatat 13,5 persen, sedangkan pada anak-anak 6 persen.

Dari sisi jenis kelamin, laki-laki tercatat memiliki angka paparan lebih tinggi dibanding perempuan. Tingkat positivitas pada laki-laki mencapai 15,6 persen, sementara pada perempuan 6,9 persen.

Situasi global tetap bergerak, tapi faktor risikonya tidak berubah

Secara global, Kementerian Kesehatan mencatat kasus hantavirus pernah tinggi sebelum pandemi COVID-19. Puncaknya terjadi pada 2017 dengan 4.362 kasus, lalu 2019 sebanyak 4.194 kasus, sebelum turun tajam pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 2021 tercatat 67 kasus, kemudian 116 kasus pada 2022, 100 kasus pada 2023, 72 kasus pada 2024, dan 328 kasus sepanjang 2025. Sampai minggu ke-16 2026, jumlah kasus global tercatat 59 kasus dengan total 387 kasus terkonfirmasi di 10 negara dalam periode 2025 hingga minggu ke-16 2026.

Negara-negara tersebut meliputi Argentina, Chile, Bolivia, Brazil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia. Di tengah data itu, faktor risiko utama tetap sama, yakni kontak dengan rodensia yang terinfeksi.

Karena itu, IDAI tetap mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus atau kotorannya, dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul keluhan setelah terpapar faktor risiko. Sikap waspada dinilai lebih tepat daripada panik, karena hantavirus di Indonesia sejauh ini masih menunjukkan pola temuan yang terbatas.

Source: lifestyle.bisnis.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru