Katak semak baru yang ditemukan di lereng Gunung Merapi menghadapi perhatian konservasi karena persebarannya sejauh ini hanya teridentifikasi di kawasan tersebut. Spesies bernama Philautus candrageni itu hidup pada habitat pegunungan dan perkebunan di ketinggian menengah.
Habitat yang sempit membuat perubahan kondisi lingkungan berpotensi langsung mengganggu kelangsungan populasinya. Penurunan kualitas habitat akibat aktivitas manusia dan perubahan ekosistem pegunungan menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Spesies endemik Jawa dengan persebaran terbatas
Philautus candrageni merupakan katak endemik Pulau Jawa yang menambah daftar kekayaan amfibi di wilayah ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai perlindungan habitat alami diperlukan agar populasinya dapat bertahan di alam.
Temuan tersebut menunjukkan kawasan pegunungan Jawa masih menyimpan keragaman hayati yang belum seluruhnya terungkap. Spesies yang tampak serupa secara fisik dapat memiliki garis evolusi berbeda setelah diperiksa dengan metode yang lebih menyeluruh.
Penelitian mengenai katak semak ini juga melibatkan survei di beberapa kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, lokasi persebaran Philautus candrageni yang berhasil diidentifikasi berada di lereng Merapi.
| Lokasi yang Dikaji | Peran dalam Penelitian |
|---|---|
| Gunung Ungaran | Lokasi survei lapangan |
| Pegunungan Menoreh | Lokasi survei lapangan |
| Gunung Merapi | Lokasi persebaran Philautus candrageni yang teridentifikasi |
Tiga bukti untuk memastikan spesies baru
Tim peneliti tidak hanya mengandalkan bentuk tubuh untuk menetapkan status katak ini sebagai spesies baru. Mereka menggunakan pendekatan taksonomi integratif melalui data morfologi, genetik, dan suara panggilan.
Dari sisi morfologi, katak ini berukuran sedang dan memiliki struktur kepala yang khas. Area antara mata dan hidung atau canthus rostralis tampak tegas, sedangkan kulit di bagian punggung relatif halus.
Karakter lain terlihat pada periode kawin ketika katak jantan mengeluarkan panggilan. Pola panggilannya terdiri atas tiga macam nada yang membedakannya dari spesies Philautus lain.
Alamsyah Elang Nusa Herlambang dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN menjelaskan bahwa spesies tersebut memiliki ukuran tubuh sedang. “Struktur kepalanya memiliki canthus rostralis (area antara mata dengan hidung) yang tegas,” ujarnya dalam keterangan BRIN yang diberitakan inet.detik.com.
Ia juga menyebut tekstur kulit dorsal atau punggung katak ini relatif halus. “Ketika hendak kawin, katak ini punya pola panggilan unik yang terdiri dari tiga macam nada,” kata Alamsyah.
DNA membantu membaca keragaman tersembunyi
Peneliti menganalisis DNA mitokondria untuk menyusun hubungan kekerabatan katak semak Jawa. Kajian filogenetik molekuler itu kemudian dipadukan dengan pemeriksaan bioakustik terhadap suara panggilan.
Kombinasi data tersebut membantu mengungkap keragaman tersembunyi atau cryptic diversity. Istilah ini merujuk pada kelompok hewan yang terlihat mirip, tetapi sesungguhnya berasal dari spesies dan garis evolusi yang berbeda.
Survei lapangan berlangsung sejak 2017 hingga 2025 dan dipimpin oleh Alamsyah bersama sejumlah kolaborator. Tim juga menelaah spesimen koleksi Museum Zoologicum Bogoriense serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN.
Kajian yang sama turut memperjelas status taksonomi Philautus jacobsoni. Spesies itu berstatus terancam punah, memiliki persebaran sangat terbatas, dan pernah masuk kelompok lost species karena lama tidak ditemukan.
Hasil penelitian telah dimuat dalam jurnal internasional Zootaxa Volume 5768 edisi Maret 2026. Makalah tersebut berjudul Revisiting the Taxonomy of Javan Philautus (Anura: Rhacophoridae), with the Description of a New Species.







