Kazhan kini tidak lagi sekadar dipakai untuk menjatuhkan bom dari udara. Drone pembom ini telah bergeser menjadi platform serang presisi yang mampu mengunci dan menghantam target bergerak dengan bantuan AI terintegrasi.
Perubahan itu membuat Kazhan menonjol di medan perang Ukraina yang terus berubah. Kemampuannya tidak hanya bertumpu pada jangkauan yang lebih jauh dan muatan yang lebih berat, tetapi juga pada cara serangnya yang jauh lebih terukur dibanding generasi awal drone pembom.
Dari drone pembom awal ke kelas berat
Pada fase awal perang, unit seperti R18 sempat menjadi andalan. Drone buatan dan dioperasikan sukarelawan Aerorozvidka pada 2022 itu membawa sekitar 11 pon bom dengan jangkauan tiga mil, sehingga kru harus mendekat lebih dulu menggunakan quad bike sebelum peluncuran.
R18 umumnya dipersenjatai hulu ledak RPG-7 yang dimodifikasi. Serangan model ini terbukti efektif menembus lapisan atas kendaraan lapis baja dan dikreditkan menghancurkan puluhan kendaraan lapis baja dalam beberapa minggu.
Kazhan kemudian masuk ke kelas yang sama bersama platform lain seperti Vampire dan Heavy Shot. Drone ini pertama kali terlihat pada akhir 2022, lalu mulai diproduksi dalam skala besar pada 2024, sementara tentara Rusia memberinya julukan “Baba Yaga” untuk drone pembom malam itu.
Jangkauan lebih jauh dan muatan lebih besar
Kazhan memiliki jangkauan serang sekitar 6 hingga 15 mil, tergantung muatan yang dibawa. Untuk misi satu arah terhadap target bernilai tinggi, jangkauannya bahkan bisa digandakan.
Kemampuan itu didukung baterai yang lebih baik dan ketahanan yang lebih siap menghadapi musim dingin. Reactive Drone mengembangkan sendiri baterai Li-Po solid state dengan sistem auto-heating yang diklaim unik di Ukraina maupun dunia, lalu memproduksi baterai tersebut di pabriknya di Polandia.
Di sisi komunikasi, Kazhan juga memakai sistem yang lebih kuat. Drone ini bisa menggunakan tiga saluran sekaligus, yakni radio digital terenkripsi dual-band, terminal Starlink, dan konektivitas LTE melalui jaringan seluler.
Muatan lama, cara pakai baru
Kazhan dapat membawa muatan hingga sekitar 70 pon, dengan konfigurasi yang disesuaikan dengan kebutuhan misi. Pilihannya mencakup empat munisi 4 kg untuk melumpuhkan tank, dua muatan anti-personel 7–10 kg dengan radius mematikan sekitar 50 meter, atau satu payload 30 kg untuk menghancurkan bunker.
Menariknya, banyak amunisi yang dipakai masih serupa dengan yang digunakan pada 2022. Persenjataan itu umumnya berasal dari stok Soviet yang dimodifikasi, termasuk bom mortir, ranjau anti-tank, dan bom curah kecil.
Biayanya juga sangat rendah. Bom mortir 82 mm lama disebut sekitar $30, sementara ranjau anti-tank TM-62 sekitar $600, dan Kolesnyk menyebut pembom ini bahkan lebih efisien biaya daripada FPV.
Bukan lagi serangan coba-coba
Perubahan paling penting ada pada metode penyerangannya. Kazhan kini memakai sistem yang membantu operator mengunci target, melacaknya, dan menghitung koordinat secara otomatis dengan AI terintegrasi.
Operator cukup menempatkan bidikan pada target lalu menekan tombol. Sistem kemudian mengoreksi kecepatan, ketinggian, dan hembusan angin sebelum bom dijatuhkan pada momen yang tepat, termasuk ketika target bergerak cepat.
Kemampuan itu membuat Kazhan tidak lagi bergantung pada pendekatan serangan coba-coba seperti drone generasi awal. Platform ini kini berfungsi sebagai alat serang yang lebih presisi di medan perang yang menuntut respons cepat.
Tetap terbang di tengah ancaman lawan
Di sisi lain, Rusia juga meningkatkan pertahanan dengan interceptor FPV, kelompok tembak bergerak, dan jammer radio-frekuensi. Dalam serangan massal, puluhan FPV dan banyak operator darat bisa diarahkan ke satu pesawat sekaligus.
Meski begitu, Kazhan disebut tangguh. Tembakan senjata ringan tidak banyak berpengaruh, dan satu FPV, termasuk yang membawa hulu ledak tinggi, belum tentu cukup untuk menjatuhkannya.
Kolesnyk mengatakan ada banyak kasus ketika platform ini selamat dan kembali. Bahkan setelah kehilangan satu atau dua motor dalam konfigurasi hexacopter, drone masih bisa beroperasi berkat sistem kendali terbang yang stabil dan toleran terhadap kesalahan.
Murah, habis pakai, dan dipakai sepanjang hari
Kazhan diposisikan sebagai sistem attritable berbiaya rendah. Setiap bomber biasanya bertahan sekitar 100 penerbangan, sehingga penggantian cepat memang sudah diperhitungkan sejak awal.
Harga satu unit Kazhan berada di kisaran $20.000 sampai $40.000, tergantung konfigurasi. Dengan harga itu, pesawat nirawak ini jauh lebih murah daripada platform Barat, dan menurut perbandingan Kolesnyk, sekitar 1.000 Kazhan bisa dibeli dengan harga satu MQ-9 Reaper.
Drone ini juga serbaguna. Pada malam hari mereka bisa menjatuhkan bom atau memasang ranjau, lalu pada siang hari dipakai untuk membawa logistik ke garis depan.
Kolesnyk menyebut drone-drone ini bekerja dalam siklus 24 jam dan menjadi unsur penting dalam perang baru yang didominasi drone. Ia juga mengatakan belum ada anggota NATO, termasuk AS, yang memiliki sistem seperti Kazhan saat ini.
