Kebakaran Masih Memangsa Hutan Tropis, Pemulihan Terancam Meski Deforestasi Melambat

Kebakaran menjadi ancaman terbesar bagi hutan tropis dunia saat ini. Dalam data World Resources Institute dan University of Maryland, kebakaran menyumbang 42 persen dari total kehilangan tutupan pohon secara global, sehingga pemulihan hutan masih menghadapi hambatan yang berat.

Tekanan itu terlihat jelas karena kehilangan hutan hujan tropis primer pada tahun lalu masih mencapai 4,3 juta hektare. Angka tersebut setara dengan 11 lapangan sepak bola yang hilang setiap menit, meski secara keseluruhan turun 36 persen dibanding 2024.

Perbaikan ada, tetapi belum aman

Penurunan kehilangan hutan memang memberi sinyal bahwa kebijakan yang lebih tegas mulai bekerja. Elizabeth Goldman, co-director platform Global Forest Watch milik WRI, menyebut turunnya kehilangan hutan dalam satu tahun sebagai perkembangan yang menggembirakan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa sebagian perbaikan bisa dipengaruhi jeda setelah satu tahun kebakaran ekstrem. Artinya, angka yang membaik belum cukup untuk menunjukkan bahwa kawasan hutan tropis benar-benar pulih dari tekanan.

Brasil memberi contoh paling mencolok

Dari sejumlah negara, Brasil mencatat perubahan paling besar. Kehilangan hutan di negara itu, tanpa menghitung area yang terbakar, turun 41 persen dibanding 2024 dan menjadi yang terendah dalam catatan yang tersedia.

Goldman mengaitkan penurunan itu dengan kebijakan lingkungan yang lebih kuat setelah Luiz Inacio Lula da Silva menjabat pada 2023. Brasil kembali menghidupkan rencana aksi antideforestasi dan memperberat sanksi terhadap kejahatan lingkungan.

Meski begitu, penyebab lama belum hilang. Ekspansi pertanian tetap menekan kawasan hutan Brasil, terutama pembukaan lahan untuk kebun kedelai dan peternakan sapi.

Negara lain bergerak dengan hasil yang berbeda

Kolombia juga menunjukkan perbaikan dengan penurunan kehilangan hutan sebesar 17 persen. Para peneliti menyebut capaian itu sebagai tahun kedua terendah sejak 2016, didorong kebijakan pemerintah dan kesepakatan yang membatasi pembukaan hutan.

Indonesia justru mencatat kenaikan kehilangan hutan sebesar 14 persen. Meski meningkat, angkanya masih jauh di bawah puncak yang pernah terlihat satu dekade lalu.

Di Malaysia, langkah pemerintah disebut membantu menahan laju kehilangan hutan agar tidak bergerak naik secepat beberapa negara lain. Gambaran ini menunjukkan bahwa respons kebijakan tidak menghasilkan pola yang sama di setiap negara.

Api dan iklim membuat pemulihan semakin rapuh

Walau kehilangan tutupan pohon secara global turun 14 persen, kebakaran tetap menjadi faktor yang sulit dipisahkan dari krisis hutan. Dalam tiga tahun terakhir, Goldman menyebut kebakaran membakar tutupan pohon lebih dari dua kali lipat dibanding dua dekade lalu.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa api kini makin erat kaitannya dengan perubahan iklim. Para peneliti juga melihat perubahan iklim memperkuat siklus kebakaran alami di wilayah utara dan beriklim sedang.

Kanada menjadi salah satu contoh yang paling ekstrem. Negara itu mengalami tahun kebakaran terburuk kedua dalam catatan, dengan 5,3 juta hektare hutan hangus.

Tekanan masih tinggi di banyak wilayah tropis

Pemulihan global juga belum merata karena beberapa wilayah masih menghadapi kerusakan besar. Bolivia, Republik Demokratik Kongo, Kamerun, dan Madagaskar masih mengalami kehilangan hutan tropis yang besar dan berlangsung terus-menerus.

Matthew Hansen, direktur GLAD Lab di University of Maryland, menegaskan bahwa kebijakan yang baik memang bisa menghasilkan perbaikan. Tetapi ia menilai hasil itu harus dijaga terus-menerus karena perubahan iklim dan pembukaan lahan telah memperpendek jeda menuju kebakaran hutan global.

Dengan situasi seperti itu, gangguan musiman tidak lagi berdiri sendiri. Di banyak tempat, ancamannya telah berubah menjadi keadaan darurat yang nyaris permanen, sementara target 2030 masih menuntut penghentian dan pembalikan deforestasi. Data terbaru menunjukkan kehilangan hutan global masih 70 persen lebih tinggi dari level yang diperlukan untuk mencapai target tersebut, sehingga pemulihan hutan tropis tetap berada dalam tekanan besar.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer