Keputusan Uni Emirat Arab untuk mengakhiri keanggotaannya di OPEC pada 28 April 2026 menjadi salah satu perubahan paling menonjol dalam lanskap energi global. Langkah yang berlaku efektif pada 1 Mei 2026 itu langsung menarik perhatian karena UEA selama ini dikenal sebagai salah satu produsen minyak penting dalam kartel.
Di balik keputusan tersebut, Abu Dhabi tampak ingin memperluas ruang gerak strategisnya di luar batasan lama yang selama ini mengikat kebijakan produksinya. Dorongan itu juga berkaitan dengan ambisi UEA mengalihkan kekuatan dari hidrokarbon ke sektor-sektor masa depan di tengah percepatan transisi energi dunia.
Tekanan dari kuota produksi
Selama bergabung dengan OPEC, UEA memang mendapat keuntungan dari koordinasi pasar, tetapi pada saat yang sama harus menyesuaikan produksi dengan kuota bersama. Masalahnya, kapasitas UEA disebut telah mencapai 4,85 juta barel per hari, sementara kuota yang sering berada di sekitar 3,5 juta barel per hari membuat ruang produksi negara itu terasa tertekan.
Selisih itulah yang mendorong Abu Dhabi menilai ada pendapatan besar yang tidak bisa dimaksimalkan. Berdasarkan perhitungan dalam sumber referensi, jika harga minyak berada di kisaran 100 dollar AS per barel, kondisi tersebut dapat berarti hilangnya pendapatan kotor sekitar 49 miliar dollar AS per tahun.
Strategi mengejar nilai sebelum minyak turun
Langkah keluar dari OPEC juga sejalan dengan cara pandang baru terhadap cadangan minyak UEA. Di bawah kepemimpinan Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, negara itu mendorong doktrin “barel terakhir”, yakni upaya mempercepat monetisasi hidrokarbon sebelum nilainya tergerus oleh pergeseran ke kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa UEA ingin memaksimalkan nilai minyak pada saat masih tinggi, lalu mengalihkan hasilnya ke sektor yang dianggap lebih tahan masa depan. Karena itu, fokus investasi mulai digeser ke kecerdasan buatan, hidrogen hijau, dan teknologi luar angkasa sebagai mesin pertumbuhan berikutnya.
ADNOC dan dorongan kapasitas produksi
Di tingkat industri, keputusan ini juga mencerminkan strategi hulu yang agresif. Sejak 2023, ADNOC menjalankan program lima tahun senilai 150 miliar dollar AS untuk mendorong kapasitas produksi berkelanjutan hingga 5 juta barel per hari pada 2027.
Upaya itu tidak hanya menyasar volume, tetapi juga efisiensi biaya. ADNOC memanfaatkan pulau buatan seperti Asseifiya, Ettouk, dan Al Ghallan di lapangan lepas pantai Upper Zakum dan SARB, sehingga rig pengeboran darat yang lebih murah bisa dipakai lebih luas.
Peta persaingan di Timur Tengah
Keputusan Abu Dhabi juga tidak bisa dilepaskan dari rivalitas regional, terutama dengan Arab Saudi. Persaingan kedua negara kini tidak hanya berkaitan dengan minyak, tetapi juga perebutan investasi asing dan status sebagai pusat ekonomi utama di Timur Tengah.
Ketegangan itu sempat meningkat ketika Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi menyerang pelabuhan Mukalla di Yaman pada 29 Desember 2025. Serangan tersebut menargetkan pengiriman senjata dan kendaraan lapis baja dari UEA untuk Dewan Transisi Selatan atau STC, kelompok separatis yang didukung Abu Dhabi.
Pesan baru untuk Washington dan Beijing
Keluarnya UEA dari OPEC juga dibaca sebagai sinyal ke kekuatan besar, terutama Washington dan Beijing. Dari sisi Amerika Serikat, langkah itu dianggap sejalan dengan kritik terhadap harga energi tinggi, sementara dari sisi China, UEA membuka ruang kerja sama yang lebih longgar di luar batas kuota kartel.
Beberapa hari sebelum pengumuman penarikan diri dari OPEC, kunjungan Sheikh Khaled bin Mohamed Al-Nahyan ke Beijing menghasilkan 24 perjanjian strategis di bidang AI, energi bersih, dan infrastruktur. Bagi China, situasi ini memberi akses yang lebih langsung untuk bernegosiasi dengan UEA sebagai pemasok minyak besar tanpa pembatasan kartel.
Dalam susunan baru ini, UEA tampak memilih menjadi pemain yang lebih lincah dan tidak terlalu bergantung pada solidaritas blok produsen. OPEC kehilangan salah satu produsen kunci, sementara Abu Dhabi memasuki fase yang menautkan minyak, modal, dan teknologi dengan cara yang lebih mandiri.
