Kemandirian Vaksin Masih Jauh, Pemerintah Kejar 15 Antigen Sebelum 2029

Author: Redaksi Android62

Indonesia masih harus mengejar banyak ketertinggalan untuk benar-benar mandiri dalam produksi vaksin. Dari 15 antigen vaksin yang dibutuhkan nasional, kemampuan produksi mandiri baru mencakup 4 antigen, sementara sisanya masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Pemerintah kini memasang target yang lebih tegas: menguasai riset dan pengembangan atas 11 antigen vaksin, lalu memproduksi seluruh 15 antigen secara mandiri sebelum 2029. Target itu menjadi penanda bahwa penguatan industri vaksin tidak lagi hanya menyangkut perakitan akhir, tetapi juga penguasaan proses dari hulu ke hilir.

Masih Bergantung pada Bahan Baku Impor

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa Indonesia selama ini belum sepenuhnya menguasai rantai produksi vaksin. Yang banyak dilakukan di dalam negeri masih sebatas perakitan dan pengemasan akhir, sedangkan bahan baku penting tetap berasal dari negara lain.

Dalam penjelasan itu, Budi menyebut bahan baku untuk tahap awal pembuatan vaksin masih diimpor, terutama dari China dan India. Kondisi tersebut membuat kemandirian vaksin belum bisa disebut utuh, meski Indonesia sudah menghasilkan 13 jenis vaksin.

Informasi Jumlah Keterangan
Antigen vaksin yang dibutuhkan nasional 15 Menjadi target kemandirian produksi
Antigen yang ditargetkan untuk riset dan pengembangan 11 Ditargetkan sebelum 2029
Antigen yang sudah bisa diproduksi mandiri 4 Masih terbatas dibanding kebutuhan nasional
Jenis vaksin yang telah dihasilkan 13 Satu vaksin dapat mengandung beberapa antigen

Teknologi Viral Vector dan mRNA Masih Jadi Tantangan

Budi juga menyoroti perlunya penguasaan teknologi vaksin yang lebih maju, termasuk viral vector seperti yang dipakai AstraZeneca dan teknologi messenger RNA atau mRNA. Menurutnya, Indonesia belum menguasai dua teknologi tersebut, padahal keduanya penting untuk memperluas kemampuan produksi vaksin modern.

Karena itu, pemerintah menaruh dua sasaran utama pada penguatan riset dan peningkatan kapasitas nasional. Pertama, agar vaksin bisa diproduksi sepenuhnya di dalam negeri. Kedua, agar Indonesia mampu mengembangkan antigen dengan dua teknologi tersebut secara mandiri.

Libatkan BRIN, Bio Farma, dan Perguruan Tinggi

Untuk mengejar target itu, Budi meminta dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bio Farma, serta berbagai mitra strategis. Kolaborasi lintas lembaga dinilai penting agar transfer teknologi bisa berlangsung lebih cepat.

Dalam pernyataan yang dikutip Antara dan diberitakan Beritasatu pada Rabu (8/7/2026), Budi berharap kemandirian vaksin dapat tercapai sebelum masa jabatan Presiden Prabowo Subianto berakhir. Ia juga menegaskan harapan agar perusahaan pembuat vaksin di dalam negeri mampu memproduksi 15 antigen tersebut sebelum 2030, dengan syarat tetap memerlukan persetujuan Kepala BPOM Taruna Ikrar.

Lebih dari Sekadar Riset

Budi menilai pengembangan vaksin dalam negeri tidak berhenti pada capaian ilmiah. Jika hasil penelitian bisa diwujudkan menjadi produk, industri akan memiliki pasar yang menyerapnya dan memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Ia menambahkan, hasil penelitian baru benar-benar bermanfaat jika diterapkan menjadi produk yang menyelamatkan masyarakat. Bagi para ilmuwan, keberhasilan mengubah riset menjadi inovasi yang digunakan luas disebut lebih bernilai daripada sekadar publikasi ilmiah.

Dengan target 11 antigen untuk riset dan pengembangan sebelum 2029, pemerintah kini menempatkan kemandirian vaksin sebagai agenda besar industri kesehatan nasional. Tantangannya bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan kemampuan mengubah riset menjadi produk yang benar-benar bisa dibuat di dalam negeri.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru