Saat Sendi Mulai Protes, Pelari Sering Terlambat Menyadari Bahayanya

Author: Redaksi Android62

Nyeri yang terpusat di satu titik tulang, rasa sakit yang hanya muncul di satu sisi tubuh, atau keluhan yang sempat reda saat pemanasan lalu kembali setelah latihan, merupakan tanda yang tidak boleh dianggap biasa. Pada pelari dan penggiat kebugaran, gejala seperti ini bisa mengarah pada cedera jaringan, tendon, bahkan stress fracture atau patah tulang akibat tekanan berulang.

Dr. Alan Cheung, Spesialis Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura, mengingatkan bahwa memaksakan latihan saat tubuh sudah memberi sinyal bahaya dapat memperburuk kerusakan. Ia menilai kebiasaan menahan nyeri yang tidak wajar justru berisiko membuat sendi tidak stabil dan mempercepat kerusakan jaringan.

Nyeri Otot Biasa Tidak Sama dengan Cedera

Rasa pegal setelah olahraga memang tidak selalu menandakan masalah serius. Delayed Onset Muscle Soreness atau DOMS, yakni nyeri otot yang muncul satu hingga dua hari setelah latihan, masih tergolong wajar.

Namun, kondisi berbeda perlu diwaspadai jika rasa sakit terasa membaik saat pemanasan lalu kembali muncul setelah latihan selesai. Pola seperti itu bisa menunjukkan adanya peradangan kronis pada jaringan atau tendon yang mulai terdampak beban berlebih.

Tanda yang Perlu Diwaspadai Arti yang Mungkin Terjadi Dampak
Nyeri terpusat di satu titik tulang Indikasi awal stress fracture Risiko patah tulang akibat tekanan berulang
Nyeri hanya di satu sisi tubuh Beban tubuh tidak seimbang Memicu cedera lanjutan pada sisi lain
Sakit reda saat pemanasan lalu kembali setelah latihan Peradangan kronis pada jaringan atau tendon Beban berlebih mulai berdampak serius

Ketika rasa sakit membuat seseorang pincang atau mengubah cara berjalan, risiko tidak berhenti di area yang semula sakit. Beban tubuh akan berpindah ke sisi lain, lalu memunculkan masalah baru pada bagian yang sebelumnya tidak bermasalah.

Memaksa Latihan Bisa Memperpanjang Masalah

Menurut Dr. Alan Cheung, banyak pelari dan penggiat olahraga masih menganggap rasa sakit sebagai tanda ketangguhan. Padahal, cedera yang diabaikan dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih serius jika latihan tetap dipaksakan.

Ia menegaskan bahwa cedera otot akut atau nyeri sendi yang tidak kunjung mereda setelah metode RICE, yaitu Rest, Ice, Compression, dan Elevation, sebaiknya segera diperiksa secara medis. Menunda pemeriksaan hanya memberi ruang bagi kerusakan untuk bertambah luas.

Latihan yang tetap diteruskan saat cedera juga dapat mempercepat gangguan pada sendi. Dalam jangka panjang, kondisi itu disebut bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti osteoartritis.

Pemulihan Menentukan Ketahanan Tubuh

Di tengah popularitas maraton, HYROX, dan functional fitness di Indonesia, beban latihan sering meningkat lebih cepat daripada kemampuan tubuh beradaptasi. Sistem muskuloskeletal memiliki batas dalam menerima tekanan, sehingga pemulihan harus diperlakukan sama pentingnya dengan latihan.

Penambahan jarak lari, frekuensi latihan, maupun intensitas olahraga perlu dilakukan bertahap. Cara ini memberi waktu bagi otot dan tulang untuk menyesuaikan diri dengan beban yang semakin besar.

Tidur yang cukup dan asupan nutrisi seimbang juga memegang peran penting. Mineral seperti kalsium dan vitamin D dibutuhkan untuk menjaga kepadatan tulang, terutama bagi atlet perempuan yang disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan tulang.

Selain itu, cross-training dengan olahraga berdampak rendah seperti berenang, bersepeda, atau mendayung dapat membantu menjaga kebugaran kardiovaskular tanpa menekan sendi secara berlebihan. Latihan kekuatan pada otot inti, paha, pinggul, dan betis juga penting karena otot yang kuat membantu menyerap benturan saat berlari.

Pada akhirnya, target finish line memang penting, tetapi kesehatan sendi dan tulang menentukan apakah seseorang bisa tetap berlari dalam jangka panjang. Dengan mengenali tanda cedera sejak awal dan memberi tubuh waktu pulih, pelari dan atlet rekreasional punya peluang lebih besar untuk tetap aktif tanpa harus berhenti karena cedera yang seharusnya bisa dicegah.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru