Kepastian RKAB Ditunggu, Pembiayaan Alat Berat Mulai Diperketat Multifinance

Author: Redaksi Android62

Pelaku multifinance mulai mengerem penyaluran pembiayaan alat berat karena ketidakpastian penyesuaian rencana kerja dan anggaran biaya atau RKAB batu bara belum juga reda. Kondisi ini membuat perusahaan pembiayaan menahan langkah, sementara pelaku tambang juga cenderung menunda rencana ekspansi dan pembelian unit baru.

Di saat yang sama, aktivitas tambang belum benar-benar berhenti sehingga kebutuhan pembiayaan masih muncul, meski lebih banyak bergeser ke kebutuhan yang sifatnya mendesak. Sparepart, solar, dan modal kerja disebut masih menjadi ruang yang tetap bergerak di tengah pasar yang melambat.

Permintaan mulai melandai

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno menilai pasar saat ini berada dalam fase menunggu kepastian arah kebijakan. Ia melihat pengusaha tambang cenderung berhati-hati menambah armada karena alat yang sudah tersedia pun belum tentu terpakai penuh.

Menurut Suwandi, situasi itu otomatis menahan keputusan investasi baru. Jika izin penambahan produksi belum jelas atau justru berisiko berkurang, maka minat terhadap pembiayaan alat berat ikut melemah.

Ia menambahkan, industri multifinance pada akhirnya juga bergantung pada debitur lama agar pembayaran cicilan tetap berjalan. Karena itu, perusahaan pembiayaan masih berharap ada penopang dari kebutuhan modal usaha dan modal kerja yang tetap dibutuhkan sektor tambang.

Perlambatan sudah terlihat di lapangan

Suwandi yang juga Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing atau CSUL menyebut tanda pelambatan sudah tampak di kuartal I/2026. Perusahaannya membiayai 227 unit alat berat pada tahun lalu, sedangkan tahun ini baru 145 unit, termasuk truk dan unit pendukung tambang lainnya.

Perbandingan itu menunjukkan kehati-hatian terjadi di dua sisi sekaligus, baik dari debitur maupun pemberi pembiayaan. Saat ekspansi tambang tertahan, kebutuhan untuk menambah alat produksi ikut menyusut dan langsung memengaruhi volume pembiayaan.

Multifinance memperketat seleksi

Adira Finance juga melihat belum pastinya penyesuaian RKAB batu bara sebagai faktor yang membuat pembiayaan alat berat harus dijalankan lebih hati-hati. Meski begitu, perusahaan menegaskan eksposurnya tidak hanya bertumpu pada batu bara karena portofolionya juga mencakup konstruksi, pertanian, infrastruktur, dan sektor lain.

Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan kondisi tersebut membuat ekspansi dilakukan lebih selektif. Perusahaan tetap menjaga pertumbuhan yang sehat dengan membuka peluang pada sektor lain yang masih membutuhkan alat berat.

Adira juga memperkuat prudent underwriting serta menjaga kualitas portofolio lewat monitoring dan collection yang disiplin. Pada Maret 2026, total pembiayaan alat berat Adira Finance tercatat Rp136 miliar dan masih tumbuh positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Diversifikasi jadi penyangga utama

BRI Finance mengambil pendekatan serupa dengan menyesuaikan strategi pembiayaan secara adaptif dan prudent. Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan perusahaan memperkuat manajemen risiko, meningkatkan selektivitas, dan memantau portofolio secara intensif, terutama di sektor yang sensitif terhadap harga komoditas.

Bagi BRI Finance, diversifikasi ke sektor produktif lain menjadi cara penting untuk menjaga keseimbangan portofolio. Pada kuartal I/2026, pembiayaan alat berat berkontribusi 17,80% terhadap total portofolio pembiayaan, sementara penyalurannya tumbuh 33,26% secara tahunan.

Aditia juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada arahan regulator yang berdampak langsung pada penyaluran pembiayaan alat berat. Karena itu, aktivitas pembiayaan masih berjalan normal dengan dukungan kebutuhan operasional dan kontrak yang sudah berjalan.

Risiko dijaga, ruang ekspansi tetap dicari

Clipan Finance Indonesia juga ikut mencermati perkembangan regulasi dan proses penyesuaian RKAB sebagai bagian dari manajemen risiko. Direktur Utama Clipan Finance Indonesia Harjanto Tjitohardjojo mengatakan perusahaan menerapkan evaluasi kredit yang lebih ketat tanpa menghentikan penyaluran pembiayaan secara keseluruhan.

Porsi pembiayaan ke sektor pertambangan batu bara disebut masih terukur dan terkendali. Pada saat yang sama, Clipan Finance memperluas penyaluran ke perkebunan, konstruksi, dan infrastruktur agar risiko tidak menumpuk di satu sektor.

Pola tersebut menunjukkan bahwa multifinance masih melihat peluang di alat berat, tetapi dengan komposisi yang lebih seimbang. Penyebaran pembiayaan ke berbagai wilayah juga dipakai untuk menjaga pertumbuhan portofolio tetap positif.

Ketiadaan kepastian menahan proyek baru

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bakhtiar menilai ketidakpastian RKAB batu bara memberi dampak besar pada penyaluran pembiayaan multifinance. Ia menilai pelaku tambang menunda ekspansi dan pembelian alat berat karena tidak berani berspekulasi dengan kondisi keuangan yang belum jelas.

Bisman menekankan bahwa ketiadaan kepastian produksi membuat banyak proyek tertunda dan permintaan pembiayaan ikut melemah. Dalam situasi seperti itu, industri pembiayaan didorong memperluas portofolio ke sektor lain seperti konstruksi, logistik, dan energi terbarukan.

Ia juga menyarankan skema pembiayaan dibuat lebih fleksibel untuk mengakomodasi risiko sektor tambang yang besar unsur ketidakpastiannya. Di tengah kondisi yang masih serba menunggu, seleksi kredit yang disiplin dan diversifikasi sektor menjadi penopang utama agar pembiayaan alat berat tetap bergerak.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru