Kepercayaan Karyawan Tertinggal, Ambisi AI Indonesia Terancam Oleh Fondasi Kerja yang Rapuh

Author: Redaksi Android62

AI sedang dipacu cepat di Indonesia, tetapi tingkat kepercayaan dan kesiapan karyawan belum ikut bergerak seiring. Laporan The Paradox of Progress dari Lark menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan lagi soal menambah teknologi, melainkan membenahi pengalaman kerja yang masih terpecah.

Temuan itu memperlihatkan paradoks yang mencolok di banyak organisasi. Di satu sisi, sembilan dari sepuluh pemberi kerja aktif membangun budaya yang merangkul perubahan teknologi, namun hanya 19% organisasi di Indonesia yang menyebut diri sudah matang secara digital.

Karyawan melihat jarak yang lebar dengan pimpinan

Riset yang melibatkan 900 pemberi kerja dan lebih dari 5.000 karyawan di Asia Tenggara itu mencatat 63% karyawan di Indonesia merasa pimpinan mereka terputus dari kebutuhan digital sehari-hari. Kondisi ini membuat transformasi terlihat kuat di level strategi, tetapi tidak selalu terasa membantu di tingkat operasional.

Ketidakselarasan itu juga tampak pada arah investasi. Teknologi lebih banyak diarahkan ke unit yang memberi penghematan biaya langsung, seperti IT, Keuangan, dan Pemasaran, sedangkan Pengalaman Karyawan dan SDM tertinggal di angka 54%.

Alat digital yang banyak belum tentu membuat kerja lebih ringan

Masalah lain muncul dari cara kerja yang masih terfragmentasi. Sebanyak 58% karyawan kehilangan tiga jam atau lebih setiap minggu karena inefisiensi kolaborasi digital, sementara hampir separuh harus mengecek berbagai platform setiap jam agar tetap sinkron.

Kondisi itu menunjukkan bahwa penambahan aplikasi tidak otomatis meningkatkan produktivitas. Jika sistem kerja tetap terpisah-pisah, teknologi baru justru berisiko menambah lapisan koordinasi yang melelahkan bagi karyawan.

Olivier Adam, General Manager Asia Pasifik di Lark, menegaskan bahwa organisasi bisa mempercepat masalah yang salah bila menumpuk AI di atas pengalaman kerja yang sudah terfragmentasi. Pandangan itu menempatkan fondasi kerja sebagai faktor penentu sebelum AI digunakan lebih luas.

Inovasi belum mendapat ruang yang cukup

Di atas kertas, banyak pimpinan menyatakan mendukung pemberdayaan dan inovasi. Namun, hanya 31% karyawan yang merasa punya otonomi tinggi untuk mengajukan ide baru, sehingga ruang bereksperimen masih terbatas.

Kebutuhan pelatihan juga belum tertangani dengan baik. Sebanyak 86% karyawan mengatakan mereka memerlukan dukungan lebih besar dalam keamanan siber dan produktivitas AI, tetapi hanya 36% yang merasa cukup terlatih untuk berinovasi dengan percaya diri.

Transparansi AI masih menjadi titik lemah

Di tengah dorongan transformasi digital, kejelasan soal penerapan AI masih rendah. Hanya 30% karyawan yang merasa organisasi mereka transparan tentang bagaimana AI digunakan dalam pekerjaan.

Kurangnya keterbukaan itu ikut memicu kekhawatiran. Sebanyak 46% karyawan percaya AI pada akhirnya bisa membuat peran mereka menjadi usang, sementara mayoritas juga memiliki keraguan keamanan terhadap penggunaan teknologi ini secara luas.

Karyawan sebenarnya menunggu manfaat yang nyata

Meski ada kekhawatiran, data menunjukkan karyawan Indonesia bukan menolak AI. Sebanyak 90% responden justru menantikan AI mengambil alih tugas rutin agar mereka bisa fokus pada pekerjaan kreatif yang bernilai lebih tinggi.

Artinya, persoalan utama terletak pada penerapan yang belum disertai pelatihan memadai, penjelasan yang transparan, dan sistem kerja yang terhubung. Tanpa tiga hal itu, ambisi AI Indonesia akan terus bergantung pada pengalaman karyawan yang belum siap menopang perubahan besar.

Lark juga mencatat organisasi yang sudah mengonsolidasikan platform melaporkan peningkatan efisiensi sebesar 92% serta hambatan komunikasi yang jauh lebih kecil. Temuan tersebut menegaskan bahwa perbaikan fondasi kerja menjadi syarat penting jika transformasi digital ingin benar-benar menghasilkan lompatan produktivitas.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru