Laptop di kisaran Rp5 jutaan kini tidak lagi menawarkan nilai beli yang semudah beberapa tahun lalu. Di harga yang sama, pembeli kerap mendapati spesifikasi yang lebih biasa, bahkan pada beberapa model masih sebatas Intel Celeron.
Situasi ini membuat banyak calon pembeli ragu, terutama mereka yang ingin perangkat dipakai dalam jangka panjang. Kebutuhan perangkat lunak yang terus berkembang membuat laptop kelas murah lebih cepat terasa tertinggal.
Spesifikasi yang dulu mudah dijangkau kini bergeser naik
Beberapa tahun lalu, pasar laptop di rentang Rp4 jutaan masih cukup ramah bagi pembeli. Pada kisaran itu, pengguna masih bisa menemukan laptop dengan AMD Ryzen 5 3200U atau Intel Core i3 generasi ke-11, terutama dari merek lokal.
Keadaan tersebut kini berubah. Prosesor yang sama banyak dijual di kisaran Rp5 jutaan, sehingga konsumen harus membayar lebih mahal untuk spesifikasi yang sebelumnya bisa diperoleh dengan dana lebih kecil.
| Rentang Harga | Prosesor yang Masih Ditemukan | Catatan |
|---|---|---|
| Rp4 jutaan | AMD Ryzen 5 3200U, Intel Core i3 generasi ke-11 | Lebih mudah ditemui pada merek lokal |
| Rp5 jutaan | Prosesor yang sama, sebagian model masih Intel Celeron | Nilai beli terasa menurun |
Harga komponen ikut menekan pasar
Kenaikan harga laptop juga dipengaruhi komponen di dalamnya. Tren Artificial Intelligence meningkatkan permintaan terhadap RAM dan SSD untuk pusat data, sehingga tekanan pada komponen memori ikut naik.
Di saat yang sama, industri semikonduktor masih merasakan dampak gangguan rantai pasok. Biaya produksi berbagai komponen pun belum sepenuhnya kembali normal.
Gabungan dua faktor itu membuat produsen menyesuaikan harga jual agar margin keuntungan tetap terjaga. Akibatnya, laptop dengan spesifikasi yang sama kini dijual lebih mahal dibanding sebelumnya.
Software berkembang lebih cepat daripada laptop murah
Masalah laptop Rp5 jutaan tidak berhenti di harga. Tantangan berikutnya datang dari software yang berkembang lebih cepat daripada peningkatan spesifikasi di kelas ini.
Windows 11, browser modern, aplikasi produktivitas, dan fitur berbasis AI kini menuntut RAM, storage, dan performa prosesor yang lebih besar. Perangkat yang hari ini masih terasa cukup dapat lebih cepat kewalahan dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, laptop di kelas ini kurang ideal jika target pemakaian mencapai lima tahun atau lebih. Perangkatnya tetap layak, tetapi ruang tumbuhnya terbatas untuk kebutuhan komputasi yang terus membesar.
Masih relevan, tetapi untuk kebutuhan ringan
Meski begitu, laptop Rp5 jutaan tetap bisa dipilih untuk belajar, bekerja, dan aktivitas komputasi ringan. Pembeli hanya perlu melihatnya sebagai perangkat dengan batas kemampuan yang lebih jelas dibanding beberapa tahun lalu.
Bagi pengguna yang menginginkan laptop bertahan lebih lama, menambah budget untuk spek yang lebih modern menjadi pertimbangan yang lebih masuk akal. Pasar laptop kelas menengah bawah kini menuntut pembeli lebih cermat membaca kebutuhan, karena harga yang naik tidak selalu diikuti lonjakan spesifikasi yang sepadan.
