Kerang Hijau Terancam Akumulasi Kadmium, BRIN Soroti Logam Berat Di Teluk Jakarta

Konsumsi kerang, kepiting, dan biota laut dari Teluk Jakarta kini perlu lebih cermat karena kawasan itu terpapar lima jenis logam berat. Badan Riset dan Inovasi Nasional menemukan seng, tembaga, nikel, timbal, dan kadmium di sedimen dasar perairan tersebut.

Temuan ini penting karena logam berat yang mengendap di dasar laut tidak berhenti di sedimen. Zat itu dapat masuk ke organisme laut, lalu bergerak ke rantai makanan dan pada akhirnya memengaruhi kesehatan manusia dalam jangka panjang.

Sebaran logam berat di sedimen

Dari hasil analisis BRIN, seng menjadi salah satu unsur yang paling dominan di Teluk Jakarta. Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani, juga menjelaskan bahwa timbal dan tembaga terdeteksi melebihi ambang batas standar internasional di beberapa titik.

Keberadaan lima logam berat itu menunjukkan tekanan lingkungan yang kuat di kawasan teluk. Sedimen dasar laut memang menjadi tempat berbagai polutan menumpuk, sehingga dampaknya bisa bertahan lebih lama dibandingkan pencemaran yang hanya lewat di permukaan.

Organisme laut yang paling terdampak

Kondisi tersebut dinilai paling berisiko bagi organisme bentik, yaitu makhluk hidup yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen. Kelompok biota ini berada di jalur awal paparan karena kontaknya yang erat dengan dasar perairan.

BRIN menekankan bahwa logam berat dapat terakumulasi di tubuh organisme laut. Kerang, kepiting, dan biota bentik lain menjadi kelompok yang perlu diperhatikan karena unsur cemar itu dapat berpindah ke jaringan tubuh mereka.

Risiko masuk ke rantai makanan

Peneliti BRIN Lestari menilai tingkat risiko logam berat di Teluk Jakarta menggunakan metode Risk Assessment Code atau RAC. Hasil penilaian itu menunjukkan Zn berpotensi tinggi terserap oleh organisme laut dan masuk ke rantai makanan.

Cu dan Pb disebut lebih stabil dan risikonya relatif lebih rendah, tetapi tetap berpotensi terserap oleh organisme. Risiko menjadi lebih serius ketika hewan laut yang terpapar dikonsumsi manusia secara berulang.

Karena itu, kerang dan kepiting menjadi perhatian utama. Konsumsi berulang terhadap hasil laut yang sudah terpapar dapat membuat logam berat masuk ke tubuh manusia dan meningkatkan risiko kesehatan dalam jangka panjang.

Tekanan besar dari wilayah daratan

Teluk Jakarta berada di bawah tekanan lingkungan yang besar akibat urbanisasi dan industrialisasi yang pesat di wilayah Jabodetabek. Tekanan itu ikut tercermin pada pencemaran logam berat di sedimen dasar laut.

Sumber pencemar di kawasan ini datang dari banyak jalur. Alirannya bisa berasal dari sungai, limbah domestik, limbah industri, aktivitas pelabuhan, perkapalan, limpasan kawasan padat penduduk, hingga residu aktivitas pertanian.

Kadmium ikut jadi sorotan

Selain unsur lain yang terdeteksi, kadmium juga menjadi perhatian karena berpotensi memicu risiko non-karsinogenik pada manusia. Risiko itu terutama dikaitkan dengan akumulasi Cd pada jaringan kerang hijau.

BRIN menilai persoalan ini tidak hanya soal kualitas lingkungan laut. Isunya juga menyangkut keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut yang bergantung pada perairan Teluk Jakarta.

Upaya pengendalian perlu dimulai dari hulu

Untuk menekan pencemaran agar tidak terus berulang, BRIN menyebut pengendalian harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Langkah yang disarankan mencakup pengendalian limbah industri, peningkatan sistem pengolahan air limbah domestik, dan pengawasan kualitas sungai yang bermuara ke teluk.

Pemantauan rutin cemaran pada sedimen dan biota laut juga dinilai penting. Di sisi lain, edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan pesisir serta pengaturan konsumsi hasil laut menjadi bagian lain yang tidak kalah penting.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait