Kerikil di Lambungnya Membantu Spotted Shag Menyelam dan Menaklukkan Laut Selandia Baru

Di pesisir berbatu Selandia Baru, spotted shag punya kebiasaan yang terdengar tidak biasa: burung ini menelan kerikil kecil dari dasar laut. Batu-batu itu bukan makanan, tetapi membantu tubuhnya menggiling mangsa, diduga membuat lambung kurang ramah bagi паразit usus, dan berperan sebagai ballast saat bergerak di air.

Kebiasaan itu cocok dengan cara hidupnya yang sangat bergantung pada laut terbuka. Spotted shag, atau Phalacrocorax punctatus, adalah burung laut endemik yang mengandalkan kemampuan menyelam efisien untuk mencari makan di sekitar tebing pantai dan perairan lepas.

Adaptasi yang membantu di bawah air

Sebagai anggota keluarga kormoran, tubuh spotted shag memang mendukung gerakan di air. Burung ini menyelam langsung dari permukaan lalu mendorong tubuhnya dengan sepasang kaki berselaput untuk mengejar mangsa.

Durasi selamnya rata-rata sekitar 30 detik, lalu ia naik ke permukaan dan beristirahat sekitar 10 hingga 15 detik sebelum menyelam lagi. Dalam kondisi tertentu, selam terlama burung ini bisa mencapai 70 detik.

Makanannya terdiri dari ikan kecil, cumi-cumi, dan organisme plankton. Spotted shag juga tidak selalu berburu sendirian karena perilaku mencari makannya kerap dilakukan secara berkelompok.

Menjelajah jauh demi makanan

Burung ini tidak hanya beraktivitas di dekat pantai. Ia bisa menjelajah hingga 16 kilometer dari daratan untuk mencari sumber makanan di laut lepas.

Dalam perburuan, spotted shag sering mengikuti pergerakan kawanan ikan agar peluang mendapatkan mangsa lebih besar. Pola ini menunjukkan betapa kuat ketergantungannya pada kondisi laut dan ketersediaan makanan di wilayah jelajahnya.

Kerikil yang ditelannya kadang dimuntahkan lagi saat burung beristirahat di pantai berpasir. Benda-benda kecil itu keluar dalam bentuk gumpalan, menandakan bahwa kerikil memang diperlakukan sebagai alat bantu, bukan bagian permanen dari makanan.

Wajahnya berubah saat musim kawin

Penampilan spotted shag juga berubah saat memasuki musim reproduksi. Burung dewasa memiliki bintik-bintik hitam kecil di ujung bulu punggung dan sayap abu-abu perak, ciri yang ikut menjadi asal nama spesiesnya.

Tingginya berada di kisaran 64 hingga 74 sentimeter. Menjelang musim kawin, area kulit tanpa bulu di antara mata dan paruh berubah menjadi hijau kebiruan cerah, sementara lingkar mata menjadi biru.

Pada fase yang sama, muncul sepasang jambul hitam ganda yang melengkung ke depan di dahi dan belakang kepala. Perubahan ini membuat penampilannya jauh lebih mencolok dibandingkan di luar musim kawin.

Koloni besar di tebing curam

Saat musim reproduksi tiba, spotted shag membangun sarang dalam koloni besar di celah atau langkan tebing batu yang curam. Satu komunitas bisa mencapai 700 pasang, biasanya di lokasi yang berbatasan langsung dengan laut.

Mereka memilih dinding tebing vertikal untuk mengurangi gangguan dari satwa darat. Sarangnya beralas datar dan disusun dari ranting kering, rumput, serta tanaman pantai yang dilapisi rumput laut.

Pasangan monogami bergantian mengerami tiga hingga empat telur berwarna biru muda selama sekitar 30 hari. Di area koloni, burung camar paruh merah juga kerap mendekat untuk mengincar muntahan makanan dari anak burung yang baru menetas.

Tekanan berat di wilayah utara

Di utara Selandia Baru, populasi spotted shag menghadapi tekanan besar akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Kawasan Teluk Hauraki, Auckland, mengalami penurunan drastis selama abad ke-20.

Kini, kelompok burung di wilayah utara itu hanya tersisa satu koloni utama di Firth of Thames dengan sekitar 300 pasang. Analisis DNA juga menunjukkan populasi Auckland memiliki struktur genetika yang berbeda dan terisolasi dari populasi besar di Pulau Selatan.

Penurunan tersebut dikaitkan dengan perubahan habitat buruan di laut dan penggunaan jaring ikan komersial yang membuat burung sering terjebak lalu tenggelam saat menyelam. Data spesimen museum juga menunjukkan bahwa selama 150 tahun terakhir, burung-burung ini harus berburu lebih jauh ke tengah laut dan mengonsumsi lebih sedikit ikan karena pasokan makanan menyusut.

Source: www.idntimes.com

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait