Pernyataan terbaru dari Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengungkap bahwa kapal perang USS Spruance mencegat kapal kargo berbendera Iran yang diduga berusaha menembus blokade angkatan laut AS di Teluk Oman. Dalam keterangan itu, marinir AS disebut masih menahan kapal tersebut, sementara pihak AS juga merilis video di platform X yang memperlihatkan kapal perang memberi peringatan sebelum melepaskan tembakan.
Insiden ini segera memicu respons keras dari Iran, yang menyebut tindakan itu sebagai pembajakan maritim setelah sistem navigasi kapal dilumpuhkan. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa pasukannya akan segera menanggapi dan membalas apa yang disebutnya sebagai pembajakan bersenjata oleh militer AS.
Ketegangan di jalur strategis
Peristiwa di Teluk Oman kembali menyorot betapa sensitifnya wilayah tersebut bagi arus pelayaran internasional. Kawasan ini merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan di sana dapat langsung memicu kekhawatiran luas di tingkat internasional.
Dalam situasi seperti ini, penyitaan kapal atau insiden bersenjata di laut tidak hanya berdampak pada hubungan dua negara, tetapi juga pada keamanan pelayaran di kawasan yang sangat vital. Karena itu, setiap perkembangan baru di Teluk Oman mendapat perhatian ketat dari banyak pihak.
Versi Iran tentang penyitaan kapal
Dari sisi Teheran, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa serangan drone dilakukan setelah kapal Iran disita di perairan Teluk Oman. Laporan itu belum menjelaskan secara rinci apakah kapal yang diserang merupakan kapal militer atau kapal komersial.
Iran sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa kapal berbenderanya disita pasukan AS. Teheran kemudian menyebut tindakan tersebut melanggar gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan dan mulai berlaku sejak 7 April.
Kantor berita Fars juga mengutip Markas Besar Khatam an-Albiya yang menuduh pasukan AS menonaktifkan sistem navigasi kapal sebelum menaikinya. Tuduhan itu membuat Iran memandang insiden tersebut bukan sebagai intersepsi biasa di laut.
Klaim dan bantahan yang saling bertabrakan
CENTCOM membenarkan adanya insiden itu setelah sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Lembaga tersebut mengatakan kapal yang dicegat adalah kapal kargo berbendera Iran bernama Touska, yang disebut sedang menuju Bandar Abbas sebelum dihentikan.
Data pelacakan kapal juga menunjukkan Touska berangkat dari Port Klang, Malaysia, pada 12 April sebelum insiden terjadi. Informasi itu memperlihatkan bahwa kapal tersebut berada dalam perjalanan laut internasional ketika dicegat oleh pasukan AS.
Sementara itu, Iran menolak narasi yang dibangun pihak AS. Ebrahim Zolfaghari menuduh pasukan AS lebih dulu melepaskan tembakan sebelum kapal disita dan menyebut langkah itu sebagai pembajakan maritim.
Potensi eskalasi belum mereda
Saling tuding antara Teheran dan Washington membuat situasi di Teluk Oman tetap terbuka terhadap eskalasi lebih jauh. Klaim penggunaan drone dari pihak Iran, penyitaan kapal oleh AS, hingga tuduhan pelanggaran gencatan senjata menunjukkan bahwa konflik maritim ini belum bergerak menuju mereda.
Ketegangan di kawasan yang menjadi jalur vital kapal dagang, termasuk pengiriman energi, membuat setiap insiden kecil berpotensi berdampak luas. Selama kedua pihak bertahan pada versi masing-masing, Teluk Oman akan terus berada dalam pengawasan ketat karena posisinya yang sangat strategis dalam pelayaran global.
Source: mediaindonesia.com






