Level 7.700 kembali menjadi sorotan saat IHSG bergerak mendekati area tersebut di tengah pasar yang masih dibayangi ketegangan di Selat Hormuz. Pada perdagangan Senin pagi, indeks sempat menyentuh 7.663 sebelum bergerak lebih hati-hati karena investor menimbang risiko geopolitik dan arah pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan.
Tekanan dari luar negeri membuat ruang gerak pasar belum leluasa. Sejumlah sekuritas melihat IHSG masih berada dalam fase uji, dengan batas psikologis 7.700 menjadi area yang sulit ditembus selama ketidakpastian belum mereda.
Pergerakan awal masih ditopang penguatan terbatas
Secara perdagangan, IHSG tercatat naik 29,39 poin atau 0,39 persen. Aktivitas pasar terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 3,68 miliar saham dan nilai transaksi Rp1,49 triliun.
Meski indeks berada di zona hijau, arah saham tidak bergerak seragam. Terdapat 248 saham yang menguat, 290 saham terkoreksi, dan 187 saham stagnan sehingga menunjukkan pasar masih saling tarik antara minat beli dan sikap waspada.
Hormuz jadi sumber kehati-hatian investor
Fokus utama pelaku pasar masih tertuju pada Selat Hormuz yang kembali memicu kekhawatiran. Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai keraguan investor muncul setelah Iran kembali menutup jalur tersebut, padahal sebelumnya sempat dibuka singkat.
Situasi itu mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Dalam pandangan BRI Danareksa, IHSG berpeluang bergerak sempit selama belum mampu melewati 7.700, dengan support di 7.500.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga ikut menambah perhatian pasar. Phintraco Sekuritas mencatat Trump menegaskan blokade Selat Hormuz tetap berlaku sampai tercapai kesepakatan damai secara penuh, sementara Iran kembali menutup jalur maritim strategis itu.
Area 7.700–7.720 masih diuji
Dari sisi proyeksi teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan mencoba menguji area 7.700–7.720. Pergerakan ini sangat dipengaruhi perkembangan konflik dan pembacaan pasar terhadap sentimen global yang masih berubah-ubah.
CGS International Sekuritas Indonesia juga melihat arah perdagangan belum akan stabil. Dalam risetnya, IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dan berpotensi melemah dengan support di 7.570–7.505 serta resistance di 7.700–7.760.
Rentang tersebut menggambarkan pasar yang masih menunggu katalis lebih kuat. Selama ketidakpastian geopolitik belum turun, penguatan indeks berisiko tertahan di area resistance yang sama.
Agenda dalam negeri ikut jadi perhatian
Di tengah tekanan eksternal, investor juga mencermati kebijakan domestik yang dapat memberi penopang tambahan. BRI Danareksa Sekuritas menyoroti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen.
Arah kebijakan moneter tetap penting karena berkaitan dengan inflasi dan stabilitas rupiah terhadap dolar AS. Dalam situasi global yang sensitif, keputusan Bank Indonesia dipandang mampu menjaga kepercayaan investor di pasar saham.
Dukungan global belum cukup kuat
Wall Street memang ditutup menguat, tetapi sentimen positif itu belum sepenuhnya mengimbangi kekhawatiran dari Timur Tengah. CGS International menilai penutupan positif bursa Amerika Serikat memberi dukungan, namun aksi jual investor asing masih berpotensi menahan laju IHSG.
Panin Sekuritas juga menyoroti adanya risiko tambahan dari kenaikan harga minyak dunia dan arus modal keluar. Sekuritas tersebut menyebut pelemahan harga komoditas utama serta tekanan pada rupiah dapat ikut membebani indeks dalam sesi perdagangan hari ini.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik itu, IHSG masih bertahan di area penguatan awal. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan Selat Hormuz, respons investor asing, serta sinyal kebijakan dari Bank Indonesia.







