Sebuah smartwatch Wear OS bekas kini punya peran yang jauh dari fungsi aslinya. Perangkat itu dipasang ke knop persneling mobil dan dipakai untuk menampilkan gigi yang sedang aktif, lalu ditambah kemampuan lain untuk mengontrol Spotify.
Kreasi ini dibuat oleh Desmontei dengan menggabungkan layar dan motherboard TicWatch Pro 3 ke dalam rumah knop persneling hasil cetak 3D. Hasilnya bukan sekadar aksesori unik di tuas transmisi, melainkan perangkat yang benar-benar membaca posisi gear lever dan menampilkan informasinya di layar.
Jam lama yang dipakai ulang dengan fungsi baru
Proyek ini menarik karena memindahkan smartwatch dari pergelangan tangan ke kabin mobil. TicWatch Pro 3 yang semula bisa saja berakhir di laci justru dijadikan pusat komputasi untuk tugas yang sangat spesifik.
Desmontei membuat aplikasi Wear OS khusus agar jam bisa menjalankan algoritma dan perhitungan secara mandiri. Aplikasi itu memanfaatkan data dari akselerometer dan giroskop untuk menentukan posisi tuas transmisi lalu menerjemahkannya menjadi angka gigi di layar.
Sensor jam menjadi penentu posisi tuas
Kekuatan utama proyek ini ada pada pemakaian sensor bawaan jam. Data sudut yang terbaca dari perangkat kemudian diolah agar angka gigi yang tampil sesuai dengan posisi gear lever.
Pada tahap awal, sistem ini belum berjalan mulus. Desmontei mengakui pembacaan sempat keliru saat mobil melaju di jalan menanjak atau menurun karena kemiringan kendaraan ikut memengaruhi hasil sensor.
Setelah itu, algoritmanya disetel ulang supaya gangguan tersebut bisa dikurangi. Bagian ini menunjukkan bahwa tantangan proyek bukan hanya soal membuat casing atau memasang komponen, tetapi juga soal membaca data sensor secara tepat di kondisi berkendara yang berubah-ubah.
Tidak hanya menampilkan gigi, tetapi juga mengontrol musik
Selain menampilkan posisi persneling, perangkat ini juga punya fungsi tambahan yang praktis. Knop tersebut bisa dipakai untuk mengontrol lagu Spotify lewat gestur usap.
Tambahan fitur ini membuat proyek tersebut terasa lebih berguna di dalam mobil. Smartwatch bekas itu berubah menjadi antarmuka kecil yang bisa dipakai untuk mengganti lagu atau menjeda pemutaran, bukan sekadar pajangan di atas tuas.
Masih disiapkan untuk versi berikutnya
Desmontei juga sudah memikirkan pengembangan lanjutan untuk perangkat ini. Berdasarkan tanggapan pada unggahan Reddit miliknya, ia berencana memakai material cetak yang lebih kuat seperti SLS untuk versi berikutnya.
Pilihan material yang lebih kokoh masuk akal karena knop ini akan sering disentuh dan menerima beban mekanis berulang. Ia juga mempertimbangkan penambahan sensor kedua pada mobil untuk menyediakan data referensi agar perhitungan sudut bisa lebih akurat, termasuk saat kendaraan berada di tanjakan.
Jika pengembangan itu diterapkan, sistem akan lebih mudah membedakan kemiringan jalan dan posisi aktual tuas transmisi. Dengan begitu, proyek ini masih terbuka untuk berkembang dari purwarupa unik menjadi perangkat yang lebih siap dipakai harian.
Bagi penggemar modifikasi dan komunitas DIY, proyek ini memperlihatkan bahwa smartwatch lama masih bisa mendapat hidup kedua. Dengan layar, sensor, dan rekayasa perangkat lunak yang tepat, perangkat wearable bekas bisa berubah menjadi bagian fungsional yang tak terduga di dalam mobil.
Source: www.androidauthority.com