EMAS masih menunggu hasil lanjutan dari prospek Kolokoa di Gorontalo, tetapi temuan awal sudah memberi sinyal bahwa area ini bisa menjadi penopang penting bagi Tambang Emas Pani. Dari hasil pengeboran awal, perusahaan menemukan target bijih dengan perkiraan volume 20 juta hingga 40 juta ton dan kadar emas 0,3 g/t sampai 0,5 g/t.
Di sisi lain, zona mineralisasi dekat permukaan di Kolokoa juga menunjukkan hasil yang menarik. Kadar emas di area itu tercatat mencapai 1,57 g/t, dengan tingkat perolehan metalurgi untuk material oksida disebut dapat mencapai 94%.
Lokasi yang berdekatan jadi nilai utama
Keunggulan Kolokoa tidak hanya terletak pada temuan mineralisasinya, tetapi juga pada posisinya yang sangat dekat dengan deposit utama Pani. Jaraknya yang hanya sekitar 500 meter membuat prospek ini dipandang sebagai sumber daya satelit yang berpotensi mendukung pengembangan tambang secara lebih efisien.
Kedekatan itu dinilai memudahkan integrasi operasi dan pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia. Dalam bisnis tambang, lokasi yang berada dekat dengan deposit utama sering dianggap lebih menarik karena dapat mengurangi kerumitan pengembangan dan mempercepat pemanfaatan sumber daya.
Direktur Utama Merdeka Gold Resources, Boyke Poerbaya Abidin, menilai kombinasi antara lokasi Kolokoa yang strategis dan ukuran awal yang menjanjikan dapat mendorong pertumbuhan sumber daya perusahaan. Pandangan itu sejalan dengan fokus EMAS untuk memperkuat basis produksi di sekitar Pani.
Zona dekat permukaan memberi peluang efisiensi
Material oksida di zona dekat permukaan menjadi salah satu poin yang ikut menarik perhatian. Jenis material seperti ini umumnya lebih mudah diolah dibandingkan bijih lain, sehingga berpotensi membantu efisiensi pengolahan jika tingkat perolehan yang tinggi terus terbukti konsisten.
Bagi EMAS, keberadaan zona seperti ini dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan bertahap. Selain memperluas sumber daya, area dekat permukaan juga bisa mendukung kontribusi produksi yang lebih cepat dibandingkan cadangan yang lebih dalam dan lebih kompleks diolah.
Dalam konteks tersebut, Kolokoa tidak hanya diposisikan sebagai temuan tambahan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan di wilayah Pani. Kehadiran prospek satelit di area berdekatan memberi ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan tambang secara lebih terintegrasi.
Target produksi dan rencana jangka panjang
EMAS menargetkan produksi pada 2026 berada di kisaran 100.000 hingga 115.000 ounces emas setelah operasi dimulai sejak Februari lalu. Target itu disampaikan bersamaan dengan upaya optimalisasi fasilitas pengolahan yang sudah tersedia di area tambang.
Untuk jangka panjang, Boyke menyebut produksi tahunan Tambang Emas Pani berpotensi menembus 500.000 ounces jika fasilitas heap leach dan Carbon-in-Leach beroperasi penuh. Proyeksi ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya di sekitar Pani, termasuk Kolokoa, punya peran dalam memperbesar skala operasi perusahaan.
Karena itu, hasil eksplorasi lanjutan menjadi penentu penting. Jika temuan awal di Kolokoa terus didukung oleh pengeboran berikutnya, kontribusinya terhadap pengembangan sumber daya Pani bisa semakin besar.
Pengeboran masih berjalan
Hingga saat ini, EMAS telah menyelesaikan 30 dari total 82 lubang bor yang direncanakan sepanjang 2026 untuk menguji batas area mineralisasi. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap potensi Kolokoa masih berlangsung dan belum berhenti pada data awal.
Perusahaan juga tetap melanjutkan proses pencatatan saham ganda atau dual listing di Bursa Efek Hong Kong. Sekretaris Perusahaan EMAS, Adi Adriansyah Sjoekri, menyampaikan bahwa dokumen Application Proof telah diserahkan pada 20 Maret 2026.
EMAS menegaskan proses itu masih berjalan dan perusahaan harus memenuhi regulasi yang ketat serta menyerahkan dokumen teknis yang diminta otoritas bursa Hong Kong. Pelaporan sumber daya mineral juga ditelaah agar sesuai dengan kaidah JORC dan KCMI, sementara dokumen yang diajukan masih berupa draf dan belum menjadi dasar mutlak bagi keputusan investasi publik.
Dengan posisi Kolokoa yang berdampingan dengan Pani, hasil eksplorasi berikutnya akan terus menjadi perhatian pasar. Jika data tambahan tetap mendukung temuan awal, prospek satelit ini berpeluang ikut membentuk arah produksi EMAS ke depan.







