Kasus tendangan Fadly Alberto kini masuk fase paling krusial karena Komisi Disiplin PSSI diperkirakan akan menilai apakah ada pelanggaran yang layak dijatuhi sanksi. Insiden itu muncul dari laga Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, ketika aksi Fadly setelah pertandingan usai terekam kamera dan cepat menyebar di media sosial.
Di tengah sorotan publik, Bhayangkara FC memilih menunggu keputusan resmi sambil menjalankan evaluasi internal. Situasi ini membuat nasib Fadly, yang akrab disapa Berto, ikut berada di bawah perhatian besar karena kasusnya tidak hanya menyangkut disiplin pemain, tetapi juga citra klub dan pembinaan di level usia muda.
Reaksi keras dari Bhayangkara FC
Respons tegas datang dari Bhayangkara FC Chief Operating Officer sekaligus Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji. Ia menyampaikan kekecewaannya atas tindakan Fadly dan menilai kejadian seperti itu tidak semestinya terjadi, terlebih setelah pertandingan berakhir.
Sumardji menegaskan bahwa pemain seharusnya bisa menutup laga dengan kepala dingin. “Saya sebenarnya sangat, benar-benar saya sangat kecewa ya dengan adanya kejadian itu,” ujarnya.
Manajemen juga telah berkomunikasi langsung dengan Fadly untuk meminta penjelasan lengkap mengenai apa yang terjadi di lapangan. Langkah itu dilakukan agar klub memahami duduk perkara dari sudut pandang pemain sebelum mengambil sikap lanjutan.
Dugaan provokasi dari bangku cadangan lawan
Di balik insiden tersebut, Bhayangkara FC menyebut ada dugaan provokasi verbal dari bench lawan berdasarkan peninjauan video dan informasi yang diterima klub. Menurut Sumardji, Fadly mengaku mendengar teriakan yang disebut bernada menghina dan memancing emosinya.
“Menurut Berto, ada dari bench itu teriakan, ‘Berto hitam, Berto monyet’,” kata Sumardji. Ucapan itu diduga membuat sang pemain bereaksi hingga melakukan tendangan yang kemudian menjadi perhatian luas.
Meski begitu, Bhayangkara FC tetap menegaskan bahwa kekerasan fisik tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun. Dalam sepak bola, terutama di kelompok usia muda, pemain dituntut mampu menahan emosi meski berada dalam situasi yang memanas.
PSSI menunggu penilaian Komdis
Kasus ini sekarang berada di tangan Komisi Disiplin PSSI untuk menentukan ada atau tidaknya pelanggaran yang perlu diberi hukuman. Bentuk sanksi untuk Fadly belum diumumkan, dan pihak klub masih menanti keputusan resmi tersebut.
Sanksi yang mungkin dijatuhkan bisa berupa larangan bermain, denda, atau bentuk hukuman lain sesuai penilaian komdis. Karena itu, masa depan Fadly pada pertandingan berikutnya ikut menjadi perhatian internal klub dan publik sepak bola.
Sorotan terhadap kasus ini juga memperlihatkan bahwa satu insiden di lapangan bisa berdampak lebih luas dari sekadar pelanggaran sesaat. Perilaku pemain muda menjadi bagian penting dari pembinaan, karena menyangkut kedisiplinan, pengendalian diri, dan reputasi klub dalam jangka panjang.
Tuduhan bernuansa rasis ikut menambah sensitif
Ucapan yang diduga keluar dari bangku cadangan lawan membuat kasus ini semakin sensitif. Jika benar terjadi, kalimat seperti “Berto hitam, Berto monyet” tidak hanya berkaitan dengan provokasi pertandingan, tetapi juga menyinggung soal penghormatan antarpemain.
Di sisi lain, fokus utama tetap mengarah pada tindakan balasan yang berbentuk pelanggaran fisik. Karena aksi itu sudah terekam dan tersebar luas, penilaian disiplin dari PSSI menjadi penentu yang paling ditunggu untuk melihat bagaimana kasus Fadly Alberto akan ditangani.
Bhayangkara FC kini berada dalam posisi menunggu sambil melakukan evaluasi internal atas insiden tersebut. Sementara itu, keputusan Komdis PSSI akan menjadi kunci yang menentukan langkah berikutnya bagi Fadly setelah tendangan kungfu di Semarang itu menjadi sorotan nasional.







