Nasib Fadly Alberto Hengga kini berada di tangan Komite Disiplin PSSI setelah aksinya dalam kericuhan laga Elite Pro Academy U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, menjadi perhatian luas. Video yang memperlihatkan situasi panas di area lapangan dan bangku cadangan membuat insiden ini cepat menyebar di media sosial dan memunculkan sorotan terhadap kemungkinan sanksi yang menanti.
Komdis PSSI disebut akan menilai kejadian itu secara menyeluruh, bukan hanya dari satu potongan rekaman. Proses pemeriksaan juga akan mencakup pemain, ofisial, perangkat pertandingan, serta pihak lain yang berada di lokasi saat insiden terjadi.
Kericuhan muncul setelah laga berakhir
Pertandingan tersebut dimenangi Dewa United dengan skor 2-1. Dua gol kemenangan Dewa United dicetak Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sedangkan Bhayangkara FC membalas melalui Aqilah Lussnah.
Namun hasil pertandingan tak menjadi fokus utama karena suasana langsung memanas sesaat setelah peluit akhir berbunyi. Keributan kemudian terjadi di pinggir lapangan dan melibatkan banyak orang yang berusaha masuk untuk melerai.
Manajer Bhayangkara FC, Yongky Pandu Pamungkas, menjelaskan bahwa ketegangan bermula dari pelanggaran yang dilakukan pemain Dewa United terhadap pemain Bhayangkara FC. Ia menyebut situasi semakin tak terkendali setelah ada tendangan dari tengah lapangan yang memicu perkelahian meluas.
“Dari situlah terjadi perkelahian, banyak pemain, banyak ofisial kita datang untuk melerai,” ujar Yongky di Semarang, Senin (20/4).
Dalam keributan itu, pelatih kiper Bhayangkara FC juga disebut sempat terkena pukulan dari belakang saat berupaya memisahkan pihak-pihak yang terlibat. Kondisi tersebut membuat suasana pertandingan berubah total dari duel di lapangan menjadi adu emosi di area tepi lapangan.
Aksi Fadly terekam jelas dalam video
Di tengah kekacauan itu, Fadly terlihat menendang ke arah pemain yang berada di bangku cadangan Dewa United. Aksi tersebut menjadi sorotan utama karena terekam jelas dan kemudian ramai diperbincangkan publik.
Peristiwa itu membuat nama Fadly langsung berada dalam pusat perhatian. Statusnya sebagai pemain muda tidak membuat insiden tersebut dipandang ringan, karena yang menjadi penilaian utama adalah tindakan yang dilakukan saat keributan berlangsung.
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Kairul Anwar, menegaskan bahwa keputusan disiplin akan mengacu pada Kode Disiplin PSSI 2025. Ia menyebut Komdis tidak akan memberi perlakuan khusus berdasarkan nama besar atau reputasi pemain.
“Komdis pasti akan merunut pada Kode Disiplin PSSI 2025. Ofisial, perangkat pertandingan, dan pemain akan didalami sebagai bagian dari kejadian ini. Yang jelas, Komdis tidak akan melihat siapa pemain ini, tapi siapa yang melakukan, pasti akan disanksi tegas,” kata Kairul.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pemeriksaan tidak berhenti pada satu individu saja. Seluruh rangkaian kejadian di sekitar lapangan akan ditelusuri agar Komdis bisa memahami siapa melakukan apa dalam suasana yang kacau tersebut.
Dugaan emosi dipicu perlakuan rasis
Dari pihak Bhayangkara FC, muncul penjelasan bahwa Fadly, yang akrab disapa Beto, mengaku emosinya tersulut karena merasa mendapat perlakuan rasis dari pihak lawan. Pengakuan itu disebut menjadi salah satu alasan yang membuat reaksinya lalu berubah menjadi tindakan fisik.
“Karena dia merasa ada perlakuan rasis terhadap dia. Sehingga dia merasa emosi dan meluapkan emosinya itu ke salah satu pemain yang berada di video viral itu,” ujar Yongky.
Meski begitu, alasan tersebut tetap tidak otomatis mengubah arah pemeriksaan. Dalam penanganan disiplin pertandingan, seluruh pemicu, respons, dan tindakan yang muncul di lapangan tetap harus dipisahkan satu per satu sebelum keputusan diambil.
Pendekatan itu penting agar penilaian tidak hanya bertumpu pada cuplikan video yang beredar, melainkan pada gambaran utuh dari insiden yang terjadi di Semarang. Karena itu, Komdis PSSI masih menjadi pihak yang paling menentukan apakah kericuhan ini berujung pada sanksi ringan atau hukuman berat bagi pihak yang terbukti terlibat.
Ancaman hukuman berat menanti
Kairul Anwar bahkan menyebut bahwa tindakan dalam kejadian seperti ini dapat berujung pada larangan bermain dalam jangka waktu panjang. Ia mengatakan kemungkinan itu bisa mencapai satu tahun lebih, meski keputusan akhirnya tetap berada di tangan badan yudisial.
“Itu ranah badan yudisial, tapi kalau melihat kejadian itu berpotensi larangan bermain dalam jangka waktu tertentu, bisa 1 tahun lebih. Tapi semua kembali ke Komdis,” ujarnya.
Pernyataan tersebut membuat kasus Fadly Alberto tidak hanya menjadi persoalan emosi sesaat di lapangan. Di level yang lebih besar, insiden ini juga menjadi ujian bagi penegakan disiplin di kompetisi usia muda, terutama saat tindakan fisik terekam jelas dan dinilai memiliki konsekuensi serius bagi karier pemain yang terlibat.







