Konsolidasi 6 Bulan Gus Yusuf di PBNU, Isyarat Serius dari Belasan PWNU dan 200 PCNU

Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, mulai diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU setelah melakukan konsolidasi intensif selama sekitar enam bulan ke berbagai pengurus wilayah dan cabang.

Jangkauan silaturahmi itu disebut telah menyentuh belasan PWNU dan sekitar 200 PCNU. Gus Yusuf mengaku perjalanan tersebut sudah meliputi hampir 10 provinsi, dengan Jawa telah selesai dikunjungi dan langkah berikutnya menjangkau sejumlah daerah di luar Jawa.

Penugasan para kiai senior

Gus Yusuf menegaskan, rangkaian kunjungan itu bukan sekadar penjajakan dukungan untuk kontestasi internal Nahdlatul Ulama. Ia menyebut agenda tersebut dijalankan sebagai amanat para masyayikh dan kiai senior untuk ikut menata kembali PBNU.

“Tujuannya adalah untuk silaturahim. Saya menjalankan tugas dari para masyayikh, para kiai-kiai, untuk ikut bersama-sama kembali menata PBNU,” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan pengurus di daerah, ia melihat sejumlah hambatan dalam roda organisasi, terutama di luar Jawa. Menurut dia, masalah itu tidak hanya terjadi pada struktur PCNU dan PWNU, tetapi juga berdampak pada jalannya program kerja di banyak daerah.

“Tidak hanya struktur PCNU, PWNU di daerah-daerah ini programnya macet. Banyak yang bahkan terkendala SK-nya tidak berjalan, ini di struktur. Di kultu dampaknya juga luar biasa, karena hari ini bahkan pesantren-pesantren pun juga apapun terkena dampaknya,” kata Gus Yusuf.

Tiga isu utama dari lapangan

Dari ratusan pengurus yang ditemuinya, Gus Yusuf menyimpulkan ada tiga tuntutan utama yang paling sering muncul. Pertama, pembenahan tata kelola agar lebih transparan dan tidak tersendat di tingkat struktur.

Kedua, perhatian PBNU terhadap pendidikan dan pesantren. Ia menilai pesantren tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri di tengah era transformasi dan perlu didampingi bersama.

Ketiga, aspirasi mengenai layanan kesehatan dan ekonomi umat. Gus Yusuf berharap PBNU bisa mendorong fasilitas medis di daerah, termasuk rumah sakit NU di setiap provinsi atau klinik di kabupaten-kabupaten.

“Yang kedua adalah soal perhatian PBNU terhadap pesantren, terhadap pendidikan. Karena di era transformasi ini pesantren tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri, harus kita dampingi bersama-sama,” katanya.

“Yang ketiga tentu soal ekonomi. Hari ini masyarakat NU sebagaimana masyarakat yang lainnya sedang menghadapi tekanan ekonomi yang luar biasa. Maka berharap PBNU dalam hal ini bisa memberikan pendampingan gerakan-gerakan ekonomi keumatan, UMKM, dan juga tentang inkubator ekonomi di masyarakat,” lanjutnya.

Marwah pesantren dan perhatian pada isu publik

Gus Yusuf juga menyoroti menurunnya animo masyarakat terhadap pesantren. Kondisi itu, menurut dia, menjadi keprihatinan para kiai pengasuh pesantren dan membuat pemulihan marwah NU serta pesantren menjadi agenda penting bila kelak dipercaya memimpin PBNU.

Ia menambahkan, NU perlu kembali aktif dalam isu-isu sosial yang lebih luas, termasuk lingkungan hidup dan demokrasi. Menurut dia, kalangan muda NU berharap organisasi itu kembali menjadi kekuatan masyarakat sipil yang hadir mendampingi dinamika sosial politik.

“Isu lingkungan, demokrasi, ini banyak teman-teman muda yang mengharapkan NU kembali menjadi kekuatan civil society untuk bisa membersamai masyarakat terutama dalam dinamika-dinamika sosial politik,” pungkasnya.

Source: www.mediakompeten.co.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer