Konsumsi BBM F1ZR Full Clutch Lebih Hemat, Satria Lumba-Lumba Tetap Unggul Di Tenaga

Di antara dua motor 2-tak lawas yang sama-sama punya basis penggemar kuat, Yamaha F1ZR Full Clutch justru lebih menonjol saat pembahasan bergeser ke konsumsi bensin. Sentra Otopart menempatkan F1ZR sebagai model yang lebih irit dibanding Suzuki Satria 120R alias Satria lumba-lumba, meski keduanya sama-sama dikenal lincah dan stabil di jalan.

Perbedaan itu membuat duel keduanya tidak berhenti di urusan tenaga atau tampilan kaki-kaki. Saat rasa berkendara terlihat mirip di permukaan, efisiensi bahan bakar menjadi pembeda yang paling tegas di antara dua bebek sport 2-tak ini.

Karakter berkendara yang sama-sama sigap

Yamaha F1ZR dikenal punya handling lincah dan stabil. Salah satu penyebabnya adalah rangka yang ringan, sehingga motor ini terasa agresif saat diajak bermanuver.

Suzuki Satria 120R juga mendapat reputasi serupa. Motor ini sama-sama sigap dan stabil, sehingga dasar karakter keduanya memang kuat untuk kelas bebek sport 2-tak.

Meski begitu, nuansa berkendaranya tidak identik. Suspensi Satria 120R disebut sedikit lebih empuk dibanding F1ZR, sehingga bagian belakang motor ini terasa lebih nyaman.

Bagi yang menyukai karakter lebih rigid dan langsung, F1ZR punya daya tarik tersendiri. Sementara itu, Satria 120R memberi sensasi yang sedikit lebih lembut tanpa kehilangan kelincahannya.

Fitur dasar yang membuat keduanya berbeda arah

Dari sisi perlengkapan, Yamaha F1ZR Full Clutch tampil lebih sederhana. Motor ini memakai rem cakram di depan, rem tromol di belakang, serta suspensi depan teleskopik dan suspensi belakang ganda.

Suzuki Satria 120R membawa konfigurasi yang berbeda. Motor ini sudah memakai rem cakram di depan dan belakang, lalu dipadukan dengan suspensi depan teleskopik dan monoshock di belakang.

Perbedaan tersebut membuat keduanya tidak terasa sama saat dipakai. F1ZR cenderung simpel, sedangkan Satria 120R memberi nilai tambah pada pengereman belakang dan susunan suspensi belakang.

Mesin dan transmisi ikut menentukan karakter

Di sektor mesin, Yamaha F1ZR Full Clutch mengandalkan mesin 110cc berpendingin udara dengan kopling manual 4 kecepatan. Suzuki Satria 120R memakai mesin 120cc berpendingin udara dengan kopling manual 6 kecepatan.

Data dasar itu langsung menunjukkan arah yang berbeda. F1ZR membawa kubikasi lebih kecil, sedangkan Satria 120R hadir dengan kapasitas lebih besar dan jumlah percepatan yang lebih banyak.

Dari perbedaan itu, pembahasan soal BBM menjadi masuk akal. Sentra Otopart menyebut Satria 120R lebih boros dibanding F1ZR, sehingga Yamaha F1ZR Full Clutch unggul dalam efisiensi bahan bakar.

Kenapa F1ZR masih dicari

Di luar perbandingan dengan Satria lumba-lumba, F1ZR tetap punya posisi khusus di mata kolektor. Host akun @garasi.rodadua menyebut motor ini diburu bukan semata karena langka.

Yamaha F1ZR pertama kali diluncurkan pada akhir 90-an sebagai evolusi dari Yamaha Force One dan Yamaha F1Z. Motor ini dirancang sebagai bebek sport 2-tak berperforma tinggi untuk anak muda yang mencari kecepatan dan gaya agresif dalam motor harian.

Mesin 2-tak 110cc miliknya dikenal responsif, ringan, dan mudah dimodifikasi. Karakter itu membuat F1ZR populer di kalangan penggemar balap liar dan road race.

Menurut @garasi.rodadua, Yamaha Indonesia melihat peluang besar di segmen anak muda yang menginginkan motor praktis tetapi tetap memberi rasa berkendara yang menggugah. Pada masa itu, pasar banyak dipenuhi motor 4-tak yang efisien, namun kurang memancing adrenalin.

Jejak balap yang ikut membentuk nama besar F1ZR

@garasi.rodadua juga menyebut ada inspirasi dari setelan motor balap dua tak GP125 yang diturunkan ke versi jalan raya. Beberapa teknisi lokal Yamaha disebut ikut memberi ide soal porting silinder dan bentuk knalpot agar performanya lebih menonjol.

Varian tahun-tahun awal F1ZR bahkan disebut punya tenaga lebih buas dibanding produksi akhir. Alasannya, setelan pabrikan pada masa itu masih lebih lepas sebelum aturan emisi diperketat.

Karena itu, nama F1ZR tidak hanya kuat karena usia dan statusnya sebagai motor lawas. Karakternya yang responsif, bobot yang ringan, serta efisiensi yang lebih baik dibanding Satria 120R membuat motor ini tetap menonjol di tengah perbincangan motor 2-tak klasik.

Berita Terkait