Konten Belanja Menggerakkan Rp 96,7 Triliun Transaksi E-Commerce, Penonton Beralih Jadi Pembeli

Nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai Rp 96,7 triliun pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa pembelian digital kini tidak lagi ditentukan oleh promosi semata, melainkan juga oleh cara konten membentuk minat dan mengarahkan konsumen ke transaksi.

Pola belanja tersebut terlihat semakin kuat saat Ramadan 2026, ketika kampanye pemasaran dan belanja berbasis konten ikut mendorong lonjakan transaksi. Data Kementerian Perdagangan yang dikutip Money memperlihatkan bahwa media sosial dan lokapasar sekarang bergerak lebih dekat dalam alur belanja yang dialami konsumen.

Konten kini menjadi titik awal pembelian

Cara orang menemukan produk telah berubah cukup jauh. Video pendek, siaran langsung, dan promosi tematik sekarang sering menjadi pintu masuk sebelum keputusan belanja diambil.

Format seperti itu tidak hanya memancing perhatian, tetapi juga mempersingkat perjalanan konsumen dari melihat produk sampai menekan tombol beli. Dalam situasi ini, pencarian barang di ranah digital menjadi lebih singkat dan lebih mudah diarahkan ke transaksi.

Executive Director Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, menilai sinergi ekosistem membantu pelaku usaha mengubah pencarian konten menjadi transaksi. Ia juga menyebut komunitas pengguna dan wawasan pasar memberi peluang lebih besar bagi merek untuk menjangkau konsumen yang tepat.

Promosi dan rasa aman sama-sama berperan

Kenaikan transaksi juga didorong oleh kampanye promosi yang berlangsung pada periode ramai belanja. Namun, dorongan harga saja tidak cukup karena pembeli kini ikut menilai kanal resmi produk dan fitur yang menjamin keaslian barang.

Konsumen di e-commerce tidak hanya mencari barang dengan harga menarik. Mereka juga mempertimbangkan rasa aman, kepastian kualitas, dan kenyamanan saat berbelanja sebagai bagian dari keputusan akhir.

Stephanie menekankan bahwa integrasi semacam itu membantu mitra penjual membangun pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan. Di pasar yang bergerak cepat, pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi dengan perilaku pengguna yang juga berubah dinamis.

Kategori kebutuhan rumah tangga ikut bergerak

Dampak belanja berbasis konten tidak berhenti pada produk gaya hidup. Momentum Ramadan 2026 juga terlihat jelas pada sektor elektronik rumah tangga, termasuk televisi dan kulkas.

TCL Indonesia mencatat jumlah pesanan naik 175 persen, sementara nilai transaksi untuk televisi dan kulkas meningkat 212 persen. Data itu menunjukkan bahwa produk yang bersifat fungsional tetap memiliki daya tarik tinggi ketika dipadukan dengan promosi yang tepat.

Kombinasi kebutuhan harian dan kampanye digital membuat permintaan bergerak lebih cepat. Pada saat yang sama, hasil tersebut menegaskan bahwa konten belanja dapat bekerja efektif di kategori yang dekat dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Strategi merek makin ditentukan oleh ekosistem digital

Sejumlah merek juga memanfaatkan pendekatan yang lebih terintegrasi untuk mendorong penjualan. vivo Indonesia mencatat kenaikan penjualan sebesar 259 persen dengan mengandalkan peluncuran produk baru, penguatan kapasitas gudang di sejumlah kota besar, dan fitur siaran langsung.

Head of E-Commerce vivo Indonesia, Kevin Aditya Riyanto, menyebut Seller Center terpadu, LIVE streaming, dan kampanye yang relevan memberi dampak nyata pada visibilitas serta transaksi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa operasional dan konten perlu berjalan bersamaan agar hasil penjualan lebih kuat.

Simplus juga memakai strategi berbasis data untuk mendorong penjualan produk penjernih udara dan dehumidifier. Jack, CEO Simplus, mengatakan pusat penjual terintegrasi memudahkan riset pasar dan pemilihan program yang efektif.

Ia juga menyoroti fitur pembuatan video di TikTok yang membantu promosi melalui konten singkat. Format seperti ini dinilai lebih mudah menjangkau audiens dan lebih cepat membangun perhatian di tengah arus informasi yang padat.

Pada akhirnya, data transaksi Rp 96,7 triliun pada Februari 2026 menegaskan bahwa e-commerce nasional semakin bergantung pada kemampuan platform menghubungkan konten, komunitas, dan penjualan. Dalam pola belanja seperti ini, konten bukan lagi sekadar alat promosi, melainkan bagian penting dari pengalaman belanja yang langsung mengarah ke transaksi.

Berita Terkait