Korea Selatan menutup final Piala Uber dengan cara yang meyakinkan saat menundukkan China 3-1. Kemenangan itu sekaligus mengukuhkan dominasi mereka di sektor putri setelah kembali mengangkat trofi dari tangan tim unggulan.
Laga puncak di Forum Horsens, Denmark, memperlihatkan betapa ketatnya persaingan dua raksasa bulu tangkis tersebut. Korea Selatan dan China sama-sama tidak mendapat kemenangan mudah, karena setiap partai final berlangsung dengan tekanan tinggi dan sempat membuka peluang bagi lawan untuk membalikkan keadaan.
An Se-young memberi Korea awal yang ideal melalui kemenangan 21-10, 21-13 atas Wang Zhi Yi. Hasil itu membuat Korea langsung berada di posisi aman dan mengurangi beban pada partai-partai berikutnya.
China sempat menjaga harapan lewat sektor ganda putri. Liu Sheng Shu dan Tan Ning mengalahkan Jeong Na-eun dan Lee So-hee 21-16, 21-12 untuk menyamakan tensi pertandingan dan menunda pesta lawan.
Namun, momentum kembali berpindah ke Korea melalui Kim Ga-eun. Ia tampil efektif saat menundukkan Chen Yu Fei 21-19, 21-15 dan membawa Korea unggul 2-1 sebelum partai ganda kedua dimainkan.
Keputusan Korea menurunkan Baek Ha-na dan Kim Hye-jeong di laga penentu terbukti tepat. Setelah kalah pada gim pertama, keduanya bangkit dan menekan Jia Yi Fan serta Zhang Shu Xian hingga menang 16-21, 21-10, 21-13 untuk memastikan gelar.
Trofi ini menjadi gelar ketiga Korea Selatan di Piala Uber setelah 2010 dan 2022. Koleksi itu kini menyamai Indonesia dan Amerika Serikat, sementara China masih tercatat sebagai negara tersukses dengan 16 gelar.
Kemenangan atas China juga menjadi balasan bagi Korea Selatan setelah kegagalan mereka pada 2024. Tim putri Negeri Ginseng sebelumnya menyingkirkan Indonesia di semifinal sebelum menutup turnamen dengan performa yang kembali menegaskan kedalaman skuad mereka, terutama lewat konsistensi An Se-young.
Di sisi lain, China tetap meninggalkan turnamen dengan catatan yang tidak sepenuhnya buruk. Mereka masih memegang rekor sebagai tim tersukses di Piala Uber, tetapi hasil final ini menunjukkan bahwa jarak dengan para pesaing utama kini semakin menipis.
Sementara itu, kabar dari final Piala Thomas datang dengan warna berbeda bagi China. Tim putra mereka berhasil mempertahankan gelar setelah menaklukkan Prancis dalam laga yang juga berlangsung ketat dan menguras tenaga.
Shi Yu Qi membuka jalan bagi China, tetapi ia harus bekerja keras selama hampir 1,5 jam untuk mengatasi Christo Popov 21-16, 16-21, 21-17. Prancis lalu membalas melalui Alex Lanier yang tampil solid saat mengalahkan Li Shi Feng 21-13, 21-10 dan menyamakan kedudukan.
China kembali unggul lewat Weng Hong Yang yang menaklukkan Toma Junior Popov 22-20, 20-22, 21-19 dalam duel 96 menit. Setelah itu, He Ji Ting dan Ren Xiang Yu memastikan gelar dengan kemenangan 21-13, 21-16 atas Eloi Adam dan Leo Rossi.
Hasil tersebut menjadi gelar ke-12 Piala Thomas untuk China dan membuat jarak mereka dengan Indonesia semakin rapat, meski Indonesia masih unggul dengan 14 trofi. Bagi China, kemenangan ini juga menjadi pelipur lara setelah tim putri mereka gagal membawa pulang Piala Uber.
Source: www.beritasatu.com