All Will Fall hadir di Steam dengan pendekatan yang jauh berbeda dari kebanyakan game pembangunan kota. Game garapan All Parts Connected dan diterbitkan tinyBuild ini menempatkan pemain di atas kota vertikal yang berdiri di tengah dunia pasca-apokaliptik, ketika seluruh permukaan sudah tertutup laut.
Di dalam game ini, satu penempatan bangunan yang keliru bisa menjadi awal dari bencana besar. Kota yang dibangun tidak hanya harus berkembang, tetapi juga harus tetap seimbang agar tidak ambruk ke laut karena beban yang salah dihitung.
Kota vertikal yang bergantung pada fisika
All Will Fall tidak meminta pemain membangun di daratan luas seperti city builder pada umumnya. Sebaliknya, seluruh aktivitas berlangsung di struktur tinggi yang harus menahan beban dari berbagai bangunan, material, dan kebutuhan warga.
Simulasi fisika 3D menjadi inti dari pengalaman bermain. Setiap elemen bangunan membawa pengaruh terhadap kestabilan kota, sehingga kualitas material dan distribusi bobot tidak bisa diabaikan begitu saja.
Karena itu, bangunan besar tidak bisa diletakkan sembarangan di bagian atas. Jika penyangga terlalu lemah, seluruh struktur bisa ikut goyah dan berujung runtuh ke laut.
Mengelola tiga faksi dengan kebutuhan berbeda
Selain menjaga bangunan tetap berdiri, pemain juga harus mengatur tiga faksi utama yang menjadi tulang punggung kota. Tiga kelompok itu adalah Workers, Sailors, dan Engineers, dengan fungsi yang saling melengkapi satu sama lain.
Workers bertugas membangun, Sailors mengarungi air untuk mencari material, sedangkan Engineers mengoperasikan alat berat seperti derek. Koordinasi ketiganya menentukan apakah kota dapat terus tumbuh atau justru tersendat karena kekurangan tenaga dan sumber daya.
Setiap faksi juga membawa kebutuhan sendiri. Makanan, tempat tinggal, air bersih, dan hiburan harus dipenuhi dengan cermat agar ketegangan sosial tidak muncul di dalam komunitas yang rapuh itu.
Air laut yang berubah dan membuka peluang sementara
Tantangan di All Will Fall tidak hanya datang dari struktur kota, tetapi juga dari kondisi laut yang dinamis. Saat air surut, pemain mendapat kesempatan untuk melihat pulau dasar laut atau reruntuhan teknologi lama yang sebelumnya tersembunyi.
Momen seperti ini penting untuk mengirim ekspedisi dan mengumpulkan material baru. Namun, waktu yang tersedia tidak banyak karena akses ke area tersebut bisa kembali tertutup ketika air naik.
Situasi ini membuat pemain harus bergerak cepat dan membaca keadaan. Kesempatan untuk memperluas sumber daya selalu datang bersama risiko kehilangan jalur akses dalam waktu singkat.
Tekanan dari kejadian acak dan pilihan moral
Game ini juga menghadirkan kejadian acak yang dapat mengubah keadaan kota secara mendadak. Dalam satu situasi, kota bisa kekurangan air bersih, lalu di saat yang sama kapal pengungsi datang ke dermaga dan meminta perlindungan.
Pilihan untuk menerima atau menolak pengungsi membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar perhitungan sumber daya. Keputusan seperti itu ikut memengaruhi stabilitas kota dan arah perkembangan permainan.
Pendekatan ini membuat unsur survival terasa lebih berat. Pemain tidak hanya diminta bertahan, tetapi juga harus menentukan prioritas ketika banyak masalah muncul secara bersamaan.
Ruang bermain yang lebih bebas lewat Sandbox Mode
Bagi pemain yang ingin mencoba berbagai rancangan tanpa tekanan campaign, All Will Fall menyediakan Sandbox Mode. Mode ini memberi ruang lebih longgar untuk bereksperimen dengan susunan kota tanpa rasa takut pada kegagalan yang terlalu menghukum.
Selain itu, game ini mendukung Steam Workshop. Dukungan tersebut membuka peluang bagi komunitas untuk menambah variasi konten dan memperluas cara bermain.
Dengan kombinasi simulasi fisika yang ketat, pengelolaan faksi yang saling bergantung, serta ancaman dari laut dan situasi sosial yang terus berubah, All Will Fall menawarkan pengalaman survival city builder yang memiliki identitas kuat. Di dunia yang sudah tenggelam, setiap keputusan kecil bisa menentukan apakah kota vertikal itu tetap berdiri atau ikut jatuh ke dasar laut.
