Portofolio pembiayaan BRI pada kuartal I 2026 didominasi oleh kredit UMKM yang mencapai Rp1.211 triliun. Angka itu menjadi penanda bahwa bank pelat merah tersebut masih menempatkan usaha kecil sebagai pusat mesin pertumbuhan bisnisnya.
Di saat ketidakpastian ekonomi global masih membayangi, struktur pembiayaan BRI justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Total kredit dan pembiayaan yang disalurkan perseroan mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7 persen secara tahunan, dengan porsi terbesar tetap berada di segmen UMKM.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa UMKM masih menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan perusahaan. Ia menilai arah itu selaras dengan upaya memperkuat struktur ekonomi nasional melalui sektor riil yang tersebar luas.
Menurut Hery, penyaluran kredit UMKM bukan semata-mata soal besarnya nilai pembiayaan. Dana tersebut ikut mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, dan membuka lapangan kerja di berbagai daerah.
KUR dan sektor produktif tetap jadi fokus
Selain kredit komersial, BRI juga terus mengalirkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR ke pelaku usaha kecil. Selama Januari hingga Maret 2026, realisasi KUR mencapai Rp47,09 triliun dan disalurkan kepada 947 ribu nasabah.
Dari pembiayaan itu, sektor pertanian menjadi penerima terbesar. Porsinya mencapai 42,16 persen atau setara Rp19,86 triliun, yang menunjukkan kuatnya dukungan BRI terhadap aktivitas produktif di daerah.
Jangkauan pemberdayaan makin luas
BRI tidak hanya mengandalkan penyaluran kredit untuk memperkuat basis ekonomi rakyat. Perseroan juga memperluas pemberdayaan lewat program berbasis komunitas dan platform digital yang menjangkau jutaan pelaku usaha.
Program Desa BRILian telah hadir di 5.245 desa. Sementara itu, KlasterkuHidupku membentuk 43 ribu klaster usaha sebagai wadah penguatan pelaku usaha di berbagai wilayah.
Di sisi digital, platform LinkUMKM telah digunakan lebih dari 15,5 juta pelaku usaha. Platform ini berperan sebagai ekosistem pemasaran sekaligus layanan keuangan bagi usaha kecil.
Aset dan laba ikut bergerak naik
Kinerja intermediasi BRI pada kuartal I 2026 juga tercermin dari kenaikan aset konsolidasian. Nilainya mencapai Rp2.250 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi profitabilitas, BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun. Capaian itu mendorong Return on Equity naik menjadi 18,4 persen dari 17,1 persen pada periode sebelumnya.
Struktur portofolio yang tersebar pada jutaan debitur dengan plafon pinjaman kecil menjadi salah satu penopang stabilitas bisnis BRI. Model ini memberi diversifikasi risiko yang lebih baik dan membuat kinerja perseroan lebih tahan menghadapi tekanan ekonomi global.
Dengan pertumbuhan kredit, kenaikan aset, dan laba yang bergerak searah, kuartal I 2026 memperlihatkan arah bisnis BRI yang tetap bertumpu pada ekonomi kerakyatan. Porsi UMKM sebesar Rp1.211 triliun menjadi bukti bahwa pembiayaan usaha kecil masih menjadi inti strategi perusahaan.
