Dua siswa SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) Bogor, Nadhim Muhammad Sulthan Shabir dan Valkean Ikram Permana, meraih medali perak di Genius Olympiad 2026 di Houston, Amerika Serikat. Penghargaan itu diraih lewat pengembangan sel surya ramah lingkungan yang memanfaatkan kulit apel dan tempurung kelapa hitam.
Prestasi tersebut menonjol karena bahan utama riset berasal dari limbah domestik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Proyek itu menunjukkan bahan sisa dapat dikembangkan menjadi bagian dari solusi energi melalui penelitian ilmiah.
Tim Nadhim dan Valkean berlaga dalam kategori Resources and Energy. Mereka mengembangkan Dye-Sensitized Solar Cell atau DSSC dengan memadukan material dari tempurung kelapa hitam serta pigmen antosianin dari kulit apel.
| Tim | Riset | Hasil |
|---|---|---|
| Nadhim Muhammad Sulthan Shabir dan Valkean Ikram Permana | DSSC dari tempurung kelapa hitam dan pigmen kulit apel | Perak, Resources and Energy |
| Emir Maulana Musthofa dan Arvin Rayyan Ihsani | Bioremediasi limbah cair rumah potong ayam | Finalis, Ecology and Biodiversity |
Riset peraih perak itu berjudul “Eco-friendly Solar Cell Fabrication Based on Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) from Black Coconut Shell and Anthocyanin Pigment from Apple Peel”. Tempurung kelapa hitam digunakan sebagai material alternatif, sementara pigmen antosianin kulit apel menjadi bagian dari inovasi sel surya tersebut.
CRIBS juga mengirim tim lain yang berhasil mencapai babak final. Emir Maulana Musthofa dan Arvin Rayyan Ihsani meneliti pemanfaatan Chlorella sp. serta Bacillus subtilis untuk menangani limbah cair rumah potong ayam.
Penelitian Emir dan Arvin berjudul “Integration of Chlorella sp. Bacillus subtilis as a Bioremediation Technology for Chicken Slaughterhouse Liquid Waste”. Pendekatan ini menawarkan teknologi bioremediasi yang lebih ramah lingkungan melalui integrasi mikroalga dan bakteri.
Penjurian dan Persiapan Presentasi
Genius Olympiad berlangsung pada 8-12 Juni 2026 dan mempertemukan pelajar SMA dari berbagai negara. Kompetisi yang didirikan Terra Science and Education serta diselenggarakan St. John Fisher University itu berfokus pada keberlanjutan lingkungan, inovasi, dan tantangan global.
Menurut Kompas.com, ajang ini mencakup delapan bidang keilmuan. Setiap proyek lebih dahulu dinilai oleh tiga hingga enam penelaah sebelum memasuki final yang melibatkan empat hingga 10 juri internasional.
Penilaian mencakup ketelitian ilmiah, metodologi, kualitas presentasi, serta kemampuan peserta menjawab pertanyaan. Sistem normalisasi skor diterapkan untuk menjaga keadilan penilaian di tengah karakteristik juri yang berbeda.
Nadhim menyebut latihan presentasi menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan timnya. “Kami berlatih berkali-kali sebelum sesi penjurian. Kami membagi setiap bagian presentasi, memprediksi berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan juri, lalu berlatih menjawabnya,” ungkapnya.
Valkean mengatakan latihan tersebut membantu mereka menjawab pertanyaan dengan lebih tenang. Keduanya sempat gugup karena baru pertama kali mengikuti kompetisi internasional di luar negeri, tetapi sikap komunikatif para juri membuat pemaparan riset lebih lancar.
Emir dan Arvin juga merasakan ketegangan pada awal sesi penjurian. Kepercayaan diri mereka meningkat setelah mampu menjelaskan penelitian dan menjawab pertanyaan juri menggunakan argumentasi ilmiah.
Pembinaan Riset di Sekolah
Direktur Pendidikan CRIBS Ari Rosandi menilai capaian itu memperlihatkan kemampuan pelajar Indonesia bersaing melalui riset yang berkaitan dengan persoalan global. Menurutnya, nilai utama prestasi tersebut bukan hanya medali, melainkan kemampuan siswa berpikir kritis, melakukan penelitian, dan mempertahankan hasilnya di hadapan juri internasional.
Kepala SMA Sandra Susanto menyebut penghargaan di Houston sebagai awal perjalanan bagi ilmuwan muda. Sekolah berharap empat siswa tersebut terus berkarya dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa maupun dunia.
CRIBS membangun pembinaan riset melalui pembelajaran berbasis proyek, penguatan literasi sains, serta pembinaan olimpiade dan riset berkelanjutan. Sebagai Sekolah Garuda Transformasi, sekolah ini mendorong siswa memiliki daya saing global, kemampuan berpikir kritis, dan karakter kuat untuk menghadapi tantangan abad ke-21.







