Obligasi menarik karena memberi aliran kupon yang teratur, sehingga investor bisa memperoleh pendapatan pasif tanpa harus terus mengikuti naik-turun harga harian seperti pada saham. Di saat banyak orang mencari instrumen yang lebih stabil, obligasi sering dipilih karena menawarkan kombinasi imbal hasil berkala, peluang keuntungan tambahan, dan tingkat risiko yang relatif lebih terkendali.
Di antara daya tarik utamanya, kupon rutin menjadi alasan paling kuat mengapa obligasi banyak dilirik. Pembayaran umumnya dilakukan secara bulanan, tiga bulanan, atau enam bulanan, sehingga arus kas yang masuk lebih mudah diperkirakan.
Pada obligasi fixed rate, tingkat bunga tetap berlaku sampai jatuh tempo. Sementara itu, obligasi floating with floor mengikuti pergerakan tertentu, tetapi tetap memiliki batas bawah sehingga memberi perlindungan dari penurunan yang terlalu dalam.
Dalam referensi yang digunakan, kupon obligasi disebut berpotensi mencapai 6 sampai 7 persen per tahun. Angka ini terlihat kompetitif jika dibandingkan dengan deposito pada beberapa bank ternama di Indonesia yang berada di kisaran 3 sampai 4 persen, tergantung kondisi pasar.
Pajak Kupon yang Lebih Ringan
Selain jadwal pembayaran yang jelas, faktor pajak juga membuat obligasi makin menarik. Pajak kupon obligasi disebut hanya 10 persen, lebih rendah dibanding pajak deposito yang mencapai 20 persen.
Perbedaan ini membuat hasil bersih yang diterima investor bisa terasa lebih efisien. Karena itu, obligasi kerap dipandang bukan hanya sebagai instrumen aman, tetapi juga sebagai sumber pendapatan yang lebih efektif dari sisi pengenaan pajak.
Ada Ruang untuk Keuntungan Tambahan
Obligasi tidak berhenti pada kupon saja, karena instrumen ini juga membuka peluang capital gain. Peluang tersebut muncul pada obligasi tradable ketika harga jual di pasar sekunder lebih tinggi daripada harga beli.
Kondisi ini memberi kesempatan bagi investor untuk memperoleh keuntungan tambahan di luar imbal hasil rutin. Namun, peluang itu tetap diiringi risiko capital loss jika harga pasar justru turun di bawah harga beli.
Sifat tradable juga memberi keleluasaan bagi investor yang ingin mencairkan dana sebelum jatuh tempo. Obligasi dapat dijual kembali di pasar sekunder, selama investor memahami ketentuan perdagangannya sejak awal.
Fleksibilitas ini penting bagi mereka yang ingin menjaga likuiditas portofolio. Dengan begitu, obligasi tidak hanya menjadi tempat menyimpan dana, tetapi juga bisa dikelola lebih aktif sesuai kebutuhan pasar.
Risiko Tetap Ada, tetapi Masih Lebih Terkendali
Dalam kelompok instrumen pendapatan tetap, obligasi umumnya masuk kategori risiko sedang atau moderat. Jika dibandingkan dengan saham, tingkat risikonya dinilai lebih rendah, meski tingkat keamanan tiap obligasi tetap berbeda-beda.
Obligasi pemerintah disebut paling aman karena pembayaran pokok dan kupon dijamin negara. Jaminan tersebut memberi kepastian atas pengembalian dana sekaligus pembayaran imbal hasil sesuai ketentuan produk.
Pada obligasi korporasi, investor perlu memperhatikan peringkat dari lembaga pemeringkat resmi. Semakin rendah peringkatnya, semakin besar risikonya, sedangkan obligasi dengan grade yang lebih tinggi biasanya lebih cocok bagi investor yang berhati-hati.
Karena itu, pilihan obligasi sebaiknya disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing investor. Bagi profil konservatif, obligasi pemerintah atau obligasi korporasi berperingkat tinggi sering dianggap lebih selaras dengan kebutuhan perlindungan modal.
Dengan kupon yang rutin, peluang capital gain, dan risiko yang relatif lebih terkendali, obligasi tetap relevan untuk investor yang ingin membangun pendapatan pasif sekaligus menjaga keseimbangan portofolio. Pemahaman terhadap jenis kupon, potensi selisih harga, dan peringkat risiko menjadi bekal penting sebelum membeli instrumen ini.
Source: finansial.bisnis.com