Serangan terbaru Rusia ke Kyiv menewaskan sedikitnya 9 orang dan melukai 46 lainnya, termasuk sedikitnya 5 anak. Rudal balistik menghantam beberapa bangunan di seluruh kota dan memicu kebakaran di sejumlah kompleks apartemen.
Tim penyelamat berpacu menyisir reruntuhan blok apartemen yang sebagian ambruk untuk mencari korban yang masih terjebak. Rekaman dari Kyiv memperlihatkan puing-puing yang masih mengepulkan asap, sementara mobil-mobil hangus tampak berserakan di jalan.
Kerusakan menyebar ke beberapa titik kota
Wali Kota Vitaly Klitschko mengatakan gudang dan sebuah bengkel garasi juga ikut rusak dalam gelombang serangan itu. Pemerintah kota menyebut serangan tersebut memukul sejumlah lokasi sekaligus, sehingga operasi darurat harus dilakukan di banyak titik.
Timur Tkachenko, administrator militer tertinggi Kyiv, menyampaikan bahwa proses pencarian korban belum selesai saat jumlah korban jiwa terus bertambah. Ia menyebut tim penyelamat masih bekerja pada Senin pagi untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di bawah puing.
Peringatan Zelensky terbukti benar
Beberapa jam sebelum serangan terjadi, Volodymyr Zelensky sudah memperingatkan bahwa Moskow menyiapkan serangan besar kedua ke ibu kota Ukraina setelah serangan pada Kamis yang menewaskan 30 orang. Pada Minggu, ia juga mengatakan intelijen menunjukkan Kyiv akan kembali diserang dalam gelombang berikutnya pada pekan yang sama.
Peringatan itu menjadi kenyataan ketika rentetan drone dan rudal menghantam pada malam sebelumnya. Puluhan ribu warga sempat mengungsi ke stasiun metro saat alarm berbunyi pada dini hari Jumat.
Ketegangan perang dan saling tuduh terus meningkat
Ukraina menuduh Moskow sengaja menargetkan area sipil dalam serangan yang menewaskan sedikitnya 30 orang. Rusia menyebut serangan balasannya diarahkan ke pangkalan militer dan fasilitas energi, sebagai respons atas serangan Ukraina terhadap stasiun listrik dan infrastruktur energi di wilayah Rusia.
Serangan juga berlanjut semalaman, dengan listrik padam sementara di Sevastopol yang dikuasai Rusia di Crimea. Rangkaian serangan ini menunjukkan eskalasi yang terus berlanjut di tengah perang yang belum mereda.
Tekanan diplomatik jelang pertemuan Nato
Gelombang serangan ke Kyiv datang tepat menjelang KTT Nato di Turki, ketika Zelensky dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump. Dalam situasi itu, Zelensky mendesak sekutu agar tidak menunda pengiriman rudal jarak jauh yang dibutuhkan Ukraina untuk melawan Rusia.
Ia menulis di X bahwa setiap penundaan atas rudal untuk pertahanan udara berarti hilangnya nyawa dan justru mendorong Rusia melanjutkan perang. Zelensky juga meminta Amerika Serikat memberi izin kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pertahanan Patriot di tengah tekanan serangan yang kembali menghantam jantung ibu kota.
