Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam menembus Rp3,40 triliun pada kuartal I/2026. Capaian itu naik 59,85% dibanding Rp2,13 triliun pada periode yang sama sebelumnya, dan menjadi sinyal kuat bahwa perbaikan efisiensi biaya ikut mengangkat profit perusahaan.
Kinerja tersebut muncul saat pendapatan Antam juga bergerak naik, tetapi kenaikannya jauh lebih cepat daripada beban pokok penjualan. Situasi ini membuat margin perusahaan membaik dan memberi ruang lebih besar bagi laba untuk tumbuh lebih agresif.
Pendapatan naik, beban tumbuh lebih lambat
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan Antam dari kontrak dengan pelanggan tercatat Rp29,32 triliun. Angka ini naik 12,12% secara tahunan dari Rp26,15 triliun.
Di sisi lain, beban pokok penjualan memang ikut meningkat, tetapi lajunya masih lebih rendah. Beban tersebut naik 5,29% menjadi Rp23,70 triliun dari sebelumnya Rp22,51 triliun.
Selisih pertumbuhan antara pendapatan dan beban pokok penjualan menjadi faktor penting yang mendorong kenaikan laba kotor. Dalam periode itu, laba kotor Antam mencapai Rp5,61 triliun, melonjak 54,45% dari Rp3,63 triliun pada kuartal I/2025.
Laba usaha terdorong perbaikan operasional
Penguatan pada laba kotor berlanjut ke level operasional. Laba usaha Antam tercatat lebih dari dua kali lipat dan mencapai Rp4,50 triliun, dibandingkan Rp2,69 triliun pada periode sebelumnya.
Kenaikan ini tetap terjadi meski beban usaha juga ikut naik 17,84% menjadi Rp1,11 triliun. Di saat yang sama, Antam membukukan penghasilan lain-lain sebesar Rp279 miliar, naik 14,75%, sehingga hasil operasional tetap terjaga kuat.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan tidak hanya berhenti di top line, tetapi juga berhasil diterjemahkan menjadi keuntungan yang lebih besar di level usaha.
Laba sebelum pajak ikut terdongkrak
Berlanjut ke bawah garis operasional, laba sebelum pajak penghasilan Antam juga menguat. Hingga akhir Maret 2026, nilainya mencapai Rp4,78 triliun atau tumbuh 62,95% dari Rp2,93 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan dan kendali biaya yang lebih baik memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga profitabilitas. Kondisi ini terlihat pada bottom line yang tetap melesat meski beban usaha dan liabilitas sama-sama meningkat.
Dengan hasil tersebut, awal tahun berjalan tercatat sebagai periode yang solid bagi Antam dari sisi kinerja keuangan.
Neraca ikut menunjukkan penguatan
Selain laba, posisi keuangan perusahaan juga memperlihatkan perbaikan. Total aset Antam tercatat Rp63,29 triliun, naik 20,49% secara year to date.
Ekuitas perusahaan juga meningkat menjadi Rp40,40 triliun, atau tumbuh 10,39% secara year to date. Sementara itu, total liabilitas berada di level Rp22,88 triliun dan naik 43,68% secara tahunan.
Rangkaian angka tersebut menggambarkan bahwa pertumbuhan Antam tidak hanya terlihat pada laba bersih, tetapi juga pada penguatan struktur keuangan perusahaan.
Awal tahun yang solid bagi Antam
Paduan antara pendapatan yang lebih tinggi, laba kotor yang melonjak, serta laba usaha yang menembus lebih dari dua kali lipat menjadi fondasi utama lonjakan laba bersih Antam ke Rp3,40 triliun. Kinerja kuartal I/2026 menunjukkan bahwa efisiensi biaya masih menjadi penopang penting di tengah ekspansi pendapatan perusahaan tambang pelat merah tersebut.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan Antam menjaga laju pendapatan sekaligus mempertahankan disiplin biaya. Keseimbangan antara ekspansi bisnis, pengendalian beban operasional, dan penguatan neraca akan menentukan keberlanjutan kinerja perusahaan pada periode berikutnya.







