Penyaluran kredit BRI pada kuartal I-2026 bergerak lebih cepat dari target yang telah ditetapkan. Total kredit mencapai Rp1.562 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan, jauh di atas proyeksi pertumbuhan tahunan yang berada di kisaran 7 hingga 9 persen.
Dorongan terbesar datang dari segmen mikro dan konsumer. Di dalamnya, penyaluran KUR mencapai Rp47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah, sementara FLPP menembus Rp17,13 triliun untuk 125 ribu nasabah.
Di saat ekspansi kredit kian agresif, kualitas pendanaan tetap memberi ruang yang nyaman bagi perseroan. Dana Pihak Ketiga BRI tercatat sebesar Rp1.555 triliun, dengan porsi dana murah mencapai 68,1 persen yang membantu menopang struktur biaya dana.
Kondisi itu ikut terlihat pada kinerja laba bersih perseroan. BRI membukukan laba Rp15,5 triliun, naik 13,74 persen secara tahunan, sehingga sinyal pemulihan perusahaan dinilai semakin menguat.
Dari sisi pendapatan, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar. Pendapatan bunga naik 5,94 persen menjadi Rp52,83 triliun, sementara beban bunga justru turun 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun.
Kombinasi tersebut membuat margin pendapatan bersih semakin tebal. BNI Sekuritas yang dikutip Suara.com menyebut pendapatan bunga bersih terkerek 11,9 persen menjadi Rp40,2 triliun, sejalan dengan naiknya Net Interest Margin sebesar 30 basis poin.
Kualitas aset masih menjadi perhatian
Meski ekspansi berlangsung cepat, manajemen risiko BRI masih berada dalam pengawasan ketat. Rasio biaya kredit tercatat di level 3,1 persen, sementara kualitas kredit mengalami penurunan tipis.
Rasio kredit bermasalah bruto naik menjadi 3,31 persen. Adapun NPL net berada di level 1,01 persen, sehingga pertumbuhan bisnis tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan aset yang disiplin.
Pada saat yang sama, skala bisnis perseroan juga terus membesar. Total aset BRI per Maret 2026 tumbuh 7,2 persen secara tahunan menjadi Rp2.205 triliun.
Minat investor ikut menguat
Di pasar modal, saham BBRI menarik perhatian sejumlah investor global. BlackRock, Goldman Sachs, dan Invesco Ltd tercatat melakukan akumulasi pembelian pada akhir April 2026.
Bloomberg Technoz melaporkan BlackRock menambah kepemilikan hingga 2,65 miliar saham atau setara 1,75 persen. Sejumlah analis menilai valuasi BRI masih atraktif karena rasio Price-to-Book Value berada di 1,4 kali, yang disebut sebagai level terendah dalam satu dekade terakhir.
Sucor Sekuritas bahkan memproyeksikan target harga saham BBRI bisa mencapai Rp5,200 per lembar dalam 12 bulan ke depan. Proyeksi itu didasarkan pada asumsi kualitas kredit dan likuiditas akan membaik pada 2026.
