Laba BUMI Berpeluang Menguat di Kuartal II 2026, Harga Newcastle Bertahan di Atas 115 Dolar

Author: Redaksi Android62

Harga batubara Newcastle yang sempat bergerak di kisaran US$114 hingga US$115 per ton pada Februari 2026 menjadi sinyal penting bagi PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Jika level itu bertahan di atas ambang psikologis US$110 per ton, ruang untuk perbaikan laba bersih perusahaan dinilai kian terbuka pada kuartal II 2026.

Daya dorong utama datang dari pasar Asia yang masih kuat, terutama India. Negara tersebut tetap bergantung pada batubara untuk pembangkit listrik sehingga kebutuhan impornya besar dan ikut menjaga sentimen positif di pasar.

Bagi BUMI, kondisi ini cukup signifikan karena harga acuan Newcastle sering menjadi dasar dalam penetapan harga jual kontrak yang mengikuti pasar. Ketika indeks ICE Newcastle menguat, harga jual rata-rata atau Average Selling Price pada kontrak yang bersifat mengambang juga berpeluang ikut naik.

Target volume dijaga stabil

Di tengah peluang harga yang lebih baik, manajemen BUMI menargetkan volume penjualan tetap stabil di kisaran 77 juta hingga 78 juta ton sepanjang 2026. Langkah ini menunjukkan perusahaan tidak hanya mengejar kenaikan harga, tetapi juga berusaha menjaga keseimbangan antara jumlah penjualan dan margin.

Strategi tersebut penting karena pasar batubara masih bergerak fluktuatif. Dengan volume yang terjaga, dampak penguatan harga Newcastle bisa lebih terasa terhadap pendapatan dan laba bersih.

BUMI juga membawa modal dari kinerja tahun sebelumnya yang sudah membaik. Perusahaan mencatat laba bersih naik 20,1 persen menjadi US$81 juta, ditopang efisiensi operasional serta pengelolaan tambang yang lebih baik.

Efisiensi operasi ikut menopang

Salah satu tanda perbaikan terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 8 kali. Pada periode yang sama, total produksi mencapai 74,8 juta metrik ton, menunjukkan perusahaan masih mampu menjaga produktivitas di tengah tekanan biaya.

Capaian itu memberi landasan yang lebih kuat bagi BUMI untuk menghadapi kuartal II 2026. Jika harga Newcastle bertahan tinggi dan pengiriman tetap stabil, laba bersih berpotensi terdorong lebih jauh.

Meski begitu, peluang tersebut tetap dibayangi sejumlah pembatas. BUMI wajib menjalankan Domestic Market Obligation atau DMO, yakni menyalurkan 25 persen dari total produksi untuk kebutuhan dalam negeri.

Harga batubara untuk pembangkit listrik domestik juga dipatok pemerintah sebesar US$70 per ton. Ketentuan ini membuat perusahaan tidak dapat menikmati kenaikan harga global pada seluruh volume produksinya.

Porsi ekspor yang masih besar membuat laba BUMI tetap sensitif terhadap perubahan harga Newcastle. Karena itu, penguatan harga acuan global masih menjadi faktor yang sangat menentukan arah kinerja keuangan emiten tambang tersebut.

Risiko tetap perlu dicermati

Selain aturan pasar dan kebijakan domestik, risiko operasional juga masih membayangi. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memengaruhi beban usaha, sementara kondisi cuaca berpotensi mengganggu produksi serta distribusi.

Curah hujan tinggi di Kalimantan menjadi salah satu risiko yang diperhatikan karena dapat menghambat kegiatan tambang dan pengiriman. Di sisi lain, kebijakan pemangkasan kuota produksi nasional juga bisa membatasi ruang untuk mengejar target volume yang sudah ditetapkan perusahaan.

Dengan harga Newcastle yang bergerak di atas US$114 per ton, permintaan Asia yang masih kuat, serta target penjualan yang dijaga stabil, BUMI memiliki peluang menjaga tren perbaikan laba bersih pada kuartal II 2026. Arah akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya, mempertahankan pengiriman, dan menavigasi pasar yang masih berubah cepat.

Berita Terbaru