PT Palma Serasih Tbk atau PSGO menutup kinerja dengan pendapatan yang menembus Rp2,55 triliun. Di saat industri kelapa sawit masih bergerak fluktuatif, perusahaan ini justru mampu menjaga laju bisnisnya tetap solid.
Laba bersih PSGO juga ikut naik 26,3 persen menjadi Rp442,8 miliar dari Rp350,6 miliar pada 2024. Kenaikan itu memperlihatkan bahwa penguatan operasional dan disiplin biaya masih menjadi penopang utama profitabilitas perseroan.
Produktivitas jadi penentu utama
PSGO menilai peningkatan produktivitas perkebunan menjadi faktor paling penting di balik lonjakan kinerja tersebut. Operasional yang lebih efisien ikut membantu menjaga margin dan membuat hasil keuangan tetap kuat.
Perusahaan membukukan EBITDA sebesar Rp752,3 miliar dengan margin 29,5 persen. Angka ini menunjukkan kemampuan PSGO menjaga performa keuangan meski tekanan pasar komoditas dan dinamika global masih menantang.
Dari sisi produksi, volume Tandan Buah Segar atau TBS inti mencapai 355,2 ribu ton. Sementara itu, produksi Crude Palm Oil atau CPO tercatat sebesar 140,2 ribu ton.
Produktivitas TBS inti berada di level 17,8 ton per hektar. PSGO menyebut capaian itu masih berpeluang meningkat seiring umur tanaman yang bergerak menuju masa prima produksi.
Langkah operasional yang lebih disiplin
Direktur dan Sekretaris Perusahaan PSGO, Astrida Niovita Bachtiar, menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan bergantung pada manajemen terbaik dan efisiensi operasional. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan aset yang optimal serta komitmen pada praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Untuk 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Strategi itu juga akan didorong lewat ekspansi usaha secara selektif, konsistensi praktik agrikultur terbaik, dan penguatan program keberlanjutan di seluruh lini operasional.
PSGO merupakan perusahaan terintegrasi dengan lebih dari 28 ribu hektar area tertanam inti dan plasma. Seluruh operasinya terpusat di Kalimantan Timur, sehingga produktivitas perkebunan di wilayah tersebut menjadi penopang penting bagi kinerja perseroan.
Keberlanjutan tetap dijaga
Di tengah fokus pada hasil usaha, PSGO juga mempertahankan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation atau NDPE di seluruh operasionalnya. Perusahaan turut mengalokasikan area bernilai konservasi tinggi untuk dilindungi serta menjalankan pengelolaan bentang alam secara kolaboratif, termasuk di Kawasan Wehea-Kelay.
PSGO juga bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation dan The Nature Conservancy. Kolaborasi tersebut mencakup program konservasi dan rehabilitasi habitat orangutan sebagai bagian dari perlindungan biodiversitas.
Di sisi sosial, kemitraan petani plasma yang dimulai sejak 2009 terus dikembangkan. Perusahaan juga mendorong pemberdayaan masyarakat lokal melalui berbagai inisiatif ekonomi dan dukungan infrastruktur sosial, termasuk di sektor pendidikan sekitar wilayah operasional.
Untuk menjaga standar operasional berkelanjutan, PSGO telah memperoleh dan mempertahankan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO untuk kebun inti serta secara bertahap untuk kebun plasma. Perseroan juga memegang sertifikasi internasional lain seperti ISCC dan GGL.
Astrida menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi fondasi dalam setiap keputusan strategis perusahaan. Dengan dasar kinerja yang sudah terbentuk, PSGO menempatkan produktivitas, efisiensi, dan praktik bisnis berkelanjutan sebagai penopang utama untuk menjaga performa ke depan.
Source: www.suara.com






