Laba bersih PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) melonjak tajam pada kuartal I/2026 dan menandai awal tahun yang jauh lebih kuat bagi bank digital tersebut. SimInvest Research mencatat laba bersih perseroan mencapai Rp78 miliar, naik dari Rp251 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja itu juga melesat dibanding kuartal IV/2025, ketika laba Superbank berada di posisi Rp40 miliar. Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi bisnis bank digital ini mulai memberi hasil yang lebih nyata ke bawah garis laba.
PAS Mengangkat Pertumbuhan Kredit
Pendorong utama kenaikan itu datang dari kredit langsung melalui produk Pinjaman Atur Sendiri atau PAS. Menurut analis SimInvest, Ivan Purnama Putera, produk ini kini menjadi mesin pertumbuhan utama perseroan.
Pada akhir Maret 2026, portofolio kredit Superbank tumbuh 50,3% secara tahunan menjadi Rp11,43 triliun. Dari total itu, PAS menyumbang sekitar 12% dan penyalurannya naik hampir empat kali lipat menjadi sekitar Rp1,5 triliun per kuartal.
Jumlah nasabah penerima pinjaman juga meningkat signifikan menjadi lebih dari 424.000 dari sekitar 100.000 pada tahun sebelumnya. Perkembangan itu memperlihatkan bahwa produk PAS mulai menjangkau basis pengguna yang jauh lebih besar.
Ekosistem Grab dan OVO Memperluas Akses
Ekspansi PAS semakin terdorong setelah layanan itu terintegrasi ke dalam ekosistem Grab dan OVO sejak Oktober 2025. SimInvest mencatat aplikasi pinjaman melalui Grab naik 48%, sedangkan melalui OVO melonjak 134%.
Integrasi tersebut membantu memperluas akses pengguna sekaligus memperkuat jalur distribusi kredit digital. Bagi Superbank, kekuatan ekosistem ini menjadi salah satu modal penting untuk mempertahankan laju pertumbuhan.
| Indikator | 1Q2025 | 1Q2026 | Perubahan YoY |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Bunga (Rp miliar) | 366 | 725 | ▲ 98% |
| Pendapatan Bunga Bersih / NII (Rp miliar) | 264 | 504 | ▲ 91% |
| Pendapatan Operasional (Rp miliar) | 284 | 533 | ▲ 88% |
| Laba Operasional Sebelum Pencadangan / PPOP (Rp miliar) | 56 | 228 | ▲ 305% |
| Laba Bersih (Rp miliar) | 0,25 | 78 | ▲ 31.051% |
| Net Interest Margin (NIM) | 8,7% | 9,2% | +54 bps |
| Total Kredit (Rp triliun) | 7,60 | 11,43 | ▲ 50,3% |
| Dana Pihak Ketiga (Rp triliun) | 7,08 | 14,44 | ▲ 103,9% |
| Current Account (Rp miliar) | 92 | 514 | ▲ 457,8% |
| Tabungan (Rp triliun) | 1,39 | 2,52 | ▲ 82,2% |
| Deposito (Rp triliun) | 5,61 | 11,41 | ▲ 103,4% |
| Loan to Deposit Ratio (LDR) | 107,3% | 79,1% | ▼ 28,2 poin |
Pendapatan Naik, Aset Mulai Lebih Sehat
Di sisi pendapatan, Superbank mencatat pendapatan bunga naik 98% secara tahunan menjadi Rp725 miliar. Pendapatan bunga bersih atau NII juga naik 91% menjadi Rp504 miliar, sementara margin bunga bersih tetap tinggi di level 9,2%.
Pendapatan operasional ikut meningkat 88% menjadi Rp533 miliar. Selain itu, laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP melesat 305% menjadi Rp228 miliar, menandakan daya dorong bisnis inti masih kuat.
Kualitas aset juga membaik. Rasio kredit bermasalah atau NPL turun menjadi 2,0% pada kuartal I/2026 dari 2,3% pada periode yang sama tahun lalu, meski cost of credit naik menjadi 4,9%.
Manajemen menargetkan rasio pencadangan kredit bermasalah tetap berada di kisaran 180% hingga 200% sepanjang tahun. Bagi bank digital yang banyak menyalurkan pinjaman bernilai kecil dengan tenor pendek, pengelolaan pencadangan tetap menjadi faktor penting.
Dana Pihak Ketiga Meningkat Tajam
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga naik 103,9% secara tahunan menjadi Rp14,44 triliun. Kenaikan itu terutama ditopang deposito berjangka yang lebih dari dua kali lipat, disertai tabungan yang juga tumbuh kuat.
Rasio loan to deposit ratio turun ke 79,1% dari 107,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menandakan posisi likuiditas yang jauh lebih sehat dan memberi ruang pendanaan yang lebih nyaman bagi ekspansi kredit.
Meski begitu, SimInvest memperkirakan biaya dana masih akan berada di kisaran 6% hingga 7% sepanjang 2026. Kondisi itu berpotensi menekan margin bunga pada semester II di tengah pengetatan likuiditas industri perbankan.
Prospek Masih Menarik, Namun Risiko Tetap Melekat
SimInvest menilai prospek jangka menengah Superbank masih menarik, terutama jika porsi kredit PAS dapat diperbesar hingga sekitar 20% dari total portofolio pada tahun depan. Dalam skenario itu, laba perseroan dinilai berpeluang tumbuh lebih cepat dalam dua tahun ke depan.
Kolaborasi dengan Grab dan OVO juga dianggap memperluas basis nasabah sekaligus memperkuat diversifikasi portofolio kredit dan sumber pendanaan. Namun, risiko yang perlu dicermati tetap sama, yaitu tingginya biaya dana, potensi kenaikan biaya kredit, dan penurunan kualitas aset bila kondisi industri memburuk.
Profil Superbank
PT Super Bank Indonesia Tbk adalah bank digital yang menargetkan segmen ritel, UMKM, serta masyarakat underbanked dan unbanked melalui integrasi layanan keuangan dengan platform digital. Model ecosystem banking yang dijalankan memungkinkan nasabah mengakses tabungan, deposito, pembayaran, hingga pinjaman digital tanpa berpindah aplikasi.
Transformasi perusahaan dimulai pada 2021 setelah diakuisisi oleh Grup Emtek. Pada 2022, Grab dan Singtel masuk sebagai investor strategis, disusul konsorsium yang dipimpin KakaoBank pada 2023.
Perseroan kemudian melakukan rebranding menjadi Superbank pada Februari 2023 dan meluncurkan aplikasi perbankan digital untuk publik pada Juni 2024. Hingga 30 Juni 2025, Superbank memiliki sekitar 4 juta pengguna aktif, naik tajam dari April 2024 yang masih kurang dari 20.000 pengguna.
Sebagian besar pengguna itu berasal dari ekosistem Grab dan OVO, yang menyumbang sekitar 64,4% dari total pengguna aktif. Kekuatan ekosistem inilah yang kini menjadi modal utama SUPA untuk menjaga pertumbuhan kredit dan laba tetap berlanjut.
