Lamine Yamal Raih Piala Dunia, Apartemen Sempit Sang Ibu Jadi Kisah di Baliknya

Author: Redaksi Android62

Keberhasilan Lamine Yamal membawa Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026 tidak hanya menyoroti pencapaiannya di lapangan. Perjalanan itu juga mengangkat kisah masa kecilnya yang dijalani bersama ibu di apartemen kecil di Granollers.

Pada usia 19 tahun, Yamal tampil di panggung terbesar sepak bola dengan dukungan kedua orang tuanya dari tribun final pada Minggu, 19 Juli. Mounir Nasraoui dan Sheila Ebana tetap hadir dalam momen penting putra mereka meski telah berpisah sejak Yamal berusia tiga tahun.

Kebahagiaan Keluarga Menjadi Pendorong

Bagi Yamal, pencapaian sepak bola berkaitan erat dengan perubahan kehidupan keluarganya. Ia menempatkan Sheila sebagai sosok yang paling penting dalam hidupnya setelah melewati masa sulit bersama.

“Bagi saya, ibu adalah ratu dan orang yang paling saya sayangi,” kata Yamal. Ia mengenang masa ketika dapur dan kamar tidur berada dalam satu ruangan di apartemen kecil yang mereka tempati.

Kini, kebahagiaan sang ibu dan masa kecil adiknya menjadi hal yang paling berarti bagi pemain tersebut. “Sekarang, melihat ibu saya bahagia dan adik saya bisa memiliki masa kecil yang saya impikan, itulah yang membuat saya paling bahagia,” ujarnya.

Tokoh Hubungan Informasi Utama
Mounir Nasraoui Ayah Berasal dari Maroko dan tiba di Catalonia saat masih anak-anak.
Sheila Ebana Ibu Berasal dari Guinea Ekuatorial dan pernah bekerja di restoran cepat saji.
Keyne Adik tiri Berusia tiga tahun dan beberapa kali memberi dukungan dari tribun.

Kerja Keras Sheila untuk Yamal

Setelah berpisah dari Mounir, Sheila membesarkan Yamal di kota kecil Granollers di timur laut Barcelona. Menurut laporan The Athletic yang dikutip CNBC Indonesia, Sheila pernah bekerja di restoran cepat saji untuk memenuhi kebutuhan putranya.

Masa tersebut berlangsung sebelum Yamal menempuh jalur pembinaan di La Masia, akademi Barcelona. Ia masuk ke akademi itu saat berusia 12 tahun dan mencatatkan debut profesional bersama Barcelona tiga tahun kemudian.

Perkembangan cepat itu membuat Yamal melangkah dari sepak bola usia muda menuju level tertinggi. Namun, kisah keluarganya menunjukkan bahwa karier tersebut dibangun melalui dukungan yang telah hadir jauh sebelum ia tampil sebagai pemain profesional.

Jejak Imigran di Catalonia

Yamal lahir pada 13 Juli 2007 di dekat Barcelona, Spanyol. Ayahnya berasal dari Maroko, sedangkan ibunya memiliki akar keluarga dari Guinea Ekuatorial.

Dalam podcast Resonancia de Corazón con José Ramón de la Morena, Yamal menceritakan perjuangan nenek dari pihak ayah yang lebih dahulu tiba di Mataro. Sang nenek disebut menyelinap naik bus dari Maroko sebelum bekerja tiga shift agar Mounir dapat menyusul ke Spanyol.

Setelah mengumpulkan uang, nenek Yamal membayar seorang perempuan untuk membawa Mounir dan saudara perempuannya, yang ketika itu berusia tiga tahun. Kisah tersebut menjadi bagian dari perjalanan keluarga imigran yang membangun kehidupan baru di Catalonia.

Mounir dan Sheila kemudian bertemu di Barcelona ketika sama-sama masih remaja. Meski tidak lagi hidup bersama, keduanya disebut menjaga hubungan baik dan tetap memberikan dukungan kepada Yamal.

Kedekatan dengan Keyne

Yamal juga memiliki ikatan kuat dengan Keyne, adik tirinya dari pernikahan baru sang ibu. Bocah itu beberapa kali terlihat mendukungnya dari kursi penonton dalam pertandingan penting.

Dalam konferensi pers yang dikutip The Athletic, Yamal mengungkapkan besarnya arti sang adik. “Adik laki-laki saya berarti segalanya bagi saya. Rasanya seperti dia anak saya sendiri,” ujar Yamal.

Dari apartemen kecil di Granollers hingga final Piala Dunia, keluarga tetap menjadi bagian utama dalam perjalanan Yamal. Dukungan ibu, ayah, nenek, dan adiknya memberi konteks personal pada capaian besar yang diraihnya bersama Spanyol.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru