Laporan Harta Bobby Rasyidin Tersingkap, Publik Menyorot Sosoknya Seusai Tragedi KRL Bekasi Timur

Laporan harta kekayaan Bobby Rasyidin kembali menjadi perhatian setelah namanya ikut ramai dibicarakan usai tragedi kecelakaan KA Argo Bromo dan KRL di petak Stasiun Bekasi Timur. Dalam arsip e-LHKPN Komisi Pemberantasan Korupsi, Bobby tercatat sudah menyampaikan laporan kekayaannya sebanyak lima kali, dan data terbarunya menunjukkan total kekayaan sebesar Rp37.838.318.258.

Rincian laporan itu ikut memperlihatkan komposisi harta Bobby. Aset tanah dan bangunan tercatat senilai Rp21.012.580.500, disusul alat transportasi dan mesin Rp4.743.578.139, harta bergerak lainnya Rp2.445.226.800, kas dan setara kas Rp9.202.534.739, serta harta lainnya Rp1.399.427.455.

Di sisi lain, laporan tersebut juga mencatat tidak ada surat berharga. Adapun utang Bobby tercantum sebesar Rp860.029.375, sehingga total harta yang dilaporkan tetap menjadi salah satu bagian yang paling banyak disorot publik setelah insiden tersebut mencuat luas.

Sorotan terhadap Bobby tidak lepas dari posisinya sebagai Direktur Utama PT KAI saat perusahaan yang dipimpinnya terdampak langsung oleh peristiwa itu. Tragedi di Bekasi Timur disebut menimbulkan duka besar karena dilaporkan menyebabkan 15 orang tewas dan puluhan korban luka yang harus dirawat intensif di rumah sakit.

Nama Bobby lalu ikut ramai di media sosial setelah sebuah foto yang memperlihatkan dirinya di lokasi kejadian beredar luas. Dalam potret itu, Bobby tampak duduk lesu di samping bangkai KRL, mengenakan pakaian yang terlihat lusuh dan tergulung, lalu bersandar di tiang peron.

Reaksi warganet pun mengalir deras setelah foto tersebut tersebar. Penampilan Bobby di lokasi tragedi dinilai banyak pihak jauh dari kesan formal seorang pucuk pimpinan BUMN, sehingga perhatian publik tidak hanya tertuju pada kejadian kecelakaannya, tetapi juga pada sosok yang terlihat berada langsung di titik peristiwa.

Di tengah derasnya sorotan, Bobby juga disebut sempat menyampaikan kronologi kejadian melalui media sosial dalam materi yang beredar. Hal itu semakin membuat namanya terhubung erat dengan pembahasan publik mengenai tragedi yang terjadi di Bekasi Timur.

Jejak pendidikan dan karier Bobby kemudian ikut kembali ditelusuri publik. Ia lahir di Padang, Sumatera Barat, lalu menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung dan lulus pada 1996 dari jurusan Teknik Telekomunikasi.

Setelah itu, Bobby melanjutkan studi magister di luar negeri. Ia meraih Master of Psychology Management di Naperville dan juga Master of Business Administration dari The University of New South Wales yang selesai pada 2000.

Karier profesionalnya disebut menanjak sejak usia muda. Bobby pernah dipercaya menduduki posisi puncak PT Alcatel Lucent, Prancis, saat berusia 38 tahun, sebuah catatan yang memperkuat gambaran pengalamannya di dunia industri dan manajemen.

Sebagai pejabat yang lama berkecimpung di lingkungan BUMN dan perusahaan besar, Bobby juga pernah memegang sejumlah jabatan penting. Riwayat itu mencakup Direktur Utama PT Teknologi Riset Global Investama pada 2016, Komisaris Utama PT LEN Telekomunikasi Indonesia pada 2016-2019, serta Komisaris Utama PT Akses Prima Indonesia pada 2016-2021.

Selain itu, ia pernah menjabat Komisaris Utama PT Indonesian Cloud pada 2019-2021, Komisaris Independen PT GMF Aero Asia Tbk. sejak Juni 2020, Direktur Utama PT LEN Industri (Persero) pada 2021-2025, dan Direktur Utama PT KAI pada 2025 – selesai.

Rangkaian pengalaman tersebut membuat nama Bobby cepat menjadi pusat perhatian ketika tragedi KRL Bekasi Timur menjadi pembahasan nasional. Publik pun tidak hanya melihat dampak kecelakaannya, tetapi juga menyoroti rekam jejak jabatan serta laporan kekayaan yang kini ikut terbawa dalam sorotan luas.

Source: www.suara.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer