Laut Rusak, Remora Penuh Luka, Oni Jouska Membaca Keterasingan Manusia Dengan Lirih

Author: Redaksi Android62

Oni Jouska menempatkan laut bukan sekadar sebagai latar cerita, melainkan sebagai ruang yang menyimpan luka, ingatan, dan jejak kerusakan. Dari titik itu, novel karya Asep Ardian ini bergerak pelan untuk memperlihatkan bagaimana hubungan manusia dengan alam bisa retak tanpa harus diumumkan secara keras.

Kesan yang muncul justru datang dari suasana yang tenang, dialog yang lirih, dan pengalaman tokoh yang merasa asing di habitatnya sendiri. Karena itu, kritik ekologis dalam novel ini tidak tampil sebagai seruan langsung, tetapi sebagai tekanan yang mengendap di sepanjang cerita.

Laut yang membawa bekas manusia

Di dalam cerita, laut digambarkan sebagai dunia yang sudah terkena pencemaran dan sampah. Jejak kerusakan itu tidak hanya mengganggu biota, tetapi juga membuat ruang hidup para tokohnya terasa makin rapuh.

Pendekatan seperti ini membuat persoalan lingkungan terasa dekat. Dampak ulah manusia hadir lewat keseharian, bukan lewat penjelasan panjang atau nada menggurui.

Oni sebagai tokoh yang terasing

Tokoh utamanya adalah Oni, ikan remora yang dianggap berbeda karena tidak bisa menempel pada makhluk lain seperti remora pada umumnya. Perbedaan itu menjadikan Oni sosok yang tidak sepenuhnya diterima di komunitasnya.

Dari situ, novel membuka lapisan lain yang berbicara tentang identitas, kegunaan, dan pencarian tempat hidup. Oni tidak hanya hadir sebagai ikan yang berusaha bertahan, tetapi juga sebagai simbol keterasingan yang dekat dengan pengalaman manusia modern.

Kritik sosial yang tidak meledak, tetapi menetap

Jejak manusia di dalam cerita hampir tidak pernah muncul secara langsung. Namun pengaruhnya tetap kuat karena terasa dalam sampah, pencemaran, dan perubahan ekosistem yang mengganggu kehidupan laut.

Asep Ardian memilih nada yang lembut dan tidak satir. Akibatnya, kritik sosial dalam novel ini tidak menghantam pembaca secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan dan meninggalkan renungan.

Lapisan legenda di dalam dunia laut

Novel ini juga memadukan laut dengan legenda, ingatan turun-temurun, paus, klan-klan ikan, dan kisah tentang nabi-nabi. Unsur-unsur itu memberi lapisan mitologis yang memperkaya cerita tanpa menggeser fokus ekologisnya.

Kehadiran lapisan tersebut memperkuat kesan bahwa laut menyimpan sejarah panjang yang terus bergerak bersama perubahan zaman. Hubungan antargenerasi pun ikut menonjol karena tokoh-tokohnya hidup di ruang yang sudah tidak sama seperti dulu.

Bahasa yang mengajak membaca pelan

Gaya bahasa yang dipakai cenderung reflektif dan simbolik. Beberapa bagian bahkan terasa seperti renungan tentang hidup dan kematian, sehingga buku ini lebih cocok dibaca dengan tempo perlahan.

Karakter itu membuat Oni Jouska tidak mengejar ketegangan sebagai tujuan utama. Kekuatan novel justru ada pada atmosfer, simbol, dan lapisan makna yang dibangun sedikit demi sedikit.

Buku ini diterbitkan oleh Marjin Kiri dengan cetakan pertama Mei 2026. Oni Jouska ditulis Asep Ardian, diedit Prihandini Nur Rahmah, ditata letak Ashari Ramadana, dan memiliki 132 halaman dengan QRCBN 62-6771-2790-699. Novel ini menunjukkan bahwa isu lingkungan bisa dibaca lewat sastra yang lembut, tetapi tetap tajam dalam memperlihatkan luka manusia dan retaknya hubungan dengan alam.

Source: lifestyle.bisnis.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru