Laut memang mendominasi permukaan Bumi, dan itu bukan kebetulan. Dari sekitar 361 juta kilometer persegi permukaan planet ini, wilayah yang tertutup air jauh lebih luas dibanding daratan yang hanya sekitar 149 juta kilometer persegi.
Pola itu membuat Bumi tampak biru dari luar angkasa. Keadaan tersebut lahir dari bentuk permukaan planet, perbedaan sifat kerak, dan proses geologi yang bekerja sangat lama.
Kerak yang menentukan tempat air berkumpul
Salah satu alasan utama air lebih banyak terlihat di Bumi adalah perbedaan tinggi-rendah permukaan yang dibentuk kerak. Kerak benua tersusun dari batuan granit yang lebih ringan dan lebih tebal, dengan ketebalan sekitar 30–50 kilometer.
Sebaliknya, dasar samudra tersusun dari batuan basalt yang lebih padat dan lebih tipis, hanya sekitar 5–10 kilometer. Karena lebih berat, bagian dasar samudra berada lebih rendah dan membentuk cekungan besar yang mudah terisi air.
Kondisi itu membuat air seperti terkumpul di mangkuk raksasa. Gravitasi juga mendorong air mengalir ke wilayah yang lebih rendah, sehingga laut dan samudra menjadi tempat paling luas untuk menampungnya.
Air jauh lebih luas daripada daratan
Dominasi air tidak hanya terlihat pada luas permukaannya, tetapi juga pada volume. Total volume air di Bumi mencapai sekitar 1,335 miliar kilometer kubik, sementara volume kerak daratan sekitar 1,067 miliar kilometer kubik.
Rata-rata kedalaman laut mencapai 3,7 kilometer, sedangkan rata-rata ketinggian daratan hanya sekitar 0,84 kilometer di atas permukaan laut. Wilayah dangkal seperti landas kontinen juga ikut memperbesar cakupan lautan.
Artinya, laut bukan hanya menyebar di area yang luas. Laut juga punya ruang yang sangat besar untuk menampung air dibandingkan daratan.
Sebagian besar air bukan air tawar
Meski Bumi terlihat kaya air, sebagian besar air itu bukan air yang mudah digunakan. Sekitar 97 persen air di Bumi berupa air laut yang asin.
Hanya sekitar 3 persen yang merupakan air tawar, dan jumlah itu pun tidak seluruhnya tersedia secara langsung. Sekitar 68 persen air tawar tersimpan dalam es dan gletser, sekitar 30 persen berada di bawah tanah, sedangkan sisanya tersebar sangat kecil di sungai, danau, dan udara.
Karena itu, meskipun planet ini tampak penuh air, porsi air yang mudah dimanfaatkan sebenarnya sangat terbatas.
Proses geologi menjaga pola ini tetap bertahan
Bumi tidak langsung memiliki susunan seperti sekarang. Planet ini telah mengalami perubahan besar sejak terbentuk sekitar 4 miliar tahun lalu.
Air diperkirakan berasal dari tabrakan komet dan asteroid yang membawa es, lalu diperkuat oleh aktivitas vulkanik yang melepaskan uap air ke atmosfer. Saat kerak Bumi mendingin, lautan mulai terbentuk di permukaan.
Setelah itu, tektonik lempeng ikut bekerja terus-menerus. Subduksi dan letusan gunung berapi mendaur ulang kerak planet, sementara air juga bisa masuk ke mantel melalui zona subduksi lalu kembali keluar lewat aktivitas vulkanik.
Sebaran daratan dan air tidak sama di setiap belahan
Pembagian daratan dan air di Bumi juga tidak merata. Belahan Bumi utara memiliki sekitar 40 persen daratan, sedangkan belahan selatan hanya sekitar 20 persen daratan.
Ketimpangan ini membuat satu belahan tampak lebih kaya laut, sementara belahan lain memiliki daratan yang lebih luas. Namun secara keseluruhan, air tetap menjadi unsur yang paling dominan di permukaan planet.
Susunan itu berpengaruh besar pada iklim dan cuaca karena lautan menyimpan dan menyebarkan panas dalam skala luas. Di saat yang sama, daratan tetap muncul sebagai ruang bagi kehidupan untuk berkembang di luar lingkungan air.
Mengapa susunan ini penting bagi kehidupan
Dominasi air juga berkaitan erat dengan kelayakhunian Bumi. Lautan membantu mengatur suhu, sementara fitoplankton di laut menghasilkan sekitar 50–80 persen oksigen dunia.
Kombinasi antara lautan yang luas, daratan yang tetap muncul, dan siklus geologi yang terus berjalan membuat Bumi berada dalam kondisi yang mendukung kehidupan. Air mengisi cekungan besar di permukaan planet, sementara daratan tetap berada lebih tinggi di atasnya.
Susunan inilah yang membuat Bumi tetap dikenal sebagai planet biru, sekaligus menjelaskan mengapa air jauh lebih dominan daripada daratan.
Source: www.idntimes.com